Anak Sang Guru SD Menjadi Doktor Pendidikan

Suara Muhammadiyah

28 July 2026

324
Istimewa

Istimewa

Anak Sang Guru SD Menjadi Doktor Pendidikan

Penulis: Hendra Apriyadi, sahabat di Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah

"Lahir dari keluarga guru adalah anugerah. Menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian adalah pilihan. Dan menghadirkan manfaat bagi sesama adalah tujuan kehidupan."

Bagi sebagian orang, merantau adalah perjalanan untuk mencari penghidupan. Namun, bagi Muhammad Khoirul Huda, merantau merupakan perjalanan menuntut ilmu, mengabdi, dan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Dari langkah-langkah sederhana yang dimulai di Kota Metro, Lampung, hingga dipercaya mengemban berbagai amanah strategis di tingkat nasional, setiap fase kehidupannya dipenuhi semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberikan arti bagi masyarakat.

Muhammad Khoirul Huda lahir di Kota Metro, Lampung, pada 24 Desember 1990. Ia tumbuh dalam keluarga pendidik yang menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, kedisiplinan, dan pengabdian. Ayahnya, Drs. Siswantoro, M.Pd., dan ibunya, Zuriyah, S.Pd., merupakan guru yang meyakini bahwa pendidikan adalah bekal terbaik untuk mengubah kehidupan. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, ia dibesarkan dalam lingkungan yang mendorong setiap anak untuk terus belajar, berkarya, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Orang tua dapat mewariskan harta, tetapi guru mewariskan cara berpikir. Dari sanalah masa depan dibangun."

Sejak usia remaja, Khoirul Huda telah menunjukkan kepedulian terhadap dunia pendidikan dan kehidupan sosial. Selain dikenal sebagai pelajar yang tekun, ia dipercaya menjadi Ketua Remaja Islam Masjid (RISMA), ikut mendirikan Griya Baca Komunitas, serta aktif mengikuti seminar, simposium, forum diskusi ilmiah, dan berbagai kegiatan riset pendidikan. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan paling mulia untuk membangun peradaban.

Perjalanan pendidikannya dimulai di SD Negeri 4 Metro Selatan, dilanjutkan ke SMP Muhammadiyah 1 Kota Metro, kemudian SMA Muhammadiyah 1 Kota Metro. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membawanya melanjutkan studi pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Lampung (UNILA) hingga berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2013.

Kelulusan tersebut menjadi awal dari berbagai prestasi membanggakan. Pada tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung sekaligus Wisudawan Terbaik III Universitas Lampung. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang meraih hasil terbaik.

"Prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah agar ilmu yang dimiliki semakin banyak memberi manfaat."

Berbekal tekad yang kuat, Khoirul Huda memutuskan merantau ke Jakarta. Keputusan tersebut bukan semata-mata untuk mencari pekerjaan, melainkan memperluas wawasan, mengembangkan kapasitas diri, dan memperbesar ruang pengabdian. Di tengah berbagai aktivitas organisasi dan profesional, ia tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.

Semangat belajar yang tidak pernah padam mengantarkannya menyelesaikan Program Magister (S-2) Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2018. Namun, baginya, gelar magister bukanlah akhir perjalanan. Ia meyakini bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang harus terus dijalani agar mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan pendidikan di Indonesia.

Keyakinan tersebut mengantarkannya melanjutkan studi pada Program Doktor (S-3) Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan fokus kajian pada Pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan Digital (Digital Citizenship), dan pengembangan model pembelajaran. Setelah melalui proses penelitian yang panjang, publikasi ilmiah, diskusi akademik, serta ujian yang penuh tantangan, pada tahun 2026 ia berhasil meraih gelar Doktor Pendidikan Dasar.

Gelar doktor tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan simbol ketekunan, konsistensi, dan keyakinannya bahwa ilmu harus terus dikembangkan demi kemajuan pendidikan Indonesia.

"Gelar akademik dapat membuka pintu kesempatan, tetapi karakter, integritas, dan pengabdianlah yang membuat seseorang dikenang."

