‘Aisyiyah dan Ikhtiar Menjaga Arah Zaman

Publish

15 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
507
Foto Istimewa

Foto Istimewa

‘Aisyiyah dan Ikhtiar Menjaga Arah Zaman

Oleh: Nur Amalia, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Uhamka

Tidak banyak organisasi yang mampu bertahan lebih dari satu abad sekaligus tetap relevan dengan tantangan zamannya. Lebih sedikit lagi organisasi perempuan yang mampu menua tanpa kehilangan daya hidup gerakan. Dalam konteks inilah ‘Aisyiyah menempati posisi istimewa dalam sejarah sosial-keagamaan Indonesia.

Didirikan pada tahun 1917, ‘Aisyiyah tidak sekadar menjadi organisasi perempuan tertua, tetapi juga salah satu yang paling konsisten dalam menjalankan dakwah Islam berkemajuan. Usia panjang tidak menjadikannya jumud, justru menghadirkan kematangan visi dan kedewasaan dalam bersikap. ‘Aisyiyah tumbuh dengan kesadaran ideologis: berakar kuat pada nilai Islam, namun terbuka terhadap dinamika perubahan.

Sejak awal kelahirannya, ‘Aisyiyah telah memosisikan perempuan sebagai subjek dakwah dan agen perubahan. Perempuan dipahami bukan hanya sebagai penjaga ranah domestik, tetapi sebagai penggerak pendidikan, penguat keluarga, dan pilar masyarakat. Cara pandang ini menunjukkan bahwa gagasan kemajuan dalam tubuh ‘Aisyiyah telah hidup jauh sebelum istilah tersebut menjadi wacana populer.

Islam berkemajuan yang menjadi ruh gerakan ‘Aisyiyah tidak berhenti pada tataran konseptual. Ia menjelma dalam amal usaha dan program nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta advokasi perempuan dan anak. Dalam perkembangannya, ‘Aisyiyah juga merespons persoalan kontemporer seperti ketahanan pangan, krisis lingkungan, dan perubahan iklim sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan dan kemanusiaan.

Memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi ‘Aisyiyah semakin kompleks. Persoalan umat tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling bertaut antara aspek sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Kondisi ini menuntut pendekatan dakwah yang lebih kolaboratif, multidisipliner, dan adaptif. Dalam konteks ini, ‘Aisyiyah menunjukkan kapasitasnya sebagai organisasi pembelajar yang terus berikhtiar membaca dan merespons zaman.

Era digital menjadi ujian sekaligus peluang. ‘Aisyiyah menyadari bahwa teknologi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun teknologi tidak dibiarkan menjadi penentu arah. Media digital dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penguatan jejaring, sementara identitas, tradisi organisasi, dan ingatan kolektif tetap dijaga. Sikap ini mencerminkan kebijaksanaan gerakan: modern tanpa kehilangan pijakan nilai.

Yang kerap luput dari perhatian publik adalah kerja-kerja sunyi para kader ‘Aisyiyah di akar rumput. Dari desa hingga kota, mereka hadir sebagai pendidik, penggerak sosial, pendamping keluarga, dan penjaga nilai. Bekerja dengan kesadaran ibadah, mereka menebar manfaat tanpa banyak sorotan. Inilah wajah dakwah yang hidup—tenang, konsisten, dan berkelanjutan.

Dalam konteks persyarikatan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah memiliki peran strategis yang tidak terpisahkan. Kemajuan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan yang terorganisasi, berdaya, dan berkesadaran ideologis. Karena itu, menjaga daya hidup ‘Aisyiyah berarti juga menjaga kesinambungan gerakan Islam berkemajuan itu sendiri.

Pada akhirnya, ‘Aisyiyah bukan sekadar organisasi yang bertahan menghadapi perubahan. Ia adalah gerakan yang berikhtiar menjaga arah perubahan agar tetap berpihak pada nilai ketauhidan, keadilan, dan kemanusiaan. Selama iman dirawat dengan kesadaran, ilmu dikembangkan dengan keikhlasan, dan amal dijalankan dengan istiqamah, ‘Aisyiyah akan tetap relevan—hari ini, esok, dan seterusnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Jalan Sunyi Orang Tua kita Memberikan Keteladanan Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul) "Kami perintahka....

Suara Muhammadiyah

2 April 2024

Wawasan

Suara Muhammadiyah Menyelaraskan Budaya Literasi dan Kekuatan Ekonomi Umat: Refleksi Milad 109 ....

Suara Muhammadiyah

5 August 2024

Wawasan

Kontribusi Pemikiran Etika Bisnis Rafik Issa Beekun terhadap Agenda Pariwisata Berkelanjutan Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Wawasan

Infaq dan Shadaqah sebagai Pilar Pertumbuhan EkonomiOleh:Tanzil Huda, Dosen Universitas Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Wawasan

Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mengapa pacaran tidak dibenarkan dala....

Suara Muhammadiyah

29 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah