JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tonggak sejarah baru bagi gerakan lingkungan dan kerukunan telah dimulai di ibu kota. Pada Jumat (1/5), untuk pertama kalinya, Agenda Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah resmi dibuka di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA).
Acara yang berlangsung dari Kamis hingga Ahad (30 April – 3 Mei 2026) ini mengusung tema besar “Sekolah Kader Muda untuk Kerukunan Umat Lintas Iman dan Kelestarian Alam”. Sebagai angkatan perdana, kegiatan ini menjadi titik awal bagi lahirnya kader-kader muda dari berbagai penjuru Nusantara yang toleran serta berkomitmen mengusung aksi nyata bagi bumi.
Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa penggunaan nama "Akademi" dipilih karena sifatnya yang lebih luwes, terbuka, dan bertujuan menghasilkan kader yang profesional. Fokus utama akademi ini adalah memadukan ekologi dan kebinikaan (Eco-Bhinneka).
Hening mengingatkan terkait "Generasi SMILE" (Strengthening Motivate Initiative Eco-feminism), sebuah gerakan yang tidak lagi hanya bicara soal kerukunan agama. Maka melalui Akademi Perdana dapat memperkuat menyentuh kesadaran mendalam tentang ekologi, keberagaman dan aksi nyata bagi lingkungan.
Bagi Hening, kebinikaan bukan hanya soal enam agama yang diakui, melainkan mencakup keberagaman wilayah, suku, fisik (difabel), hingga ketimpangan sosial-ekonomi. Ia memperkenalkan sosok seperti Said Alkadri dari Pontianak yang menggerakkan para parapreneur (entrepreneur difabel) untuk mendaur ulang pakaian bekas menjadi tas hingga kafe difabel. Ada pula Fadil dari Bandung yang merangkul media, serta Zahro dari Banyuwangi yang memanfaatkan limbah buah naga sebagai bentuk pemberdayaan sosiopreneurship.
"Kita harus menghargai bumi selayaknya menghargai ibu kita sendiri. Ibu Bumi harus kita lindungi dalam berbagai warnanya yang plural baik yang spesial, berkulit hitam, putih, maupun yang memiliki kepercayaan berbeda," tutur Hening.

Senada dengan hal tersebut, Senior Policy Advisor Kedutaan Besar Belanda, Edwin Arifin, dalam sambutannya memberikan analogi yang kuat tentang keterikatan antarmanusia melalui Chaos Theory atau teori kepakan sayap kupu-kupu. Ia menekankan bahwa masalah lingkungan bukanlah isu pribadi atau nasional semata, melainkan masalah internasional yang saling bertautan.
“Jika kupu-kupu mengepakkan sayapnya di satu tempat, maka akan terjadi topan di ujung dunia yang lain,” ujar Edwin menggambarkan betapa terikatnya satu tempat dengan tempat lainnya di bumi ini. Ia mengingatkan para peserta bahwa sekecil apa pun langkah yang mereka ambil di daerah masing-masing, hal itu merupakan bagian dari gelombang besar pergerakan global untuk merawat bumi.
Edwin juga memuji posisi Indonesia yang menjadi pionir dalam menggabungkan isu agama dan lingkungan sejak tahun 2005, sebuah langkah yang baru diakui dunia secara luas pada COP 30. Menurutnya, lingkungan adalah isu yang mampu mengikat semua agama dan latar belakang, layaknya pasar yang menyatukan perbedaan di tengah konflik.
Turut hadir Kepala Akademi Ahsan Hamidi, Ketua Panitia Resti Syafira serta para fasilitator yang berpengalaman. Para peserta yang hadir menjadi wujud kekayaan pluralitas Indonesia, datang dari Banten, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Manokwari (Papua), Jawa Barat, DI Yogyakarta, Lampung, Jawa Timur, Maluku Utara, hingga Jawa Tengah. Mereka diharapkan tidak hanya melakukan gerakan yang sifatnya "wira-wiri foto" di media sosial, melainkan gerakan yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.
Lulusan akademi ini nantinya akan menjadi kader-kader yang mempraktikkan nilai-nilai pelestarian alam dan kerukunan di lokasi masing-masing, mulai dari sekolah hingga pondok pesantren. Melalui kolaborasi lintas daerah seperti peserta dari Pontianak yang belajar ke Banyuwangi yang diharapkan gerakan merawat "Ibu Bumi" ini terus bersambung dan meluas.