Wawasan akademiknya semakin diperkaya melalui berbagai program internasional. Pada tahun 2018, ia terpilih mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat. Selanjutnya, ia mengikuti STEM and School Leadership Training di Nanyang Technological University, Singapura (2021), JENESYS Peace Building Program di Tokyo dan Hiroshima, Jepang (2023), Vocational and School Leadership Program di Tokyo dan Kanazawa, Jepang (2025), Short Course Capacity Building for Agricultural and Rural Development di Beijing, Tiongkok (2025), serta Korean Educational Familiarization Study di Seoul, Korea Selatan (2026). Berbagai pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai kepemimpinan, inovasi pendidikan, kolaborasi internasional, serta pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing global.

Di samping perjalanan akademik, organisasi menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter kepemimpinannya. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) periode 2014–2016, mendirikan sekaligus menjadi Dewan Pembina Ikatan Mahasiswa PGSD Indonesia (IKMA PGSD Indonesia), menjabat Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Ketua Bidang Pemberdayaan Desa Pimpinan Nasional Karang Taruna, serta Dewan Penasihat APDESI Merah Putih Provinsi Lampung. Berbagai amanah tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melayani, menggerakkan, dan memberdayakan masyarakat.

Komitmen, dedikasi, dan kontribusinya dalam dunia kepemudaan dan pendidikan juga memperoleh berbagai penghargaan bergengsi. Pada tahun 2015, ia menerima Penghargaan Pemuda Indonesia dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) sebagai bentuk apresiasi atas kiprah dan kontribusinya dalam pemberdayaan generasi muda. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh Soegondo Djojopoespito Award sebagai Ketua Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Berprestasi, sebuah penghargaan yang diberikan kepada pemimpin muda yang dinilai mampu menghadirkan perubahan positif melalui organisasi dan gerakan sosial.

"Penghargaan terbaik bukanlah piala yang dipajang, melainkan kepercayaan masyarakat yang terus dijaga melalui karya dan pengabdian."

Karier profesionalnya berkembang seiring dengan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki. Ia pernah mengemban amanah sebagai Tim Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Konsultan Biro Perencanaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Koordinator Media Tim Gugus Tugas Nasional Gerakan Nasional Revolusi Mental, Tenaga Ahli Fraksi MPR RI, hingga akhirnya dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. Setiap amanah dijalankannya sebagai bentuk pengabdian untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, terdapat keluarga yang selalu menjadi sumber kekuatan. Sejak menikah dengan Eni Maryam pada tahun 2016, ia dikaruniai dua putri, Annida Azalia Rei dan Aninda Annelies Raya. Kehadiran keluarga menjadi tempat kembali untuk menguatkan langkah, sekaligus pengingat bahwa setiap keberhasilan akan semakin bermakna apabila membawa manfaat bagi orang lain.

Perjalanan hidup Muhammad Khoirul Huda membuktikan bahwa keberhasilan tidak pernah lahir secara instan. Setiap pencapaian dibangun melalui keberanian untuk bermimpi, ketekunan dalam belajar, keikhlasan dalam mengabdi, serta konsistensi menjaga integritas. Dari seorang anak guru sekolah dasar di Kota Metro yang aktif di masjid dan komunitas literasi, ia tumbuh menjadi Doktor Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta, pemimpin organisasi nasional, birokrat, sekaligus tokoh muda yang terus mendedikasikan ilmu, pengalaman, dan gagasannya bagi kemajuan pendidikan, pembangunan desa, dan masa depan Indonesia.

"Kesuksesan bukan diukur dari seberapa tinggi gelar yang diraih, tetapi dari seberapa luas manfaat yang ditinggalkan. Ilmu akan menjadi cahaya ketika dipadukan dengan kerendahan hati, pengabdian, dan keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat." Selamat dan sukses, Mas M. Khoirul Huda, atas promosi doktor. Semoga ilmunya bermanfaat bagi bangsa, negara, serta Persyarikatan Muhammadiyah.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dinamika Pemakmuran Masjid dan Musala Oleh: Mohammad Fakhrudin Uraian di dalam artikel ini merupak....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Wawasan

Mimpi dalam Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Bisakah Alla....

Suara Muhammadiyah

25 March 2024

Wawasan

Krisis Diplomasi di Tengah Ketegangan Iran–Amerika Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tingga....

Suara Muhammadiyah

10 March 2026

Wawasan

Resistensi Faham Salafi Pada Amal Usaha Pendidikan Muhammadiyah Oleh: Ginanjar Wiro Sasmito, Ketua ....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Wawasan

Oleh: Rivandy Azhari Ali Harahap Indonesia adalah negara yang unik dengan kekayaan budaya, agama, d....

Suara Muhammadiyah

20 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah