YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah tidak anti budaya dan seni. Demikian penekanan Iwan Setiawan saat membuka Pekan Kebudayaan Muhammadiyah Gelar Macapat 1000 Siswa Muhammadiyah se-DIY, Sabtu (5/9) di Kawasan Kawasan Nol Kilometer Yogyakarta.
“Tentu ini merupakan bagian dari mengenalkan budaya Jawa kepada siswa Muhammadiyah,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY itu.
Congkrongan acara ini, sebut Iwan, sebagai titik timbul kecintaan siswa Muhammadiyah kepada budaya, lebih-lebih mengerucut pada satu variebal vital: tembang macapat.
“Semua isi dari tembang yang bahasa Jawa itu adalah isinya sangat-sangat bagus semuanya. Berkaitan dengan nasihat kepada kita semuanya,” terangnya.
Animo siswa mengikuti acara ini begitu rupa. Di sinilah Iwan mendorong event ini tidak stagnan di sini saja, tetapi berkelanjutan ke depannya. “Tidak hanya macapat 1.000 Pelajar, tetapi macapat 10.000 Pelajar Muhammadiyah se-DIY,” katanya.
Sisi lain, Sarjilah mengapresiasi event gigantik ini. Menurutnya, satu sisi mengenalkan budaya kepada generasi muda, sisi berikutnya, sebagai bentuk sokongan kebijakan Gubernur DIY tentang Pendidikan Kejogjaan.
“Di mana pendidikan karakter dan mengangkat kebudayaan serta visi DIY tentang pendidikan. Karena itu, kegiatan mocopat sebagai salah satu bentuk budaya Jawa, maka ini perlu untuk terus dilestarikan,” pintanya.
Sarjilah menyebut, event ini diprakarsai Lembaga Seni Budaya (LSB) PWM DIY bekerja sama dengan Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY. Ia melihat, ada upaya serius dan saksama penguataan budaya dan seni di ruang pendidikan secara lebih meluas.
“Melalui budaya Jawa, kita akan bisa membangun karakter-karakter siswa kita, pelajar Muhammadiyah,” terang Wakil Ketua LSB Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Lewat tembang macapat, sambung Sarjilah, merupakan bentuk pengejawantahan edukasi kepada generasi muda untuk mengenal lebih dekat eksistensi tembang macapat. Terkandung syair-syair,” ucapnya. Lebih jauh dari itu, mendidik siswa Muhammadiyah agar giat belajar.
“Kita harus meneladan para pahlawan-pahlawan nasional kita. Dan bagaimana kita harus bekerja keras dan sebagainya,” lanjutnya.
Serupa Iwan, Sarjilah menegaskan, Muhammadiyah dengan kebudayaan itu sangat menerima. “Jadi, sangat membuka untuk kreativitas seniman-seniman, budayawan-budayawan di seluruh Indonesia,” bebernya, dengan menambahkan, “untuk menggali potensi-potensi budaya daerah yang sungguh luar biasa,” imbuhnya.
Secara kentara, Sarjilah menyebut, kebudayaan sendiri sejatinya melekat dalam denyut nadi dakwah Muhammadiyah. Jika disebut Iwan di situ dakwah budaya melekat di Muhammadiyah, Sarjilah mengungkapkan fakta empiriknya.
“Kita ketahui Ahmad Dahlan sendiri (pendiri Muhammadiyah), beliau juga berpakaiannya busana Jawa pakai Jarik,” singkapnya.
Di situlah titik temu pengintegrasian dakwah dan pendidikan berbasis budaya. Khusus pendidikan, implementasinya lewat desain kurikuluimnya.
“Jadi, muatan lokal dengan bahasa Jawa,” sebutnya. Ditambahkan mediumnya melalui ekstrakulikuler.
“Seperti tari dan mocopat, mungkin juga budaya yang lain misalnya seperti panahan, jemparingan. Itu juga mendukung untuk penguatan budaya,” tambahnya.
Di situlah menunjukkan, Muhammadiyah tidak alergi dengan kebudayaan. “Itulah dakwah kultural kontemporer yang sebenarnya di ruang publik,” tandas Musthofa W Hasyim, Budayawan dan Sastrawan asal Yogyakarta tersebut. (Cris)

