YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam mengembangkan AUM, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak seluruh komponen yang ada di AUM untuk menempatkan amanah tersebut sebagai anugerah. Dengan cara mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencapai kesuksesan bersama. Hal ini ia sampaikan dalam Milad ke-14 Gramasurya yang mengangkat tema “Merangkai Kolaborasi, Merawat Amanah Berkelanjutan” di Ballroom SM Tower Malioboro (14/8).
Haedar Nashir dalam amanatnya menyampaikan rasa syukur atas perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang dinilainya sangat luar biasa, tak terkecuali PT Gramasurya yang menjadi icon perusahaan percetakan yang 100 persen sahamnya dimiliki Persyarikatan.
Guru Besar Sosiologi UMY itu tak pernah menyangka, beberapa AUM yang sebelumnya hanya menempati ruangan sempit di sebuah gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kini telah berkembang pesat dengan gedung-gedung megah di pusat kota, seperti Suara Muhammadiyah, UMY, UAD, Unisa, dan bahkan PT Gramasurya. “Dulu kita tidak pernah membayangkan akan punya gedung-gedung megah,” ujarnya.
Menurut Haedar, Gramasurya adalah bentuk anugerah yang diciptakan untuk membangun kemandirian dan kemajuan organisasi serta warganya. Dalam perjalanannya selama 14 tahun terakhir, Gramasurya menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis.
Sebagaimana namanya dalam bahasa Jawa yang berarti panas, menjadi spirit yang terus menggelora dalam setiap gerak dan nafasnya. Melakukan berbagai terobosan dan inovasi di segala aspek. Dan yang tak kalah penting, profesionalisme perlu menjadi pegangan utama untuk mencapai kesuksesan bersama. “Kita harus bekerja secara profesional, yaitu bekarya untuk melahirkan sesuatu yang terbaik,” ucap Pimpinan Redaksi Suara Muhammadiyah tersebut.
Haedar berpesan bahwa anugerah ini perlu terus dijaga dan dilipat gandakan potensinya melalui beberapa cara. Pertama, SDM yang ada perlu mengerahkan segala kemampuan terbaiknya untuk kemajuan amal usaha. Mulai dari pimpinan sampai karyawan harus memiliki orientasi yang sama, yakni menggapai masa depan yang gemilang.
Kedua, setiap orang harus memiliki etos pengkhitmatan berbasis keikhlasan serta bersungguh-sungguh dalam berkarya. Membangun etos kerja tinggi yang berkarakter dan memiliki tujuan yang jelas.
Ketiga, membangun kebersamaan. Hal ini tak lain dan tak bukan adalah upaya untuk membangun sistem kerja yang baik dan transparan. Setelah itu, yang keempat, membangun kolaborasi. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mempercepat langkah mencapai cita-cita bersama.
“Saya melihat, 14 tahun Gramasurya telah menjadi api dan cahaya yang berkobar-kobar,” ungkap Haedar.
“Rumusnya, jangan menyerah. Sebagaimana lirik dalam salah satu lagu grup musik d’Masiv. Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Gramasurya adalah anugerah. jika Allah menghendaki kebaikan, tidak ada yang bisa menolak anugerah-Nya,” tutupnya dengan penuh keyakinan. (diko)

