Berpikir Wasathiyah dan Inklusif, Modal Kader Nasyiatul Aisyiyah Hadapi Kompleksitas Zaman

Suara Muhammadiyah

8 August 2026

98
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Tim Medkom PP Muhammadiyah

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Tim Medkom PP Muhammadiyah

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam menjalankan roda organisasi, kader Nasyiatul Aisyiyah dituntut untuk berpikir wasatiyah--selain daripada berilmu. 

Bagi Haedar Nashir, ini menjadi sangat fundamental, sebab, cara berpikir wasathiyah tidak hanya berkaitan dengan sikap moderat, tetapi juga kemampuan menempatkan diri secara proporsional dalam menghadapi pelbagai tantangan yang mengungkung.

"Seimbang. Tidak terjebak kepada ekstremitas. Baik yang kanan maupun yang kiri," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (7/8) saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Selain itu, kader Nasyiatul Aisyiyah harus inklusif atau terbuka terhadap keberagaman baik secara agama, suku, ras, dan golongan tanpa mencerabut nilai-nilai dasar Islam berkemajuan.

"Kuat dalam pendirian, tapi toleran terhadap perbedaan, inklusivitas, dan bisa hidup dalam keragaman," ujarnya.

Haedar mengingatkan, kultur masyarakat Indonesia amat majemuk. Di sinilah peran vital dakwah kader Nasyiatul Aisyiyah di akar rumput bisa merasuk ke jantung kehidupan masyarakat secara luas.

"Dakwah Nasyiatul Aisyiyah sampai ke pelosok. Masyarakat kita itu beragam. Maka, jika ingin diterima terus (dakwahnya), hargai keragaman itu," tegas Haedar.

Kiprah kader Nasyiatul Aisyiyah tersebut diproyeksikan membawa peradaban berkelanjutan. Demikian aksentuasi Haedar terhadap tema Muktamar ke-15; "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan."

Di sini, Haedar mengingatkan, membangun peradaban itu sangat berat. Kenapa begitu? "Peradaban itu puncak kebudayaan tertinggi yang kompleks," jelasnya.

Dan, kata kebudayaan di situ menurut Haedar, sebagai sistem pengetahuan kolektif yang mencakup sistem kepercayaan, bahasa, kesenian, sistem ekonomi, mata pencaharian, organisasi sosial, teknologi, dan ilmu pengetahuan.

"Jika elemen ini sudah kita bangun dengan puncak yang makin tinggi, maka kita sebut sebagai peradaban," jelasnya.

Yang kemudian, dibentangkan Haedar lagi, kader Nasyiatul Aisyiyah mesti berperan nyata untuk kemaslahatan, kemajuan dan kejayaan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Hal ini merupakan aktualisasi dari Qs adz-Dzariyat ayat 56.

"Selalu berpikir luas, melampaui halaman rumah kita. Selalu ingin bergaul dengan siapa pun. Dan ingat, posisi kita di mana pun, harus kita perankan untuk kemaslahatan orang banyak, apalagi yang berada di posisi struktural pemerintahan," tekannya.

Semua itu merupakan bagian yang sungguh tidaklah mudah dilakukan di lapangan kehidupan. Tetapi, Haedar optimis, kader Nasyiatul Aisyiyah mampu melakukannya seberapapun beratnya kondisi yang terjadi, perempuan muda berkemajuan untuk peradaban berkelanjutan itu dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.

"Nasyiatul Aisyiyah harus hadir berada di garis depan. Berilah teladan tidak lewat kata-kata, tetapi lewat perbuatan nyata, sebagaimana jargon yang menjadi kultur kita, sedikit bicara, banyak bekerja," tukasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Wujud pendidikan karakter tidak hanya dipahami peserta didik di ....

Suara Muhammadiyah

28 January 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Pada Sabtu, 13 Juli 2024, bertempat di Gedung AR Fachrudin B Kamp....

Suara Muhammadiyah

20 July 2024

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah – Peresmian masjid dan 2 lokal kelas Pondok Pesantren Tahfidzul ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suar aMuhammadiyah - Resmi meraih Akreditasi ‘UNGGUL’ pada pertengahan ....

Suara Muhammadiyah

4 April 2024

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah — Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan sekaligus menanamk....

Suara Muhammadiyah

10 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah