Memahami Isi Kalimat Perumpamaan Dalam Al-Qur’an

Perumpamaan
Foto Dok Ilustrasi

Memahami Isi Kalimat Perumpamaan Dalam Al Quran

Oleh : KH.M.Sun’an Miskan,Lc.

Perumpamaan merupakan jenis peribahasa yang mempunyai makna perbandingan, dengan menggunakan kata berupa : seperti, sebagai, bagai, laksana atau bak.

Contoh :

“ Seperti katak dalam tempurung “.

Maksudnya merasa besar dan benar sendiri karena tidak mau membanding dengan yang lain.

“ Bagai air di atas daun talas “.

Maksudnya orang yang mudah terombang–ambing dalam suatu keadaan.

“ Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading “.

Maksudnya orang besar/tenar bila mati meninggalkan jasa yang besar/dikenang. Jika baik, baik yang dikenang. Jika buruk ya buruk yang dikenang.

Sebuah peribahasa yang didalamnya ada bentuk perumpamaan biasanya mengungkapkan kebenaran, kebijakan atau pelajaran tentang morallitas berdasarkan akal sehat dan pengalaman.

Itulah sebabnya antar bahasa di dunia ini saling tukar menukar pemakainnya dengan cara diterjemahkan ke bahasanya masing–masing. Bahasa Inggris misalnya banyak menterjemah peribahasa peribahasa budaya lain dan sudah menjadi akrab juga di telinga kita, misalnya :

“ Opportunity only once “.

Maksudnya kesempatan datang hanya sekali. Ia berasal dari peribahasa bahasa Spanyol .

“ A clear conscience is soft pillow “.

Artinya : Hati nurani yang jelas adalah bantal yang lembut. Maksudnya rasa bersalah itu akan menghantuai dan rasa benar itu menimbulkan rasa damai. Ia berasal dari peribahahasa bahasa Perancis .

“ To call a man a thief gives him the right to be one “.

Artinya : Memanggil seorang pencuri dan memberinya salah satu haknya. Maksudnya ialah ia berlaku tidak adil dan itu nanti akan diulang lagi pada masa yang akan datang . Ini berasal dari pepatah Arab kuno.

Karena perumpamaan itu muncul dari suatu keadaan masyarakat dan sangat terpengaruh keadaannya . Maka dalam periode sastra Indonesia, Balai Pustaka ( 1920–1940 ), Pujangga Baru ( 1930–1945 ), Angkatan 45 ( 1940–1955 ), Angkatan 50 ( 1950–1965 ), angkatan 66 ( 1966–70 ), Angkatan 70 ( 1970–1984 ), Reformasi ( 1998–2000 ), Angkatan 2000 sampai sekarang . Semua periode itu menggunakan kalimat perumpamaan akan tetapi pada periode Pujangga Baru dan Angkatan 45 lah banyak digunakan kalimat perumpamaan untuk menghindari konflik yang tajam. Kerena periode Pujangga Baru terjadi perlawanan sengit antara tokoh tua dan tokoh muda. Kalangan muda, kalangan pembaharuan menghendaki adat lama wajib dirubah dengan bertopang syarak. Adapun Angkatan 45 adalah suasana perang yang mencekam melawan penjajah.

Demikian juga perumpamaan dalam Al Quran, sebagai bahasa mukjizat dan sastra awal Islam masuk juga pengaruh sastra Jahiliyah yang banyak sekali menggunakan kalimat perumpamaan. Masyarakat pengembara di padang pasir, yang banyak berhubungan dengan alam sekitarnya, kering tandus. Maka kalau ada oase kecil saja dengan tetumbuhannya yang sedikit, ia umpamakan seperti di taman para raja dengan kolam luasnya.

