Bangga dengan Pujian

Suara Muhammadiyah

29 July 2026

251
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Bangga dengan Pujian

Oleh: Muhammad Fakhrudin

Makin terasa sekali bagi kita bahwa di dunia politik orang melakukan amal kebaikan umumnya bertujuan untuk dipuji, bukan untuk memperoleh rida Ilahi. Mereka sangat bangga jika kebaikan yang dilakukannya itu memperoleh pujian dan sangat kecewa jika tidak memperoleh imbalan. Bahkan, kebaikan yang berupa pemberian barang, barang yang telah diberikannya itu ditarik kembali jika keinginannya itu tidak tercapai. Kasus ini sering terjadi pada pemilihan kepala desa dan anggota legeslatif.

Sementara itu, dapat kita lihat juga bahwa ada orang yang memuji orang lain bukan karena orang yang dipujinya berprestasi tinggi, melainkan karena keinginan memperoleh imbalan, baik untuk dirinya maupun partainya. Untuk mencapai tujuan itu, mereka tidak segan-segan memuji dengan cara yang sangat berlebih-lebihan. Pujian itu dilakukan dengan mengada-ada misalnya membandingkan orang yang dipujinya dengan sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal orang yang dipujinya itu, mengucapkan kata Allah pun tidak fasih apalagi dalam hal akidah, ibadah, akhlak dan hal yang lain.

Larangan Memuji Berlebih-lebihan

Rasulullahi shallalahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR al-Bukhari da HR Muslim bersabda,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si Fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini, dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” 

Dari hadis tersebut kita ketahui bahwa pada dasarnya kita boleh memuji, tetapi harus dengan kesadaran bahwa kita mempunyai keterbatasan. Kita tidak mengetahui keadaan sebenarnya orang yang kita puji. Hanya Allah-lah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Di dalam Al-Qur’an surat al-Mulk (67): 13 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

«وأسِرّوا» أيها الناس «قولكم أو اجهروا به إنه» تعالى «عليم بذات الصدور» 

"Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati."

Sementara itu, kita tidak dapat mengetahui isi hati orang lain. Di antara kita banyak yang tertipu. Contoh yang paling mudah adalah perilaku kebanyakan tokoh politik. Kita sangat percaya kepadanya ketika berkampanye, maka kita memilihnya. Di antara mereka ada yang terpilih sebagai anggota DPR. Ada yang terpilih menjadi bupati/wali kota. Ada yang terpilih sebagai gubernur. Bahkan, ada yang terpilih sebagai presiden.

Di antara mereka ada yang berjanji tidak berutang luar negeri, ternyata berutang juga dan dilakukan secara ugal-galan. Ada yang berjanji membuka lapangan kerja hampir 20 juta, tetapi yang terjadi justru PHK di mana-mana. Ada yang berjanji pendidikan gratis, ternyata tetap membayar karena anggarannya digunakan untuk “program” yang lain. Ada yang berjanji menyediakan subsidi biaya listrik, kesehatan, dan BBM, tetapi tidak demikian kenyataannya. Sampai sekarang pun kita hanya dapat menduga-duga isi hatinya: mungkin mereka sangat sibuk memikirkan hal yang lebih besar (Pemilu 2029?) daripada mengingat dan memenuhi janjinya.

Presiden pun tidak tahu isi hati para pembantunya. Buktinya ada pembantunya yang dipuji-puji dan diberi penghargaan ternyata koruptor atau melakukan tindakan lain yang merugikan karena merusak cita-cita mulianya. 

Manusia diberi hidayah hati, mata, dan telinga. Jika semua itu digunakan sesuai dengan fungsinya sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya di dalam surat al-A’raf (7): 179, yakni hati untuk memahami (ayat-ayat Allah), mata untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan telinga untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah), kita pasti diselamatkan-Nya. 

Pejabat publik yang menggunakannya dengan benar, yakni ketika telinga mendengar kritik dan ketika mata membaca kritik atas kebijakannya, hati dan pikirannya terbuka,  mereka mawas diri dan tidak menganggap para pengkritik sebagai musuh. Ucapan yang keluar mulutnya adalah terima kasih. Sikap yang demikian justru menguatkan.

Jika hanya mau mendengarkan dan membaca pujian, dia tidak tahu kekurangannya. Bagi para pemuji, ketika orang yang dipujinya berbicara kasar dan berperilaku tidak patut pun tetap dipujinya. Mereka mencari pembenaran, tidak mengingatkan demi kebenaran. Hal ini tentu dapat membuat lupa diri. Akibatnya, semua dikiranya baik-baik saja. 

Di dalam lingkup yang lebih sempit dapat terjadi. Mertua tertipu menantu atau sebaliknya. Orang tua tertipu anak atau sebaliknya. Hal itu dapat terjadi karena tidak dapat saling mengerti isi hati.

Mewaspadai Pujian

Dengan menyadari bahwa kita tidak mengetahui isi hati orang yang memuji, kita harus waspada (berhati-hati). Su’uzan tidak diperbolehkan di dalam Islam. Hal itu dapat ketahui misalnya di dalam surat al-Hujurat (49): 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain.”

