Apakah Pendidikan Kita Siap untuk Era AI?

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Apakah Pendidikan Kita Siap untuk Era AI? Catatan dari Forum Asia Tenggara di Jeju Korea Selatan

Oleh: Aris Rakhmadi - Peneliti AI UMS

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini beririsan dengan dinamika global yang bergerak jauh lebih cepat daripada yang biasa terjadi di ruang kelas. Di Jeju, Korea Selatan, sebuah forum internasional mempertemukan para pendidik dari Asia Tenggara dalam Global Capacity-Building Workshop on AI and Digital Transformation. Forum ini tidak sekadar ajang berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi cermin bahwa lanskap pendidikan dunia sedang bergeser secara fundamental.

Diskusi dalam workshop menegaskan bahwa kecerdasan buatan bukan lagi sekadar konsep di masa depan. Ia telah hadir dalam bentuk nyata: platform pembelajaran berbasis AI, sistem analitik pendidikan, hingga pemanfaatan Digital Twin dan Spatial Computing untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif dan imersif. Teknologi tidak lagi menjadi alat tambahan, melainkan bagian inti dari proses belajar itu sendiri. Pendidikan bergerak dari ruang statis menuju ekosistem digital yang dinamis.

Menariknya, para peserta dari berbagai negara Asia Tenggara mengalami kegelisahan yang serupa. Perubahan terjadi begitu cepat, sementara kesiapan sistem pendidikan belum sepenuhnya selaras. Kurikulum masih kerap berorientasi pada transfer pengetahuan, sementara kebutuhan dunia nyata menuntut kemampuan adaptasi, literasi digital, dan pemahaman terhadap teknologi cerdas. Di titik ini, pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan apa yang diketahui, tetapi harus membekali cara menghadapi ketidakpastian.

Realitas ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan bersifat kosmetik, melainkan sistemik. Cara belajar, cara mengajar, bahkan makna pendidikan itu sendiri sedang diredefinisi. Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia pendidikan akan memasuki era AI, tetapi apakah sistem pendidikan saat ini mampu bergerak cukup cepat agar tidak tertinggal di dalamnya.

Kesenjangan yang Menganga: Infrastruktur, SDM, dan Inklusivitas

Perubahan cepat yang dibawa oleh kecerdasan buatan justru menyingkap persoalan lama yang belum terselesaikan: kesenjangan. Di berbagai wilayah di Indonesia, akses terhadap infrastruktur digital masih belum merata. Koneksi internet yang tidak stabil, keterbatasan perangkat, hingga perbedaan kualitas fasilitas pendidikan menciptakan jurang yang nyata antara satu daerah dan daerah lainnya. Dalam situasi seperti ini, teknologi canggih berpotensi hanya dinikmati oleh sebagian kecil kelompok, sementara yang lain semakin tertinggal.

Di sisi lain, kesiapan sumber daya manusia menjadi tantangan yang tidak kalah besar. Banyak guru dan dosen masih berada pada tahap adaptasi dasar terhadap teknologi digital, sementara perkembangan AI bergerak jauh lebih cepat. Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembelajaran menuntut perubahan peran pendidik—dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang kritis dan adaptif. Tanpa penguatan kapasitas yang sistematis, transformasi pendidikan hanya akan menjadi jargon tanpa implementasi yang berarti.

Kurikulum pun belum sepenuhnya mampu merespons perubahan ini. Integrasi AI masih terbatas, sering kali hanya bersifat tambahan, bukan bagian inti dari proses pembelajaran. Akibatnya, peserta didik belum dibekali literasi yang cukup untuk memahami, memanfaatkan, apalagi mengkritisi teknologi yang akan mereka hadapi di masa depan. Pendidikan berisiko tertinggal dari realitas yang terus berkembang di luar ruang kelas.

Lebih jauh lagi, isu inklusivitas menunjukkan bahwa pekerjaan besar masih menanti. Akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, kelompok marjinal, dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil belum sepenuhnya terjamin. Dalam perspektif nilai yang dijunjung oleh Muhammadiyah, pendidikan adalah hak setiap manusia sekaligus tanggung jawab moral kolektif. Jika tidak dikelola dengan bijak, kecerdasan buatan dapat memperlebar ketimpangan yang sudah ada. AI bisa menjadi alat pemerataan, tetapi juga bisa menjadi mesin ketimpangan baru.

Jalan ke Depan: Pendidikan Berkemajuan di Era AI

Menghadapi arus perubahan yang begitu cepat, Indonesia tidak cukup berada pada posisi sebagai pengguna teknologi. Pendidikan harus menjadi pengarah yang tidak hanya mengadopsi, tetapi juga membentuk arah pemanfaatan kecerdasan buatan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai bangsa. Langkah awal yang mendesak adalah transformasi kurikulum yang menempatkan literasi AI sebagai kompetensi dasar. Bukan sekadar mengenal teknologi, tetapi memahami cara kerjanya, potensinya, serta dampaknya secara kritis dan etis dalam kehidupan.

Perubahan ini menuntut redefinisi peran pendidik. Guru dan dosen tidak lagi cukup berfungsi sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran yang mampu membimbing, mengarahkan, dan menumbuhkan daya pikir kritis peserta didik. Di tengah kehadiran AI yang mampu menyediakan informasi secara instan, nilai utama pendidikan justru terletak pada kemampuan membangun makna, etika, dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Di sinilah kualitas manusia menjadi penentu, bukan sekadar kecanggihan alat.

Penguatan ini perlu didukung oleh kolaborasi lintas batas. Forum internasional seperti yang berlangsung di Jeju, Korea Selatan menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di era AI bersifat global dan memerlukan respons kolektif. Kerja sama antarnegara, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan jejaring akademik menjadi kunci untuk mempercepat adaptasi dan inovasi. Namun, kolaborasi tersebut harus tetap berpijak pada identitas dan kebutuhan lokal, agar tidak kehilangan arah.

Pendidikan di era AI menuntut keseimbangan yang utuh antara teknologi, kemanusiaan, dan spiritualitas. Inilah makna pendidikan berkemajuan—bukan sekadar mengejar efisiensi, melainkan menempatkan manusia sebagai pusat setiap inovasi. Kecerdasan buatan semestinya hadir sebagai alat pemberdayaan, membuka akses yang lebih luas, memperbesar peluang belajar, dan menghadirkan keadilan bagi semua. Pertanyaan “Apakah kita siap?” hanya akan terjawab ketika ada keberanian untuk berubah—bukan sekadar menyesuaikan diri, melainkan memimpin arah perubahan itu sendiri.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ied Tanpa Jejak Sampah Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua LPO PDM Bantul, bekerja di Kemendikdasmen BPMP ....

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

Wawasan

Membuka Lembaran Cerita di Tahun Baru: Menyusuri Alam Pegunungan Lintas Provinsi Bersama Keluarga O....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Wawasan

Muhammadiyah Menjadi Oksigen Kebangsaan  Oleh: Dr. Hasbullah, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

16 November 2025

Wawasan

Muhammadiyah dan Standar Kemanusiaan Dunia Baru Oleh: Dwi Taufan Hidayat, kader Muhammadiyah di Kab....

Suara Muhammadiyah

25 October 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (6) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Pada I....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah