SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Badan Kerja Sama (BKS) SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman menggelar Workshop Sukses SPMB Tahun Pelajaran 2027/2028, Jumat-Sabtu (7-8/8) di Aula Satriafi, Kaliurang, Sleman. Kegiatan ini diikuti oleh 27 kepala sekolah SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman.
Ketua BKS SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman, Hendro Sucipto menyampaikan, keberhasilan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak hanya ditentukan oleh promosi sekolah, tetapi juga oleh kemampuan sekolah memahami dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
"Kita tidak cukup hanya mengelola sekolah dengan baik, tetapi juga harus mampu membaca kebutuhan masyarakat. Karena itu, analisis sosial menjadi penting agar sekolah dapat memahami peluang, tantangan, dan harapan masyarakat terhadap pendidikan Muhammadiyah," ujarnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Persaingan antar sekolah semakin ketat, sementara jumlah peserta didik di beberapa wilayah cenderung menurun. “Kondisi tersebut menuntut sekolah Muhammadiyah untuk terus melakukan inovasi dan menyusun strategi yang lebih adaptif, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Surakhmad menegaskan, sekolah Muhammadiyah memiliki modal besar untuk terus mendapatkan kepercayaan masyarakat. Selain kualitas akademik, sekolah Muhammadiyah memiliki kekuatan pada pembentukan karakter dan pendidikan keislaman yang menjadi kebutuhan penting bagi orang tua.
"Orang tua tidak hanya mencari sekolah yang unggul secara akademik, tetapi juga sekolah yang mampu membentuk karakter anak. Pendidikan shalat, membaca Al-Qur’an, pembiasaan ibadah, dan pembentukan akhlak merupakan nilai tambah yang harus terus kita kuatkan dan komunikasikan kepada masyarakat," tuturnya.
Pada hari pertama workshop, peserta mendapatkan materi dari Eko Prasetyo, aktivis sosial dan penulis buku. Ia mengajak para kepala sekolah untuk melihat pendidikan tidak hanya dari sisi manajerial, tetapi juga dari realitas sosial yang berkembang di masyarakat.
Menurut Eko, sekolah yang mampu memahami kebutuhan masyarakat, membangun harapan, serta menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan publik.
"Pendidikan harus menumbuhkan optimisme. Sekolah tidak hanya mencetak anak yang berprestasi, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki karakter, kepedulian sosial, dan keyakinan bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik," ungkapnya.
Sisi lain, Abdullah Mukti, mengatakan, kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
"Sekolah yang dicintai masyarakat adalah sekolah yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada murid dan orang tua. Ketika murid merasa nyaman, diperhatikan, dan mendapatkan layanan yang berkualitas, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya," ujar Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah itu.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan mampu merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

