Aktualisasi Ihsan dalam Kehidupan
Oleh Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si
Muhammadiyah itu wahana sekaligus organisasi tempat berbuat ihsan bagi setiap insan yang ikhlas berkhidmat untuk mencapai tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya aktualisasi dari cita-cita membangun khaira ummah. Namun menjalankan tugas suci di Muhammadiyah melalui jalan ihsan tidaklah mudah dan meniscayakan kesungguhan sekaligus kesabaran berkelanjutan. Jangan mudah pesimis apalagi antagonistik seakan misi Muhammadiyah itu tidak berhasil karena masih banyak masalah dalam kehidupan umat dan bangsa.
Hukum perbuatan itu rentangannya luas. Dari mudah sampai sulit. Jika pakai skala bisa dari 1 sampai 10. Hal yang penting berbuatlah ihsan sekecil apapun, lebih-lebih yang besar. Tanamlah kurma, hatta sebelum kiamat tiba, itulah pesan Nabi akhir zaman. Apa masih berfaedah menyuarakan ihsan di tengah kehidupan sarat masalah? Lihatlah situasi. Korupsi masih meluas. Kesenjangan sosial jadi realitas. Oligarki melilit negeri ini. Berbagai persoalan lainnya sama rumitnya. Kenapa tidak melangkah ke nahyu munkar, mencegah kemunkaran dengan kepalan tangan dan hardikan!
Kalau pendekatannya serba pesimis dan mutlak-mutlakan memang tidak akan ada celah positif, baik untuk berbuat ihsan maupun nahyu munkar. Nahyu munkar atau mencegah kemudharatan pun sama hasilnya. Berteriak dan melangkah sekencang apapun dengan nahyu munkar, persoalan demi persoalan tetap hadir dalam kehidupan. Urusan keluarga di level terkecil pun selalu ada masalah, lebih-lebih perihal kebangsaan. Kuncinya kesungguhan disertai kesabaran. Baik dalam berbuat ihsan (kebaikan) maupun mencegah mafsadat (kerusakan) atau al-isàat (keburukan) diperlukan ikhtiar optimal yang berkelanjutan. Bergeraklah terus secara kolektif dan tersistem, jangan berjalan sendiri lebih-lebih dengan kebiasaan menegasikan perbuatan dan langkah pihak lain.
Spirit Ihsan
Kunci berbuat yang luhur dan terbaik di dunia menuju akhirat sejalan Al-Qashash 77 ialah ihsan, yakni perbuatan baik yang serba melintasi. Berbuatlah serba baik, sebaliknya jauhi yang serba buruk, keduanya akan bermuara kepada si empunya (QS Al-Isra: 7). Artinya jangan takut berbuat kebaikan meski banyak rintangan keburukan. Sebaliknya jangan senang berbuat keburukan karena mudah jalannya. Keduanya akan punya konsekuensi kepada setiap insan. Orang beriman akan percaya diri dalam berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan, karena diberi ilmu untuk mengamalkannya. Jangan bersikap dan bertindak tanpa ilmu, apalagi dengan segala waham.
Islam bahkan mengajarkan “berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” atau “fastabiqul khairat”. Allah berfirman yang artinya, “Artinya: “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 148). Jadi kenapa harus takut berbuat baik, hatta di dalam hidup ini harus menghadapi banyak keburukan. Dunia yang buruk justru harus dihilangkan dan diganti dengan yang baik. Bukan dengan menjauhi dunia dan anti kehidupan.
Masalah memang selalu ada untuk dihadapi dan dicarikan solusi. Tapi jangan serba pesimis dan negatif dalam menghadapi dunia, serumit apapun, jika orang beriman percaya dapat berbuat ihsan. Allah mengingatkan orang beriman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216). Masalah bisa datang dan pergi dalam hidup pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam relasi semesta. Semuanya untuk disikapi dan dihadapi. Ada yang bisa diselesaikan, boleh jadi ada yang tidak terselesaikan sebagaimana mestinya. Jangan diratapi. Apalagi disikapi dengan amarah, sesal, kebencian, dan segala luapan negatif.
