Bahaya Citra Pesona: Riya Modern yang Dapat Merusak Nilai Ibadah
Oleh: Ahmad Yani,MA. Pengurus Komisi Fatwa MUI Pusat, Pegiat PRM Legoso Tangsel dan Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di zaman ketika setiap orang bisa menjadi “tokoh” di layar kecilnya sendiri, pencitraan seolah menjadi mata uang sosial yang sah. Kita belajar memilih sudut terbaik, merangkai kata paling mengesankan, bahkan menampilkan kebaikan dengan cara yang paling “layak tayang”. Sekilas, semua tampak wajar. Namun, di balik gemerlap citra itu, ada pertanyaan sunyi yang jarang diajukan untuk siapa semua ini kita lakukan?
Di sinilah kegelisahan spiritual bermula.
Ulama sufi besar, Ibnu Athaillah as-Sakandari, sejak berabad lalu telah mengingatkan tentang penyakit halus bernama riya, beramal bukan karena Allah, melainkan demi pandangan manusia. Dalam salah satu hikmahnya, ia menegaskan bahwa amal yang tercampur motif selain Allah akan kehilangan ruhnya, tampak hidup, tetapi sesungguhnya kosong dan mati.
Peringatan ini sejatinya telah ditegaskan lebih awal dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini mengguncang kesadaran kita, bahkan ibadah yang paling sakral sekalipun bisa kehilangan nilainya jika disusupi riya. Artinya, persoalannya bukan pada apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya.
Dalam ayat lain, Allah juga mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 264)
Di sini, riya digambarkan sebagai perusak amal. Ia tidak hanya mengurangi nilai, tetapi dapat menghapusnya sama sekali.
Jika riya pada masa lalu mungkin terjadi di ruang terbatas, hari ini ia menemukan panggungnya yang tak berbatas. Media sosial, ruang publik digital, bahkan percakapan sehari-hari menjadi arena baru bagi “pertunjukan kebaikan”. Bukan lagi sekadar berbuat baik, tetapi memastikan bahwa kebaikan itu terlihat.
Masalahnya bukan pada terlihat atau tidaknya sebuah amal, melainkan pada orientasi batin di baliknya. Ketika hati mulai lebih sibuk mengelola kesan daripada menjaga keikhlasan, di situlah pencitraan menjelma menjadi riya modern atau dalam konteks kekikinian dan kedisinian bisa juga disebut dengan riya digital.
Rasulullah SAW telah memberi peringatan yang sangat tegas tentang hal ini. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)
Dalam hadis lain yang lebih menggugah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hari kiamat, orang-orang yang beramal karena riya akan dipanggil dan diperintahkan untuk meminta balasan kepada manusia yang dahulu mereka tuju. Sebuah gambaran tragis, amal besar, tetapi tanpa nilai di hadapan Allah.
Menariknya, apa yang diingatkan oleh tasawuf ini memiliki gema yang kuat dalam psikologi modern. Carl Jung menyebut adanya persona atau topeng sosial yang kita kenakan untuk menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan. Topeng ini memang diperlukan, tetapi menjadi berbahaya ketika kita terlalu melekat padanya. Saat itu terjadi, kita kehilangan kontak dengan diri sejati. Pada titik ini, Ibnu Athailah menegaskan celakalah orang yang meninggalkan “keyakinan” tentang dirinya untuk memenuhi “keyakinan” orang lain.
Sementara Carl Rogers menekankan pentingnya kongruensi, yakni keselarasan antara diri yang tampak dan diri yang sebenarnya. Ketika seseorang terus-menerus membangun citra yang tidak sesuai dengan realitas dirinya, ia akan terjebak dalam kegelisahan batin hidup dalam ketegangan yang tak selalu disadari.
Barangkali inilah potret zaman now, zaman kita sekarang, zaman serba digital, di mana ornag dengan sangat mudah menampilkan pesona semunya. Banyak orang tampak “baik-baik saja”, tetapi diam-diam rapuh. Banyak yang terlihat “bermakna”, tetapi merasa kosong. Pencitraan memberi ilusi keutuhan, tetapi mencuri kejujuran diri. Banyak yang kelihatan berdampak konstruktif tetapi sesungguhnya destruktif. Pencitraan memberi ilusi keutuhan, tetapi mencuri kejujuran diri. Pemerkosaan terhadap citra diri demi mengejar rating unggulan.
Dalam perspektif sosial, Erving Goffman bahkan menyebut kehidupan sebagai panggung teater. Kita memainkan peran, mengatur kesan, dan berharap mendapat pengakuan. Namun, ketika seluruh hidup berubah menjadi pertunjukan, kita kehilangan satu hal paling mendasar yaitu keaslian.
Di titik inilah ajaran Ibnu Athaillah terasa begitu relevan. Ia seakan mengajak kita kembali ke ruang sunyi, ruang di mana tidak ada penonton, tidak ada tepuk tangan, hanya ada kita dan Tuhan. Di sanalah kejujuran diuji.
Bahaya pencitraan bukan hanya pada rusaknya nilai ibadah dan aneka amal shaleh , tetapi juga pada terkikisnya keutuhan diri. Ia membuat seseorang hidup dalam dua dunia, dunia yang ditampilkan dan dunia yang disembunyikan. Semakin jauh jarak antara keduanya, akan semakin dalam pula kegelisahan yang dirasakan.
Maka, mungkin yang perlu kita pulihkan hari ini dan seterusnya bukan sekadar citra, tetapi keikhlasan dan ketulusan hakiki. Bukan sekadar penampilan, tetapi niat.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang melihat kita, tetapi tentang seberapa jujur kita di hadapan Yang Maha Melihat.
Dan di ruang sunyi itu, tanpa sorotan, tanpa pujian, nilai sejati seorang manusia ditentukan.

