Agar Tidak Terkesan Kaku, Dakwah Perlu Dibingkai dengan Sentuhan Sastra

Suara Muhammadiyah

5 October 2025

927
Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, dalam Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Ahad (5/10).

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menyampaikan terima kasih atas kehadiran Tasfir dalam pengajian kali ini. "Ahlan wa Sahlan, sugeng rawuh (selamat datang) Kiai di Tabligh Institute," ujarnya.

Fathurr menyebut, sosok Tafsir sebagai salah satu penasehat spiritual. “Beliau selalu membersamai kami di Majelis Tabligh PP Muhammadiyah,” ungkapnya.

Ditambahkan Fathurr, Tafsir dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang senantiasa mengajarkan tentang kearifan dalam berdakwah. Baginya, dakwah tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus disertai keteladanan, kebijaksanaan, dan kasih sayang sehingga dapat menumbuhkan persaudaraan.

“Ukhuwah (persaudaraan) itu tidak hanya sekadar dipidatokan. Ukhuwah itu dilakoni (dijalankan) dan dicontohkan,” katanya, seraya mengharapkan dengan adanya koalisi antara Santri Krapyak dengan Santri Madrasah Mua’llimin dalam konteks dakwah lewat pendekatan sastra, seni, dan budaya.

“Itu saya kira satu contoh yang sangat bagus,” ucapnya.

Seturut dengan itu, Tafsir mengatakan, perlunya menghadirkan pendekatan sastra sebagai bagian dari upaya menghadirkan dakwah sekaligus membangun peradaban dan kebudayaan manusia. “Kita tidak punya karya benda, punyanya karya non-benda berupa syair-syair,” tuturnya.

Pada titik inilah, pendekatan sastra perlu ditempatkan secara proporsional dalam denyut nadi gerak dakwah dan kebudayaan. “Bahwa ini karya sastra. Maka dibaca, diapresiasi pada konteks sebuah karya sastra,” sambungnya.

Sebab, di sanalah tersimpan sumber kekuatan umat Islam dalam menciptakan transformasi kebudayaan sesuai dengan aspirasi baru yang relevan. Tapi mengakar pada sumber otentik ajaran agama.

“Maka, tempatkan sebagai karya sastra. Aspirasnya sastra, sebagai karya sastra dan karya seni. Bukan untuk disakralkan, bukan untuk ritual yang sakral, tetapi untuk sebuah festival. Jadi kita ubah, dari sakral menjadi festival,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Tafsir menilai bahwa sastra dan budaya yang tumbuh di masyarakat tidak dihapus, tetapi dapat dijadikan festival rakyat atau wadah yang menjadikan masyarakat bergembira membangun kebersamaan dengan kreativitas budaya yang diciptakannya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - RSU PKU Muhammadiyah Aghisna Kroya Cilacap menyelenggarakan Kajian Mem....

Suara Muhammadiyah

21 March 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pusat Syiar Digital Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi men....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan penandatanganan MoU dengan....

Suara Muhammadiyah

15 July 2026

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Verifikator atau Agen platform digital terpadu Satu Muhammadiyah (Satu....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kerjasama Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY) dengan Kelompok....

Suara Muhammadiyah

28 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah