Buya AR Sutan Mansur: Muhammadiyah Adalah Gerakan Iman

Buya AR Sutan Mansur
Buya AR Sutan Mansur Dok Pusdalit SM

Tercatat selama masa kepemimpinannya dua periode (1953-1959) Sutan Mansur berhasil merumuskan khittah (garis perjuangan) Muhammadiyah. Antara lain mencakup usaha-usaha menanamkan dan mempertebal jiwa tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyuk dan tawadlu, mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, menggerakkan organisasi dengan penuh tanggung jawab, memberikan contoh dan suri tauladan kepada umat, konsolidasi administrasi, mempertinggi kualitas sumber daya manusia, serta membentuk kader handal.

Dalam bidang fikih, Sutan Mansur dikenal sangat toleran. Dia misalnya tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (hukum agama yang tidak pokok). Hasil Putusan Tarjih Muhammadiyah dipandangnya hanya sebagai sikap organisasi Muhammadiyah terhadap suatu masalah agama, itu pun sepanjang belum ditemukan pendapat yang lebih kuat. Karenanya HPT menurut dia tidak mengikat anggota Muhammadiyah.

Kecintaan beliau terhadap Muhammadiyah tidak pudar terbawa arus jaman dan usia. Ketika tidak lagi sebagai Ketua PP Muhammadiyah, beliau menjadi penasehat PP Muhammadiyah sampai beliau wafat.  Pada saat serah terima Ketua PB Muhammadiyah dari Ki Bagus Hadikusumo kepada AR Sutan Mansur, dia menyampaikan, Kalau kita menengok ke belakang, tampaklah bahwa telah jauh perjalanan yang ditempuh oleh pergerakan Muhammadiyah ini, dia telah mempunyai pengalaman dalam zaman penjajahan Barat dan Timur; Muhammadiyah sekarang ibarat kapal yang tengah mengalami pelayaran di lautan negara merdeka dan akan terus melayari lautan persatuan bangsa-bangsa di dunia. Siapa tahu ditengah pelayaran yang begitu jauhnya akan melewati ombak-gelombang yang menggunung tinggi, yang badainya tetap saja mengancam lautan yang dilayari itu.

Siapakah yang dapat menjamin keselamatan kapal ini dalam pelayarannya itu? Saya hanya dapat berkata; La Haula wala quwwata illa billahil aliyil adhim. Tidak ada usaha, tidak ada kekuatan, selain perlindungan dan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar, dan perlindungan serta pertolongannya itu diletakkannya dalam syarat yang berujud “Iman” di dalam dada hamba-Nya. Iman yang tinggi nilainya, yakni iman yang aktif yaitu melahirkan sifatnya, bukan iman yang pasif, yaitu iman yang tidur atau lemah.

Baca Juga:   Ujian Spiritualitas Diri di Tengah Pandemi

Sebagaimana di masa yang lalu kita nyatakan bahwa: Muhammadiyah ini adalah gerakan iman, sekarang kita nyatakan lagi; Muhammadiyah adalah gerakan iman dan tetap gerakan iman.

Allah SwT menetapkan: siapa yang beriman kepada Allah, maka orang itulah yang diberi petunjuk hatinya, sebaliknya siapa yang tidak iman atau ragu, akan digelapkan cahaya dihadapannya. Digelapkan perasaan dan pikirannya, dan langsung terjun menuju jurang kesengsaraan yang dalam; jurang kesengsaraan karena kemurkaan Ilahi; siapa yang akan membela, kalau Allah SwT telah marah, siapa yang akan menghinakan kalau Allah cinta padanya. Demikianlah yang telah sama-sama kita yakini dan sama-sama kita rasakan dalam perjalanan kita yang begitu lama.

Sekarang ini, Muhammadiyah terus melangkah menuju keridhoan Ilahi dengan memegang sinar hidayat yang diamanatkan kepada kita sekalian dan kepada seluruh hamba-Nya yang percaya dengan mengikuti jejak utusan Allah nabi besar Muhammad saw. Keridhoannya kita mohon, ampunan kita sembahkan, pintu taubat kita masuki, dan itulah jalan yang wajib ditempuh oleh orang-orang Mukmin.

Untuk itu, menurut AR Sutan Mansur kita harus melatih diri dengan beberapa sifat, diantaranya sebagai berikut:

  1. Usahakan merebut “Khasyyah” yaitu takut kepada kemurkaan Allah SwT, yang disebut juga dengan istilah takwa. Hendaklah sifat ‘khasyyah’ itu direbut, ditanam dalam hati, dalam perasaan dan dalam pikiran dan laksanakan wasiat-mewasiati, memegang teguh takwa itu walaupun terhadap Ketua Umum dari Pusat Pimpinan, walaupun kita adalah anggota Ranting yang jauh di daerah.
  2. Rebut waktu. Artinya, janganlah waktu itu dibiarkan berlalu, tidak dimanfaatkan, sebab berbagai peristiwa itu terjadi dalam waktu, kalau waktunya sudah pergi, maka peristiwa (kejadian) itupun turut pergi, dan datang waktu yang baru membawa kejadian baru yang harus dikerjakan pula.
  3. Wifa’bil’adhi, artinya penuhi janji. Orang yang memenuhi janji adalah orang yang menempuh jalan hidup mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharap keridhoan-Nya. Tuhan ridlo kepada mereka, dan mereka ridlo kepada Tuhan-Nya. Perbuatan pengingkaran janji adalah perbuatan yang sangat berbahaya, dia menjatuhkan harga diri, menghilangkan izzah, membinasakan nilai jiwa, dan Tuhan akan memberikan ganjaran kepada si pengingkar janji dengan hidup menderita dibawah kendali musuhnya. Berhati-hatilah dalam membuat janji, dan pikirkan baik dan buruknya.
  4. Tanamkan jiwa tauhid. Adapun ilmu tauhid hanyalah alat untuk mengetahui. Dalam mengetahui ‘Tauhid’ usahakan melatih jiwa tauhid itu di dalam diri, hingga jiwa tauhid itu menjadi permata dalam alam pikiran dan alam perasaan.
  5. Singkirkan tauhid yang bersifat kulit bukan isi.
Baca Juga:   RS UAD Ajak Lansia Bergembira

Yang pertama, kedua dan ketiga jalankan dengan Istiqomah, yang keempat dan kelima ambillah menjadi pedoman dan pelajaran, pengajian dan kursus hingga melahirkan kualitas yang baik. (Imron Nasri)