Berhijrah dari Berkhianat

Suara Muhammadiyah

22 June 2026

89
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Berhijrah dari Berkhianat

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Muslim diperintah agar selalu bermuhasabah. Shalat merupakan salah satu saat yang tepat. 

Bulan al-Muharam merupakan awal Tahun Baru Islam. Oleh karena itu, sangat tepat kita gunakan untuk bermuhasabah dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu di antaranya adalah akhlak.

Secara garis besar, ada dua sifat yang berhubungan dengan akhlak, yaitu pertama perintah mengerjakan dan kedua larangan mengerjakan. Berkaitan dengan muhasabah dalam rangka berhijrah, kita perlu memahami lebih dahulu apakah pengertian orang yang berhijrah itu? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
.
“Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah Subḥanahu wa Ta'ala.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Larangan Berkhianat

Berkhianat merupakan salah satu akhlak buruk yang dilarang di dalam Islam. Hal itu dijelaskan misalnya di dalam surat al-Anfal (8): 27

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْۤا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَ نْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

Sementara itu, dari HR Abu Dawud kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مَاهَكَ الْمَكِّيِّ قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ لِفُلَانٍ نَفَقَةَ أَيْتَامٍ كَانَ وَلِيَّهُمْ فَغَالَطُوْهُ بِأَلْفِ دِرْهَمٍ فَأَدَّاهَا إِلَيْهِمْ فَأَدْرَكْتُ لَهُمْ مِنْ مَالِهِمْ مِثْلَيْهَا قَالَ قُلْتُ أَقْبِضُ الْأَلْفَ الَّذِيْ ذَهَبُوْا بِهِ مِنْكَ قَالَ: لَا. حَدَّثَنِيْ أَبِيْ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يَقُوْلُ: أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَ لَا تَخْنُ مَنْ خَانَكَ. (رواه أبو داود).

"Bersumber dari Yusuf bin Mahak al-Makki yang berkata, Aku menulis daftar nafkah bagi anak-anak yatim untuk Fulan. Si Fulan ini adalah wali dari anak-anak yatim itu. Suatu ketika, mereka keliru menghitung seribu dirham. Si Fulan memberikan seribu dirham kepada mereka (yatim). Namun, kemudian ternyata aku dapati bahwa harta mereka ada dua ribu dirham. Aku berkata, “Ambillah seribu dirham milikmu yang telah mereka bawa.” Ia menjawab, “Tidak”. Ayahku menceritakan kepadaku, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah terhadap orang yang memberimu amanah. Namun, janganlah berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu” (HR Abu Dawud).

Dari al-Hadis tersebut kita ketahui bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang kita berkhianat, bahkan, kepada orang yang mengkhianati kita sekalipun. Namun, hal itu bukan berarti kita boleh berbuat kezaliman. Kita tetap wajib beramar makruf nahi mungkar.

Banyak dampak buruk yang timbul akibat berkhianat. Dampak buruk tidak hanya dirasakan oleh orang yang dikhianati, tetapi juga dirasakan oleh pelakunya. Dampak buruk itu tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat.

Dampak Buruk di Dunia

Berkhianat dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Suami yang berkhianat pada istrinya, pasti mengcewakan istri. Sebaliknya, istri yang berkhianat pada suami, pasti mengecewakan suami. Akibatnya, mereka tidak saling mempercayai.

Orang tua yang berkhianat pada anak, pasti mengecewakan anak. Demikian pula sebaliknya. Akibatnya, mereka tidak saling mempercayai. 

Jika suami dan istri tidak saling mempercayai, orang tua dan anak tidak saling mempercayai, sesama saudara tidak saling mempercayai, pasti timbul ketidakharmonisan di dalam keluarga. Hancurlah keluarga itu. Na’uzubillah!

Pejabat publik hasil pemilihan di tingkat apa pun yang berkhianat pada pemilih, pasti mengecewakan pemilih. Akibatnya, bisa jadi, dia tidak dipilih lagi. Bahkan, sangat mungkin timbul masalah besar yang tidak mudah diselesaikan. 

Begitulah dampak buruk di dunia akibat berkhianat. Berkhianat mungkin pada awalnya dirasa menguntungkan, tetapi pada akhirnya pasti merugikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita agar tidak membela orang yang berkhianat sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat an-Nisa (4):107

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًاۙ

“Janganlah engkau (Nabi Muhammad) berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.”

Balasan di Akhirat

Akibat buruk di akhirat bagi orang yang berkhianat pun harus ditanggung. Berkhianat merupakan salah satu ciri orang munafik. 

Di dalam HR al-Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, 

آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
 
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat). 

Orang munafik menerima hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, antara lain, surat an-Nisa (4):145,

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

"Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka."

Sangat menegerikan. Na’uzubillah!

Fenomena Berkhianat

Pada akhir-akhir ini kita dengan mudah dapat menyaksikan orang berkhianat di berbagai tempat. Di antara mereka ada yang berpendidikan dan berjabatan tinggi, orang kaya, bahkan menteri agama. Sungguh sangat memprihatinkan! 

Berkenaan dengan fenomena yang demikian, kita perlu secara serius merenungkan isi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat di HR Ahmad berikut ini.

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَاحُشُ، وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ، وَسُوءُ الْمُجَاوَرَةِ، وَحَتَّى يُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ وَيُخَوَّنَ الْأَمِينُ

“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul perkataan keji, kebiasaan berkata keji, memutuskan kerabat, keburukan bertetangga, dan sehingga orang yang khianat diberi amanah (kepercayaan) sedangkan orang yang amanah dianggap berkhianat.” 

Jangan-jangan fenomena yang berkenaan dengan tindakan berkhianat yang terdapat di dalam al-Hadis tersebut sedang terjadi pada bangsa kita. Jika memang benar-benar terjadi, kiranya tidak berlebih-lebihan jika dikatakan sesungguhnya bangsa kita sedang menuju “kiamat”.
  
Masih ada kesempatan. Mari bermuhasabah. Kita mulai dari diri kita: sebagai suami, sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai teman, sebagai tetangga, sebagai pejabat publik, atau sebagai apa pun. Kita harus berani jujur. Kejujuran ini bermanfaat untuk tindak lanjut sebagai perbaikan.

Lalu, bagaimana dengan orang tua, saudara, tetangga, teman, juga pemimpin kita? Kita wajib saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Di pihak lain, semestinya mereka dengan sikap terbuka menerima nasihat agar tidak berkhianat. Kita berhijrah dari berkhianat.

Bismillaahirrahmaanirrahiim!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Memberi Nilai Ibadah pada Dunia Kerja Kita Oleh : M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag., Mudir Pondok M....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Wawasan

Menyikapi Fenomena #KaburAjaDulu: Antara Harapan dan Realita Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA....

Suara Muhammadiyah

12 March 2025

Wawasan

Suluh Bangsa Oleh: Saidun Derani Mukaddimah Makna suluh adalah alat penerang seperti obor, lampu,....

Suara Muhammadiyah

26 February 2025

Wawasan

Oleh: Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I Bulan telah berganti, kisah lama dapat dibuka kembali. Bu....

Suara Muhammadiyah

26 June 2025

Wawasan

Oleh : Amalia Irfani Mengikuti dialog dan bincang ilmu tentang berbagai fenomena sosial dari multi ....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah