Adab-adab Bangun Tidur; Memulai Hari Dengan Mensucikan Hati dan Semangat Tinggi
Penulis: Ir. Tito Yuwono, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sekretaris Majelis Dikdasmen PCM Ngaglik, Sleman
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Islam merupakan agama yang syamil/menyeluruh. Baik berkaitan dengan Aqidah/keyakinan, amalan ibadah maupun adab/akhlaq. Maka untuk lebih sempurnanya seorang muslim, Semestinya mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara tersebut. Sehingga berakidah yang kuat lagi shahihah, beramal Ibadah sesuai Sunnah dan beradab dan berakhlaqul karimah.
Pada tulisan kali ini akan didiskusikan salah satu adab, yaitu adab bangun tidur. Tulisan ini disarikan dari pengajian ahad pagi yang disampaikan oleh penulis di Joglo Dakwahmu Al-masykuri. Seorang muslim kalau bangun kesiangan apalagi tidak disertai dengan amalan ibadah maka dia akan lemah jiwanya dan tidak bersemangat untuk beraktivitas. Tubuh akan merasa lemas serta banyak kebaikan-kebaikan yang terabaikan.
Bangun tidur merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Seseorang tidur identik dengan mati, karena tidak bisa bergerak dan hilangnya akal.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Azzumar ayat 42.
ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Maka seseorang yang diberikan taufiq oleh Allah Ta’ala untuk bisa bangun tidur dengan sehat, ini merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Hendaknya seorang Muslim mensyukuri kenikmatan ini.
Ada beberapa adab ketika bangun tidur, diantaranya :
Adab pertama adalah berdzikir kepada Allah Ta’ala
Doa bangun tidur sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah adalah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali
Doa ini tidak sekedar dihafal, namun juga diamalkan setiap hari dengan penuh penghayatan. Rasa syukur yang mendalam kepada Allah Ta’ala yang memberikan kenikmatan kehidupan. Dan menyadarkan kepada kita, bahwa kita akan kembali kepada Allah Ta’ala. Kita banyangkan ketika kita bangun tidur sudah di alam lain, sudah tidak berjumpa dengan keluarga, tetangga, sahabat dan lain-lain. Serta tidak ada kesempatan lagi untuk bertaubat dan menambah amal kebaikan. Maka ketika bangun tidur, kemudian kita sadar masih di alam dunia, kita beryukur kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan untuk itu.
Adab kedua adalah bersiwak atau menggosok gigi
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
Artinya: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (HR Imam Bukhari dan Muslim
Bersiwak merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga melakukannya bagian dari ibadah dan berpahala. Bersiwak sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama gigi dan mulut. Dengan bersiwak, kotoran-kotoran yang melekat pada gigi dan mulut akan terangkat. Sehingga bakteri akan hilang. Disamping itu mulut akan terasa segar dan tidak bau. Hal ini berdampak pada lebih khusyu’nya dalam beribadah serta nyaman dalam bergaul. Begitu besarnya manfaat dari bersiwak ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan untuk melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
لَولا أن أشُقَّ على أُمَّتي -أو على النَّاسِ- لَأمَرتُهم بالسِّواكِ مع كُلِّ صَلاةٍ
Artinya: "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan salat."
Adab ketiga adalah bersegera melakukan wudhu dan sholat. Dengan melakukan wudhu dan shalat maka dia telah berusaha melepaskan ikatan-ikatan syaithan. Seseorang yang bangun lantas tidak wudhu dan shalat ikatan syaithan di tengkuk belum lepas. Setelah bangun tidur kembali melanjutkan tidur. Banyak kebaikan yang terlewatkan.
Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
يَعقِدُ الشَّيطانُ على قافيةِ رَأسِ أحَدِكُم إذا هو نامَ ثَلاثَ عُقدٍ، يَضرِبُ كُلَّ عُقدةٍ: عليك لَيلٌ طَويلٌ فارقُدْ، فإنِ استَيقَظَ فذَكَرَ اللهَ انحَلَّت عُقدةٌ، فإن تَوضَّأ انحَلَّت عُقدةٌ، فإن صَلَّى انحَلَّت عُقدةٌ، فأصبَحَ نَشيطًا طَيِّبَ النَّفسِ، وإلَّا أصبَحَ خَبيثَ النَّفسِ كَسلانَ
“Syaithan mengikat pada tengkuk kepala seseorang kalian manakala ia tidur dengan tiga ikatan, yang ia buat tempatnya pada tiap ikatan (dengan mengatakan): “bagimu malam yang panjang maka tidurlah”. Maka jika ia bangun lantas berdzikir kepada Allah terbukalah satu ikatan, kemudian jika ia berwudhu terbukalah satu ikatan lagi, kemudian jika ia sholat maka terbukalah seluruh ikatan, maka ia pun di pagi hari dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Namun kalau tidak demikian maka ia di pagi hari dalam keadaan jelek jiwanya lagi pemalas.” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Adab keempat adalah membangunkan istri/suaminya
Membangunkan pasangan untuk sholat malam merupakan bagian dari teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى وَأيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإنْ أبَتْ نَضَحَ في وَجْهِهَا المَاءَ ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّتْ وَأيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإن أبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ )) رواه أَبُو داود بإسناد صحيح
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya.” (HR. Imam Abu Daud)
Saling membangunkan pasangan untuk sholat malam akan menambah keharmonisan rumah tangga sekaligus menguatkan keimanan dan ketaqwaan anggota keluarga. Disamping itu merupakan bentuk ta’awun sesama anggota keluarga dalam kebaikan.
Demikian tulisan ringkas berkaitan adab-adab menyongsong hari ketika bangun tidur. Dengan membiasakan adab-adab di atas semoga kita menjadi hamba Allah yang istiqomah serta memulai hari dengan jiwa yang bersih dan bersemangat.
Wallahu a’lamu bishshowab. Nashrun minallahi wa fathun qarib.