Berdasarkan hadis tersebut kita ketahui bahwa kita harus menjauhi berprasangka. Namun, demi “kemanfaatan” yang jauh lebih besar, kewaspadaan sangat diperlukan. Di dalam HR ath-Thabrani berikut ini hal itu dijelaskan.

احْتَرِسُوا مِنْ النَّاسِ بِسُوءِ الظَّنِّ . رواه الطبراني

“Jagalah diri kalian dari manusia dengan kewaspadaan.”

Jika tidak waspda, pujian dapat berakibat fatal bagi orang yang dipuji. Hal itu dijelaskan di dalam HR al-Bukhari dan HR Muslim,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ – يَقُولُهُ مِرَارًا – إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَحَسِيبُهُ اللَّهُ، وَلاَ يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا”

“Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya: Ada seseorang berada di dekat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Lalu, ada orang lain yang memuji-muji orang tersebut, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka engkau! Engkau telah menebas leher kawanmu.” Nabi mengulang kata tersebut berkali-kali. Jika kamu mau memuji, dan itu harus memuji, maka katakan, “Aku sangka (aku kira) dia demikian dan demikian”  jika dia menyangka kawannya memang seperti itu, “dan yang mengetahui pasti adalah Allah, dan aku tidak mau memastikan (keadaan) seseorang di sisi Allah.” 

Banyak kasus yang perlu kita jadikan pelajaran. Dalam kenyataan ada teman yang memuji, tetapi sesungguhnya dia bermaksud menjerumuskan. Orang yang gila pujian biasanya tidak berpikir sampai sejauh itu.  Akibatnya, dia melakukan kesalahan yang berdampak fatal. Dia terjerat kasus pidana.

Untuk menghindari pujian (apalagi yang berlebih-lebihan), Rasulullah shallalalahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita agar menaburkan debu pada wajah pemuji sebagaimana dijelaskan di dalam HR Muslim,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ

“Jika Engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya.” 

Tidak Pernah Memuji Diri Sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memuji diri sendiri. Beliau tidak menyatakan dirinya sebagai calon penghuni surga, kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam. Hal itu dijelaskan di HR al-Bukhari dan HR Muslim. Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, beliau mengatakan,

سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ يَمْشِي، إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ

“Aku mendengar ayahku berkata, “Aku belum pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini bahwa dia adalah calon penghuni surga, kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam.” 

Sementara itu, di dalam HR Ahmad dan HR Abu Daud dijelaskan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَنْتَ سَيِّدُ قُرَيْشٍ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” السَّيِّدُ اللهُ “، فَقَالَ: أَنْتَ أَفْضَلُهَا فِيهَا قَوْلًا، وَأَعْظَمُهَا فِيهَا طَوْلًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لِيَقُلْ أَحَدُكُمْ بِقَوْلِهِ وَلَا يَسْتَجِرَّنَّهُ الشَّيْطَانُ أَوِ الشَّيَاطِينُ”

"Suatu hari seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan, “Apakah Anda sayyidul Quraisy?” Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “as-Sayyid adalah Allah” maka sahabat mengatakan, “Engkau adalah orang yang paling mulia di antara kita, paling besar jasanya?” Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah perkataan yang biasa kalian ucapkan, dan jangan jadikan perkataan kalian menjadi tunggangan setan-setan.”

Orang-orang yang gila pujian berbangga diri dan lupa diri ketika dipuji. Bangga diri membuat dirinya sombong, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Mereka menganggap dirinya paling pintar dan paling benar, maka tidak mau menerima kritik, bahkan marah ketika dikritik dan mereka meremehkan orang mengkritik. 

Orang yang demikian di dalam peribahasa bahasa Jawa disebut, “adigang adigung adiguna.” Adigang berarti menganggap dirinya memiliki kelebihan kekuatan dan kekuasaan; memegang satu kendali yang ada di masyarakat. Adigung berarti membanggakan harta, keturunan, dan keagungan lainnya. Adiguna berarti membanggakan kecerdasan, kemampuan, dan kepintarannya. 

Na’uzubillah!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Sang Kiai Kampung Menjadi Penentu Urusan Umat di Era Modern Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul),....

Suara Muhammadiyah

24 June 2026

Wawasan

Oleh: A Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus Hampir beriringan dengan ibunda ‘Aisyiyah, adek-a....

Suara Muhammadiyah

18 May 2025

Wawasan

Hijrah dalam Jebakan Bahasa dan Simbol Oleh: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wak....

Suara Muhammadiyah

16 June 2026

Wawasan

18% yang Bermakna, Kehadiran Muhammadiyah di Tanah Minoritas Muslim  Oleh: Furqan Mawardi, Ket....

Suara Muhammadiyah

24 August 2025

Wawasan

Mengapa Pemilu Harus Diawasi? Oleh: Ahsan Jamet Hamidi Pemilihan Umum 1997, menjadi yang terakhir....

Suara Muhammadiyah

25 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah