Berani Mati atau Berani Miskin? Renungan atas Pidato Prabowo
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso
Saat remaja, saya pernah terlibat perkelahian secara berkelompok, baik antarkampung maupun antarkomunitas. Musababnya sederhana, yakni aksi saling ejek saat pentas musik atau setelah pertandingan voli. Rekan-rekan sepermainan di kampung dahulu memahami bahwa saya bukan termasuk golongan yang pemberani dalam aksi tawuran. Karena itu, saya hampir selalu berada di barisan paling belakang.
Saya mengamati kawan-kawan sepermainan yang kerap terlibat dalam aksi tawuran. Paling tidak, ada dua temuan yang saya simpulkan. Pertama, mereka yang benar-benar memiliki keberanian dalam berkelahi biasanya memiliki karakter yang tenang, bersahaja, dan sedikit bicara. Sebaliknya, orang-orang yang biasa bersuara sangat keras, seolah ingin menunjukkan keberaniannya di depan umum, biasanya justru berada di barisan belakang ketika tawuran benar-benar terjadi. Mereka yang mampu menaklukkan lawan atau justru terluka dalam perkelahian umumnya tidak banyak mengeluh dan mampu menerima risiko.
Temuan kedua, meskipun sangat subjektif, berkaitan dengan pandangan saya mengenai kelas sosial dalam masyarakat. Mereka yang bernyali besar saat tawuran umumnya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah dan hidup serba pas-pasan. Sebaliknya, kawan-kawan yang secara ekonomi mapan, atau kalangan borjuis, biasanya hanya pandai bersuara lantang, memprovokasi lawan, lalu membayari orang lain untuk berkelahi. Saya hampir tidak pernah menjumpai kawan-kawan borjuis tersebut berani bertindak nekat dan militan di garis depan saat perkelahian.
Pengalaman perkelahian yang saya saksikan puluhan tahun silam itu nyaris terlupakan. Namun, ingatan itu kini muncul kembali ketika mendengarkan pidato Prabowo. Ia sering berpidato dengan nada tinggi, bergaya pejuang yang seolah-olah sedang membakar semangat para prajurit untuk berperang.
"Saya siap mati demi rakyat, demi Merah Putih." Dalam pidatonya pada acara Kongres Muslimat NU di Surabaya pada Februari 2025, ia juga mengatakan, "Saya ingin mati di atas kebenaran, saya ingin mati membela rakyat saya. Saya ingin mati membela orang miskin, saya ingin mati membela kehormatan bangsa Indonesia." Ungkapan-ungkapan tersebut tentu identik dengan keberanian, heroisme, serta semangat perjuangan untuk membela dan melindungi rakyat.
Saya tergelitik untuk menelaah latar belakang di balik sumpah-sumpah hiperbolik yang berkali-kali diucapkan Prabowo dalam berbagai pidatonya. Apakah itu pengaruh dari kultur militer dalam dirinya? Ataukah ia memang sungguh-sungguh ingin membela rakyat Indonesia dengan gagah berani dan bahkan menginginkan kematian di tengah perjuangan membela rakyatnya?
Jika benar demikian dan Allah mengabulkan keinginannya, mungkin Prabowo akan dikenang sebagai presiden sekaligus pahlawan yang paling heroik. Namun, sejauh yang saya ketahui, risiko menjadi presiden Indonesia saat ini sangat jauh dari ancaman kematian.
Indonesia tidak lagi dijajah oleh bangsa lain. Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, Jepang telah lama pergi. Jika pun ada ancaman terhadap keselamatan jiwa Prabowo, bukankah Indonesia memiliki jutaan tentara, polisi, aparat intelijen yang siap mempertaruhkan nyawa untuk melindungi pemimpin tertinggi mereka?
Dilihat dari sisi beban pekerjaan pun demikian. Jika pun beban kerja presiden sangat berat, bukankah ia dibantu oleh para menteri, wakil menteri, kepala badan, direktur jenderal, deputi serta jutaan staf di berbagai kementerian yang siap bekerja penuh untuk membantu presiden?
Dari sisi layanan negara, bukankah presiden akan selalu dikawal selama 24 jam oleh dokter-dokter terbaik di Indonesia? Layanan paripurnanya tidak hanya pada urusan kesehatan, tetapi mencakup semuanya. Presiden memperoleh fasilitas dan pelayanan nomor wahid yang tidak akan pernah bisa dinikmati oleh sebagian besar rakyat biasa. Lalu, mengapa harus ada sumpah tentang kematian?
Jangan-jangan, imajinasi Prabowo masih belum benar-benar lepas dari dunia kecil yang selama ini melingkupinya. Akibatnya, ia memimpin negara seperti memimpin pasukan prajurit yang akan perang dan menaklukkan musuh. Risikonya dapat membunuh atau terbunuh. Jika memang demikian, tidak heran jika tema kematian kerap muncul dalam berbagai pidatonya.
Bisa jadi, Prabowo tidak cermat dalam mengidentifikasi apa dan siapa sesungguhnya musuh bangsa Indonesia. Jika ia merasa ada ancaman dari pihak asing yang menyusup ke Indonesia, mengapa ia tidak segera bertindak dengan mengerahkan ribuan prajurit, aparat kepolisian, dan intelijen untuk menangkap orang atau pihak yang dianggap sebagai representasi asing dan hendak mengganggu kedaulatan bangsa Indonesia?
Jika ancaman itu benar-benar ada, segeralah tangkap para penyusup itu, lalu proses melalui jalur hukum. Bukankah cara itu lebih kesatria dan elegan daripada hanya diucapkan secara berulang-ulang dalam setiap pidatonya, namun di mana wujud ancaman itu? Publik tentu bertanya-tanya: siapakah yang sebenarnya dimaksud dengan "asing" itu? Rasanya absurd apabila ancaman yang disebut begitu berbahaya justru tidak pernah dijelaskan secara terang-benderang kepada masyarakat.
Hemat saya, meskipun pengorbanan nyawa itu mungkin hanya sebuah retorika hiperbolik, imajinasi semacam itu mencerminkan apa yang ada di dalam benak seseorang. Benarkah tugas seorang presiden Indonesia yang aman sentosa itu harus dijalankan dengan risiko kematian? Rasanya jauh panggang dari api.
Mendengar pernyataan Prabowo, saya seakan kembali berkaca pada pengalaman masa lalu. Bahwa orang-orang yang paling banyak mengumbar sumpah keberanian sering kali justru menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Tidak jarang, mereka yang mengaku paling berani ternyata menjadi yang paling penakut; mereka yang menyatakan diri paling siap berkorban justru paling enggan menanggung risiko; dan mereka yang paling galak gertakannya malah menjadi yang paling cepat menyingkir ketika bahaya benar-benar datang.
Orang yang benar-benar memiliki keberanian sering kali tidak banyak berbicara tentang keberaniannya. Mereka memilih membuktikannya melalui tindakan ketika keadaan memang menuntut pengorbanan.
Pengalaman masa remaja itu mengajarkan bahwa keberanian sejati tidak selalu hadir dalam suara yang lantang, sumpah yang berapi-api, atau janji yang berkali-kali diucapkan. Keberanian justru lebih sering tampak dalam kejujuran menghadapi kenyataan, kesediaan menanggung risiko, dan tindakan nyata yang dilakukan tanpa perlu banyak kata-kata.
Saya bangga jika Prabowo berani berpidato dengan lantang mengatakan, "Jangankan nyawa, saya rela menjadi miskin dan akan menyerahkan seluruh harta kekayaan saya demi bangsa dan rakyat Indonesia."
Kira-kira, mana yang lebih berat: bersumpah untuk berani mati atau berani menjadi miskin ya?