Ambillah spirit dan nilai Surat al-Insyirah (Kelapangan) dalam menghadapi masalah. Allah berfirman yang artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu. Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan sebutan nama (mu) bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS 94: 1-8).
Hadapi masalah dengan jiwa ihsan, yakni beribadah dan bermuamalah yang terbaik karena Allah menyertai hidup setiap insan beriman. Ihsan melahirkan amal shaleh yang prokehidupan. Masalah jangan memenjara diri menjadi sosok yang garang, pendendam, pemarah, dan penyebar energi negatif atasnama apapun. Apalagi menjadi sosok yang serba negatif dan anti kehidupan dengan jiwa fanatik buta dan ekstrem. Jangan pula disertai sikap merasa paling bersih dan suci, baik dalam beragama maupun memandang kehidupan dunia. Jika hidup merasa paling benar dan paling lurus, justru di dalamnya ada benih takabur diri yang justru dilarang Tuhan dan Nabi. Ingatlah setiap insan itu pada dasarnya lemah dan memiliki kelemahan, maka jangan gampang menghakimi dan menghujat orang lain dengan semuci diri. Tazakku atau merasa diri paling bersih dan suci itu tidak dibenarkan Tuhan. Allah SWT mengingatkan yang artinya, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm : 32).
Membangun sesuatu itu lebih sulit ketimbang mengkritik dan menegasikan kehidupan, meski kritik itu tetap baik untuk pengingat agar hidup dijalani dengan seksama. Keseksamaan itu cermin ketaqwaan. Misi utama hidup insan Muslim ialah berbuat ihsan untuk memakmurkan dan memajukan kehidupan sebagaimana fungsi ibadah dan kekhalifahan manusia beriman di muka bumi. Maka, jalani hidup dengan ihsan, bukan menjauhi dan antikehidupan. Jalaluddin Rumi sang sufi termasyhur memberi taushiyah spiritual yang dinamis: Jangan sampai karena orang baik itu pasif, orang zalim yang berkuasa.
Pro Kehidupan
Ihsan merupakan energi ruhaniah tertinggi dalam menjalani kehidupan secara profetik, yang posisinya moderat antara jabariah dan qadariah serta antara berbagai kutub ekstrem lain. Ihsan menyatu dan memiliki landasan kokoh dalam Ajaran Islam. Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan hidup bagi seluruh umat manusia. Alam dengan seluruh isinya harus diurus dan dibangun secara optimal, tetapi jangan dirusak (QS Al-Qashash: 77; Hud: 61; Al-Baqarah: 11, 30;). Kaum muslimin bahkan diangkat sebagai umat pilihan atau khayra ummah karena kehadirannya memiliki tugas suci mendakwahkan Islam (QS Ali Imran: 110). Tugas mulia itu guna melanjutkan misi kerisalahan Nabi untuk menjadi rahmatan lil-‘alamin (QS Al-Anbiya: 107). Jangan jauhi dan anti kehidupan. Jalani kehidupan dengan ihsan yang membawa kemajuan, yang membawa keselamatan dan kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.
Ihsan akan membawa kemajuan hidup dalam relasi habluminallah dan habluminannas yang tawasuth (tengahan) dan tawazun (berkesimbangan). Kemajuan hidup bagi kaum muslimin maupun umat manusia secara umum tidak hanya pesan normatif dan imperatif dari ajaran Islam, tetapi diwujudkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad bersama kaum muslimin dalam dalam membangun peradaban hidup yang cerah dan mencerahkan yang melahirkan era kejayaan Islam di panggung sejarah berabad-abad lamanya. Peradaban maju justru karena umat Islam berbuat ihsan yang melahirkan pencerahan atau “al-Madinah al-Munawwarah”.
