Adu Gagasan Rancang Blueprint Digital Marketing Inklusif untuk Selai Buah Naga Temurejo

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
62
Eco Bhinneka Muhammadiyah

Eco Bhinneka Muhammadiyah

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah - Suasana siang di Osing Deles Banyuwangi terasa berbeda. Bukan sekadar diskusi biasa, ruang pertemuan itu menjadi arena lahirnya ide-ide segar dari 10 anak-anak muda lintas agama yang memiliki satu tujuan bersama: mengangkat produk lokal Desa Temurejo agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas (2/6/2026)

Pemuda Hindu, Katolik, Kristen, kader Nasyiatul Aisyiyah, organisasi perempuan, pemerintah desa, hingga pelaku UMKM duduk melingkar dalam forum Youth Interfaith Branding Ecosociopreneur yang digagas SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi. Mereka tidak sedang memperdebatkan perbedaan keyakinan, melainkan beradu gagasan untuk menyusun blueprint strategi pemasaran offline dan digital bagi produk selai buah naga yang dikembangkan warga Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo.

Forum ini merupakan bagian dari proses inkubasi ecosociopreneur yang bertujuan membangun tim branding dan marketing berbasis kolaborasi lintas iman. Sebelum memasuki sesi diskusi, para peserta telah mendapatkan pembekalan mengenai branding produk, desain kemasan, dan strategi pemasaran dari Pusat Layanan Kemasan Kabupaten Banyuwangi.

Membuka diskusi, Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar menghasilkan ide, tetapi menyusun langkah konkret yang dapat dijalankan bersama oleh anak-anak muda Temurejo.

"Kita ingin menemukan titik temu antara produk dan pasar. Selai buah naga ini bukan hanya soal menjual makanan, tetapi bagaimana kita membangun identitas desa, memperkuat ekonomi warga, dan menghadirkan kebanggaan terhadap potensi lokal yang kita miliki," ujarnya.

Menurut Zahrotul, anak muda memiliki posisi strategis karena dekat dengan perkembangan teknologi, media sosial, dan tren pasar yang terus berubah. Karena itu, mereka perlu dilibatkan sejak awal dalam proses membangun merek hingga strategi pemasaran produk.

Diskusi dipandu oleh Marco, perwakilan Pemuda Peradah Hindu Temurejo. Dengan gaya yang lugas, ia mengajak peserta melihat peluang besar yang tersedia di era digital.

"Kita harus menentukan target pasar sejak awal. Apakah produk ini hanya untuk warga desa, pasar Banyuwangi, luar kota, atau bahkan pasar nasional. Kalau targetnya semakin luas, maka strategi marketing yang kita bangun juga harus berbeda. Saat ini media sosial dan marketplace seperti TikTok Shop, Shopee, dan platform digital lainnya menjadi ruang yang sangat potensial untuk mengembangkan pasar," ungkapnya.

Marko menambahkan bahwa keberhasilan pemasaran digital tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga kemampuan memahami algoritma, membangun interaksi dengan konsumen, serta menghadirkan konten yang konsisten dan menarik.

Perspektif berbeda disampaikan Pandu, perwakilan Pemuda Katolik Temurejo. Ia mengajak peserta melihat persoalan dari sisi konsumen dan penjual.

"Sebelum berbicara pemasaran, kita harus memastikan kualitas produknya. Berapa lama masa simpannya? Apakah aman dikirim ke luar kota? Siapa target konsumennya? Kalau ingin masuk pasar digital, aspek ini harus jelas karena menyangkut kepercayaan konsumen," ujarnya.

Pandu menilai bahwa informasi mengenai daya tahan produk, bahan baku, hingga segmentasi harga akan sangat menentukan arah komunikasi yang nantinya dibangun oleh tim marketing.

Sementara itu, Alfina dari APUNA Banyuwangi menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai etalase utama produk. Menurutnya, generasi muda memiliki keunggulan dalam menciptakan konten yang mampu menjangkau berbagai kelompok usia.

"Promosi hari ini tidak cukup hanya dari mulut ke mulut. Produk harus hadir di media sosial melalui foto yang menarik, video pendek, cerita di balik produk, hingga testimoni pelanggan. Semua itu bisa menjadi kekuatan untuk memperluas pasar," katanya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Temurejo. Perangkat Desa Temurejo, Nanik, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk mendukung berbagai inisiatif anak muda dalam mengembangkan UMKM lokal.

"Kalau bicara media sosial, anak-anak muda memang lebih paham. Pemerintah desa tentu mendukung penuh. Yang penting produk ini dikenal terlebih dahulu oleh masyarakat Temurejo, lalu bersama-sama kita dorong agar semakin luas dikenal masyarakat luar," ujarnya.

Pandangan menarik disampaikan Abel, pemuda Peradah Hindu Temurejo. Menurutnya, kekuatan produk lokal justru harus dibangun dari akar rumput.

"Kita jangan langsung berpikir terlalu jauh sebelum produk ini benar-benar dikenal oleh masyarakat sendiri. Selai buah naga ini harus menjadi kebanggaan warga Temurejo terlebih dahulu. Ketika masyarakat lokal menerima dan mendukungnya, pasar yang lebih luas akan mengikuti dengan sendirinya," katanya.

Diskusi semakin kaya dengan masukan dari Nuzul, Marketing Osing Deles Banyuwangi. Ia membagikan pengalaman selama lebih dari satu dekade mendampingi produk-produk UMKM Banyuwangi masuk ke pasar oleh-oleh.

Menurutnya, sekitar 85 persen pengunjung Osing Deles merupakan wisatawan dari luar daerah yang mencari produk khas Banyuwangi. Karena itu, identitas lokal perlu dimunculkan dalam kemasan maupun cerita produk.

"Produk yang memiliki cerita dan identitas lokal biasanya lebih mudah diingat wisatawan. Unsur khas Banyuwangi perlu dimunculkan agar produk tidak kehilangan karakter ketika masuk ke pasar yang lebih luas," jelasnya.

Di penghujung diskusi, Zahrotul Janah mengajak seluruh peserta untuk membangun gerakan promosi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas desa dan semangat keberlanjutan.

Ia bahkan menggagas kemungkinan penyelenggaraan festival olahan buah naga dan uji pasar produk yang melibatkan masyarakat secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, warga dapat mengenal berbagai produk turunan buah naga sekaligus mendukung tumbuhnya ekonomi lokal yang ramah lingkungan.

Forum ini menjadi bukti bahwa keberagaman bukan sekadar slogan. Di tangan anak-anak muda Banyuwangi, perbedaan agama dan latar belakang justru berubah menjadi energi kolaborasi untuk melahirkan inovasi, memperkuat UMKM desa, dan membuka jalan bagi lahirnya model pembangunan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada kekuatan komunitas lokal.

Dari ruang diskusi sederhana di Osing Deles, sebuah mimpi besar sedang dirancang: menjadikan selai buah naga Temurejo bukan hanya produk desa, tetapi simbol keberhasilan kolaborasi lintas iman dalam membangun masa depan bersama.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Makassar menggelar kegiatan pengka....

Suara Muhammadiyah

16 November 2024

Berita

Semarak Tarawih di Masjid Islamic Center UAD YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Masjid Islamic Center....

Suara Muhammadiyah

14 March 2025

Berita

SALATIGA, Suara Muhammadiyah - Perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan berperan untuk memberikan k....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung terus meningkatkan kualita....

Suara Muhammadiyah

1 March 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mengakrabkan para siswa dengan masyarakat desa menjadi salah sa....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah