SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Hari Bermuhammadiyah telah menjadi keniscayaan dalam kegiatan Persyarikatan. Dan, dalam implementasinya, selalu dihadiri ribuan warga Persyarikatan, pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
"Kenapa begitu bersemangat Bermuhammadiyah?" tanya Haedar Nashir.
Ada apa sesungguhnya? Kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, muatannya karena di dalam pikiran warga Persyarikatan ada sesuatu yang hidup dan mendalam.
"Itu menjadi ruh, jiwa, menjadi spirit kita Bermuhammadiyah," bongkarnya, Ahad (21/6) saat Pengajian Ahad Wage Hari Bermuhammadiyah PCM Moyudan di Masjid Sabiilul Muttaqin Kaliduren, Sumberagung, Moyudan, Sleman.
Haedar menyuguhkan pertanyaan fundamental yang berpokok pangkal pada ayat Al-Qur'an: fa aina taż-habụn? Maka ke manakah kamu akan pergi? (Qs at-Takwir: 26). Bagi Haedar, ayat ini sangat dalam sekali pengajarannya.
"Pertanyaan ini untuk kita. Kita ini hidup untuk apa, mau ke mana, tujuannya apa?" sebutnya. Yang hal demikian itu, kongruen dengan falsafah Jawa; Sangkan Paraning Dumadi, "Asal dan tujuan kehidupan."
"Kita lahir, kita hidup, kita mati. Itu maknanya," tambahnya.
Atas dasar itulah, amat relevan wejangan Nabi Muhammad Saw tentang pemanfaatan lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain sebagai titik perenungan. Pertama, masa muda sebelum masa tua.
"Jangan sia-siakan masa muda," pintanya.
Kedua, sehat sebelum sakit. Ini hal yang kerap ditepikan oleh manusia, bahwa pada saat sehat, larut dalam berlebih-lebihan. Tetapi, dikala sakit, baru merasakan betapa mahalnya nikmat Tuhan itu.
"Sehat sekali itu mahal sekali. Dan kalau sakit itu sangat tidak nyaman," tegasnya.
Ketiga, di saat kaya sebelum datang masa kefakiran. Maknanya selama masih hidup, semestinyalah melakukan pelbagai ibadah dan kebaikan dengan harta.
"Kita sebenarnya tidak ada orang yang kaya, adanya orang yang berbagi, dan lalu kita berbuat dengan kelebihan itu," ujarnya.
Keempat, Masa luangmu sebelum masa sibuk. Dalam konteks Muhammadiyah, perlu mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif, pengajian, misalnya, sebagai tradisi khas Persyarikatan.
"Hidupnya kita dalam dalam membina membangun kehidupan keislaman itu karena pengajian. Kita selalu cas ruhani kita. Kalau tidak, hidup kita lemah secara euhani," tutur Haedar.
Kelima, Masa hidupmu sebelum masa matimu. Haedar mengingatkan, kematian adalah keniscayaan. Dan tidak bisa ditentukan kapan tibanya, sekalipun teknologi kian canggih.
"Wasilahnya bisa lewat sakit, atau tidak lewat sakit. Lewat musibah atau tidak lewat musibah," bebernya.
Kelima wejangan Nabi di atas, kata Haedar, diperlukan ikhtiar agar bisa ditunaikan. Jalannya lewat beribadah.
"Kita diberi kewajiban Allah untuk beribadah. Di situ jawabannya," jelas Haedar.
Alasan Bermuhammadiyah
Kesimpulannya apa? Agar hidup kian bermakna dan penuh arti. "Ada sesuatu yang berarti. Supaya kita memperoleh kehidupan yang baik," ucapnya.
Itulah yang kemudian ditarik sarinya oleh Haedar dibalik spirit Bermuhammadiyah. Selain itu, spirit Bermuhammadiyah meniscayakan hidup berguna.
Haedar berpesan agar praktik hidup di dunia mesti menyebarkan nilai guna dan manfaat kepada sesama.
"Bikin hidup itu berguna sekecil apa pun," tekan Haedar.
Selain itu, agar hidup utama (tafdhilah). Haedar mengatakan, banyak kalimat tafdhilah di Al-Qur'an. Bukti konkretnya?
Terdapat di Qs al-Baqarah ayat 249, Kam min fi'atin qalilatin ghalabat fi'atan katsiratan bi'idznillah. Yang secara redaksional, juga merupakan bagian dari kalimat tafdhilah.
"Yang kecil bisa menjadi kuat dan mengalahkan yang besar," terangya.
Di sinilah Haedar menggarisbawahi bahwa Muhammadiyah berupaya hadir membangun kehidupan utama. Dengan cara apa?
Lewat amal usaha yang dijalankan di lapangan kehidupan, di mana telah dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat luas.
"Lewat itu semua keutamaannya menjadi lebih banyak," tutup Haedar.
Dalam kesempatan itu, Haedar juga meresmikan Gedung Madrasah Diniyah Takmiliyah Mubalighin Muhammadiyah Kaliduren yang berdiri di atas tanah wakaf keluarga Sumanta dengan nadzir Muhammadiyah.(Cris)

