YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memeriahkan "Suara Inklusi Untuk Semua", Hizbul Wathan (HW) Senior-Wreda Daerah Istimewa Yogyakarta ikuti karnaval, Rabu (12/8).
Kegiatan ini melibatkan 1.000 penyandang disabilitas yang dimulai dari depan Gedung DPRD DIY hingga berakhir di depan Benteng Vredeburg Yogyakarta.
Diinisiasi DIWA Foundation bekerja sama dengan berbagai pihak -- termasuk Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen RI -- HW Senior-Wreda DIY menyuarakan pentingnya pendidikan berkualitas, aksesibilitas dan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa.
Selain mengucapkan teks Proklamasi 1945 bersama-sama serta ikut serta dalam pemecahan rekor bahasa isyarat, HW Senior DIY bersama berbagai elemen masyarakat dan komunitas membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter di sepanjang jalan Malioboro.
Seperti disampaikan Wachid Ahmadi dari HW Senior-Wreda DIY, pihaknya menyambut adanya semangat kolaborasi, persatuan dan inklusivitas sebagai titik awal. "Karena memiliki akar budaya inklusivitas yang kuat," kata Wachid.
Bagi Wachid, HW Senior-Wreda DIY juga ikut memperkuat pesan bagi seluruh elemen masyarakat agar memiliki ruang dan peran yang sama dalam perjalanan bangsa.
Menyinggung parade tersebut, Wachid mengatakan bahwa hal tersebut juga membawa pesan persatuan dalam keberagaman. "Dengan bendera Merah Putih sebagai simbol amanah bangsa," tuturnya.
Menurutnya, gambaran perjalanan bangsa harus dijalankan bersama oleh seluruh elemen masyarakat. "Termasuk pemimpin dan rakyat," tandasnya.
Dan, parade karnaval tersebut bukan sekadar atraksi visual. Bendera Merah Putih menjadi simbol persatuan. "Sekaligus representasi harapan masyarakat kepada negara," ungkapya.
Sebagai Kota Istimewa yang dikenal dengan kekayaan budaya, kata Wachid, nilai toleransi serta semangat gotong royong, Yogyakarta menjadi simbol persatuan dalam keberagaman sekaligus tempat yang tepat untuk menggaungkan pesan bahwa inklusi adalah tanggung jawab bersama.

