JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Era digital memberikan dampak sangat signifikan dalam kehidupan. Lebih-lebih lagi, di lingkungan keluarga, yang kata Agus Taufiqurrahman kondisi keluarga tampak sepi dari eksistensi.
“Dulu orang bisa bercengkerama di situ, kadang makan buah bareng-bareng, tapi sekarang sepi. Anak-anak cenderung di kamarnya masing-masing dengan gadgetnya masing-masing,” bebernya.
Kasus lain ditemukan begini. Orang tua ingin mengajak keluar rumah seraya makan bersama sang anak. Tapi, sang anak justru menafikan ajakan dari orang tersebut.
“Suasana makan bersama yang di rumah dulu bisa dirasakan—bahkan pengen makan di restaurant sudah tidak bisa—karena anak-anak merasa sudah memiliki dunia sendiri,” ujar Agus dihadapan Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad 'izzul Muslimin dan Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief.
Itulah sekelumit dampak era digital yang menjangkiti keluarga. Maka tidak keliru bila muncul istilah pergeseran fungsi gadget seperti ini; mendekatkan yang jauh, tapi satu sisi, menjauhkan yang dekat.
“Di ruangan yang sama, tapi di era digital anak tidak dihubungkan,” beber Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, Jumat (31/7) saat Pengajian PP Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.
Persoalan mengurus dan merawat menjadi amat krusial. Demikian aksentuasi Qs at-Tahrim ayat 6. Ayat ini tetap relevan sepanjang zaman kendati lipatan zaman terus bergulir.
“Menyelamatkan anak kita agar tetap menjadi orang beriman, itu bagian yang tidak bisa ditawar lagi,” tekan Agus, menyerukan perlu menghadirkan pendekatan khusus dalam implementasi pengasuhan keluarga di tengah geliat era digital.
“Anak kita walaupun secara fisik berada di rumah, tapi telah berselancar yang tanpa batas,” ungkapnya. Di sinilah relevansi pendekatan itu patut dihadirkan. “Kita perlu melakukan pendekatan yang bijak agar anak kita tetap terjaga imannya,” ujarnya.
Dengan catatan kritis di sini: tanpa menanggalkan peranti teknologi. Itu penting, kata Agus. “Ini harus kita pelajari,” tekannya. Dengan mengutamakan penguatan iman, asanya, anak-anak bisa memanfaatkan teknologi untuk hal ihwal kemaslahatan di kemudian hari.
“Bukan sekadar pengguna teknologi, tapi bisa menghadirkan teknologi yang bisa menjadikan orang beriman itu semakin baik menjalankan amal saleh,” ulasnya.
Dalam tautan itu, pengasuhan keluarga menjadi niscaya. Dengan output yang dihadirkan melahirkan generasi penerus yang distingtif dari generasi-generasi sebelumnya.
“Sungguh sangat berbeda kalau menyiapkan anak-anak kita yang hidup di masa depan hanya kita bekali seperti hidup kita sekarang ini. Apalagi perubahan dunia begitu dahsyat,” jelas Agus.
Hal demikian itu berimplikasi dengan wejangan Ali bin Abi Thalib; “Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu”.
“Mari kita kawal anak-anak kita anak yang melek teknologi, anak yang sadar dengan teknologi ini terus berkembang, tetapi bersamaan dengan itu kita siapkan mentalnya dengan iman yang kuat, akhlak yang kariim, sehingga dia bisa menyelesaikan seluruh problemnya dengan baik,” tandas Agus.
Pengajian yang mengusung tema “Pengasuhan dan Ketahanan Keluarga: Membangun Generasi Maju di Era Digital” ini menghadirkan narasumber Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PP Muhammadiyah dan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Jasra Putra. Serta Ketua PP ‘Aisyiyah yang juga Pakar Psikologi Anak Rohimi Zamzam. (Cris)