Pandangan kehidupan dan keduniaan dalam perspektif Islam tidak berdasarkan humanisme tetapi berlandaskan ketuhanan atau humanisme-teosentris. Pandangan integral inilah yang menjadi ciri khas sebagai core-value (nilai inti) sekaligus distinctive (pembeda) dari Ajaran Islam yang melahirkan dunia antroposen yang terintegrasi dengan ketuhanan (iman, takwa, tauhid) untuk melahirkan pencerahan dalam kehidupan umat manusia dan alam semesta dalam visi utama rahmatan lil-‘alamin. Inilah pandangan Islam yang tengahan (wasathiyah) yang berbeda dari cara pandang sekuler maupun sebaliknya rahbaniyah yang mengambil jalan menjauhi dunia.
Karenanya, sikapi dan jalani hidup dengan ihsan dalam karakter Muslim sebagai “abdullah” yakni sebagai hamba Allah yang selalu beribadah dan pasrah kepada-Nya serta “khalifatul fil-ardl” yaitu wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi. Itulah teladan utama hidup para Nabi dan Rasul serta orang-orang bijak nan cerdas dan mulia hati dalam menjalani kehidupan di dunia. Tugas dan kewajiban setiap insan beriman ialah melakukan ikhtiar lewat segala usaha dan do’a yang sungguh-sungguh, selebihnya tawakal dan sabar kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Hal yang terbaik berbuatlah yang positif dan membawa kemaslahatan, kebaikan, dan kemajuan hidup meskipun setahap demi setahap. Seraya jauhi yang buruk dan mafsadat dengan berbuat ihsan sebagai alternatif, bukan dengan anti dunia.
Jika semua urusan kehidupan serba mudah dan sejalan kehendak sendiri, tentu itulah harapan setiap orang. Namun hukum kehidupan tidaklah linier seperti itu. Ada keberhasilan, ada pula kegagalan. Ada kebaikan, ada pula keburukan. Maka hadapi dinamika hidup itu dengan spirit ibadah dan menjalankan kekhalifahan yang ikhlas, gigih, tangguh, sekaligus sabar dan lapang hati. Bukankah Allah memberikan keyakinan kepada insan beriman, bahwa "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al-Insyirah: 5-6).
Sunatullah kehidupan itu berwarna dari hal baik sampai buruk, dari mudah hingga sulit, serta dinamika hidup lainnya yang harus tetap dihadapi dengan modal ruhaniah iman, Islam, dan ihsan. Insan beriman yang berjiwa ihsan berbuatlah serba kebajikan dengan optimal tanpa merasa diri paling muhsin. Rendah hati di kala berbuat ihsan maupun mencegah keburukan. Tidak perlu jumawa diri. Jauhi takabur diri dengan merasa paling benar, bersih, hebat, dan paling mampu sendiri. Bersikaplah tawasuth atau tengahan, seraya menghindari sikap ekstrem dan mutlak-mutlakkan. Janganlah berlebihan dalam beragama, demikian sabda Nabi. Apalagi merasa paling suci, dengan sinisme terhadap orang lain yang berbuat kebaikan.
Berbuatlah ihsan sepanjang hayat, dari yang kecil hingga besar. Perbuatan baik yang dilakukan optimal pun akan ada celah kurang atau keliru. Ibarat orang bekerja, sehebat apapun selalu ada kurangnya. Hanya Malaikat yang tidak pernah salah. Bagi yang suka mencari masalah, kehidupan dunia ini selalu tampak suram dan gelap semua. Kalau ingin kelihatan bersih, janganlah berbuat, cukuplah bicara dan hardik sana-sini. Berbuatlah ihsan sepanjang hayat, dari yang kecil hingga besar. Perbuatan baik yang dilakukan optimal pun akan ada celah kurang atau keliru. Ibarat orang bekerja, sehebat apapun selalu ada kurangnya. Hanya Malaikat yang tidak pernah salah. Bagi yang suka mencari masalah, kehidupan dunia ini selalu tampak suram dan gelap semua. Kalau ingin kelihatan bersih, janganlah berbuat, cukuplah bicara dan hardik sana-sini. Setiap insan muslim berhak menunaikan ihsan sesuai kemampuan dan jalan yang dipilihnya menuju ridha dan karunia Allah SWT.
Sumber: Majalah SM Edisi 15 Tahun 2024