Baca Juga:   Tidak Menjalankan Isi Al-Quran adalah Pelecehan Terhadap Kitab Suci

Karena sastra Al Qur’an itu tinggi nilainya, luar biasa indahnya, sebagai mukjizat untuk menandingi sastra Jahiliyyah. yang mereka agungkan. Al Khaliq yang menyusunnya dengan bahasa perumpamaan yang memukau kaum jahiliyah, maka mereka pada lari menjauhi suara Al Qur’an, supaya jangan terpengaruh, takut masuk Islam. Keluarga mereka juga diminta menjauhi suara Al Quran. Allah menggambarkan mereka itu seperti lari menjauhi singa :

Al Quran surat Al Mudastir 51 :

فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ ﴿ ٥١

farrat min qaswaratin

[74:51] lari daripada singa.

Satra Arab membedakan antara Al Hikmah ( kalimat bijaksana ) dan Al Amstaal ( kalimat perumpamaan ). Tidak semua kalimat perumpamaan itu kalimat bijaksana, juga sebaliknya, akan tetapi kadang ada yang berpadu.

Kalimat hikmah misalnya :

لاَ سُلْطَانَ إِلَّا بِرِجَالٍ وَ لاَ رِجَالَ إِلَّا بِمَالٍ وَ لاَ مَالَ إِلَّا بِعِمَارَةٍ وَ لاَ عِمَارَةَ إِلَّا بِالْعَدْلِ

Laa sulthoona illa bi rijaalin wa laa rijaala illaa bi maalin wa laa maala illaa bi ‘imaaratin wa laa imarata illa bil ‘adli.

Tidak ada kesultanan kecuali ada tokohnya ( Sang Sultan). Sultan itu tidak ada ( wibawanya ) kalau tak berharta, dan tidak melakukan pembangunan dengan cara yang adil.

Kalimat perumpamaan :

هُوَ لَيْسَ فِى اْلعَيْرِ وَ لاَ فِى النَّفِيْرِ

huwaa laisa fil ‘iiri wa laa fin nafiir

“Ia sepertinya tidak disini, juga tidak disana”

“Neither here nor there/ unimportant”.

Ada perumpamaan dan ada hikmah didalamnya :

رَءْىُ الشَّيْخِ خَيْرٌ مِنْ مَشْهَدِ الغُلاَم

Rakyusy syaikhi khairun min masyhadil ghulaam

“ Pendapat orang yang sudah tua jauh lebih baik dari pada kesaksian anak kecil “.

Akan tetapi perumpamaan jauh lebih berpengaruh di masyarakat dari pada hikmah karena perumpamaan bersumber dan lahir dari kesadaran masyarakat , sangat melekat diingatan dan menghunjam di kalbu mereka

Dunia Timur khususnya Arab banyak pemakaian kalimat perumpamaan dari pada dunia Barat.

Dunia Arab , karena pengaruh Al Quran selama 1500 tahun ini telah punya buku kumpulan perumpamaan yaitu Majma’Amstal oleh Al Maidany.

Cobalah kita rasakan indahnya dan dalam arti kalimat kalimat perumpamaan Al Quran dan Al Hadist dibawah ini :

Al Quran :

  1. Surat Al Baqoroh 17–20 (perumpamaan kaum munafik)

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ ﴿ ١٧﴾

Baca Juga:   Buya Syafii Maarif dan Palestina

matsaluhum kamatsali alladzii istawqada naaran falammaa adhaa–at maa hawlahu dzahaba allaahu binuurihim watarakahum fii zhulumaatin laa yubshiruuna

[2:17] Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿ ١٨﴾

shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna

[2:18] Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),

  1. Al ‘Arof 175–177 (perumpamaan orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Allah) :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ ﴿ ١٧٥﴾

wautlu ‘alayhim naba–a alladzii aataynaahu aayaatinaa fainsalakha minhaa fa–atba’ahu alsysyaythaanu fakaana mina alghaawiin

[7:175] Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat–ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat–ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang–orang yang sesat

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ ١٧٦﴾

walaw syi/naa larafa’naahu bihaa walaakinnahu akhlada ilaa al–ardhi waittaba’a hawaahu famatsaluhu kamatsali alkalbi in tahmil ‘alayhi yalhats aw tatruk–hu yalhats dzaalika matsalu alqawmi alladziina kadzdzabuu bi–aayaatinaa fauqshushi alqashasha la’allahum yatafakkaruun

[7:176] Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat–ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang–orang yang mendustakan ayat–ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah–kisah itu agar mereka berfikir.

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ ﴿ ١٧٧﴾

saa–a matsalan alqawmu alladziina kadzdzabuu bi–aayaatinaa wa–anfusahum kaanuu yazhlimuuna

[7:177] Amat buruklah perumpamaan orang–orang yang mendustakan ayat–ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim

  1. Ibrahim 24–26 (contoh kalimat Tauhid)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴿ ٢٤﴾

Baca Juga:   Al Qur’an, Hadis dan Akal Sehat Jiwa Muhammadiyah

alam tara kayfa dharaba allaahu matsalan kalimatan thayyibatan kasyajaratin thayyibatin ashluhaa tsaabitun wafar’uhaa fii alssamaa/

[14:24] Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ ٢٥﴾

tu/tii ukulahaa kulla hiinin bi–idzni rabbihaa wayadhribu allaahu al–amtsaala lilnnaasi la’allahum yatadzakkaruun

[14:25] pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan–perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ ﴿ ٢٦﴾

wamatsalu kalimatin khabiitsatin kasyajaratin khabiitsatin ijtutstsat min fawqi al–ardhi maa lahaa min qaraarin

[14:26] Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar–akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Al Hadist

عَنْ إبْن عُمَرَ رضى الله عنْهُمَا ٌقالَ : قَال رَسُــــولُ الله صلى الله عَليْه و سَلمَ : الْيَدُ الْعُلْيا خَيْرٌ منْ يَد السفْلى . ( رَوَاه الشيْخَانُ )

‘an ibni ‘Umara r.a qaala : qaala Rasulullah saw : al yadul ‘ulya khairun min yadis suflaa. ( rawaahu Syaekhoon )

“ dari Ibnu Umar r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan dibawah. ( HR Syaekhon ).

عَنْ إبْن عَباس ر.ض. قَال : قَال رَســـوْلُ الله ص . : يَدُ الله مَعَ الْجَمَاعَة ( رَوَاهُ الترميْدى )

‘an Ibni ‘Abbas r.a. berkata : Rasulullah s.a.w bersabda : Tangan Allah ( pertolongan ghaib Nya ) bersama orang yang berjamaah ( bekerja sama dalam kebaikan). ( HR At Tirmidziy ).

Tradisi sastra Barat yang modern yang mendewakan rasionalitas, akal semata , kering dengan kalimat perumpamaan, karena pemikiran rasionalitasnya ( Burhaniy ) tidak diintegrasikan dengan pemikiran Bayani ( teks Al Qur’an dan Hadis Al Maqbuulah ) dan Irfaani ( Akhlaq Mulia ). Mari kita terus hidupkan dalam sastra kita baik prosa maupun puisi dan komunikasi kita sehari–hari dengan menggunakan kalimat perumpamaan agar kita tidak tercerabut dari akar budaya kita dan tradisi Al Qur’an.dan Al Hadist .

Rasulullah s.a.w bersabda :

 …فَإعْتَبرُوْا بالأمْثَال ( رواه البَيْهَقى عَنْ أبى هُرَيْرَةَ ر.ض. )

…fa’tabiruu bil amstaal ( rawaahu al Baihaqi ‘an Abi Hurairah r.a. )

Ambillah pelajaran dari perumpamaan–perumpamaan – di Al Qur’an. ( HR Baihaqi dari Abu Hurairah r.a. )

Nasrun Minallah Wa Fathun Qoriib Wa Basysyiril Mukminin

H.M.Sun’an Miskan,Lc, Ketua PWM DKI Jakarta