Bu, Saya Mau Bertanya, Tapi Malu . . .

Dok Istimewa
Dok Istimewa

“Bu, Saya Mau Bertanya, Tapi Malu . . .”

Oleh-Oleh Hasil TOT Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan oleh Nasyiatul Aisyiyah dan UNFPA

Oleh: Agus Sholeh, Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah

“Bu, apa boleh saya bertanya ?, tetapi malu.”

“Ayo, sini. Tidak usah malu-malu. Kita bisa ngobrol di ruang BK.”

Bayangkan percakapan sederhana antara seorang siswa dan gurunya itu. Sang anak akhirnya memberanikan diri menyampaikan sesuatu yang selama ini mungkin disimpannya sendiri. Sang guru menyambutnya dengan tenang, tanpa menghakimi atau membuatnya merasa bersalah karena bertanya.

Barangkali percakapan seperti ini berlangsung setiap hari di sekolah-sekolah kita. Namun, jangan-jangan, tidak sedikit pula anak yang mengurungkan niatnya. Mereka takut dianggap nakal, khawatir pertanyaannya disalahartikan, atau malu membicarakan sesuatu yang sejak kecil diajarkan sebagai hal yang tabu.

Percakapan sederhana itulah yang kembali mengusik pikiran saya setelah mengikuti Training of Trainers (TOT) Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) bersama United Nations Population Fund (UNFPA) pada 21-24 Oktober 2026. Pelatihan ini mengajak kita melihat kembali pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja, sekaligus memikirkan bagaimana sekolah, keluarga, dan para pendidik mendampingi mereka melewati masa pertumbuhan.

Semakin direnungkan, persoalannya ternyata bukan sekadar apakah remaja sudah memperoleh informasi yang benar tentang tubuhnya. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah mereka mempunyai keberanian untuk bertanya, dan apakah orang dewasa di sekitarnya bersedia mendengarkan?

Keberanian Bertanya adalah Kemajuan

Masa remaja merupakan periode perubahan. Tubuh berkembang, emosi mengalami dinamika, dan rasa ingin tahu tumbuh semakin besar. Anak mulai bertanya tentang menstruasi, mimpi basah, kebersihan organ reproduksi, ketertarikan kepada orang lain, serta berbagai persoalan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan kenakalan. Justru, pertanyaan merupakan bagian dari proses belajar dan mengenali diri. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pertanyaan tersebut dijawab, dari mana informasi diperoleh, dan siapa yang mendampingi anak ketika ia menghadapi kebingungan.

Di zaman ketika telepon genggam berada dalam genggaman hampir setiap saat, remaja dapat menemukan beragam informasi hanya dengan beberapa sentuhan layar. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti kemudahan mendapatkan pengetahuan yang benar. Informasi yang keliru, tidak sesuai usia, bahkan menyesatkan dapat bercampur dengan pengetahuan yang bermanfaat.

Ketika orang tua dan guru menutup ruang percakapan, anak belum tentu berhenti mencari jawaban. Ia mungkin justru beralih kepada teman sebaya, media sosial, atau sumber lain yang tidak dapat memastikan kebenaran informasi maupun memahami situasi yang sedang dihadapinya.

Karena itu, keberanian seorang siswa untuk datang kepada gurunya dan berkata, “Bu, saya mau bertanya, tetapi malu,” patut kita pandang sebagai sebuah kemajuan. Anak itu sedang belajar mempercayai orang dewasa. Ia sedang mencoba mengatasi rasa sungkan demi memperoleh pemahaman yang dibutuhkannya.

Keberanian tersebut tidak boleh disia-siakan. Respons pertama yang diterimanya dapat menentukan apakah kelak ia akan kembali bertanya atau memilih menyimpan persoalannya sendirian.

Mendengarkan Juga Sebuah Perjuangan

Kita sering berbicara tentang perjuangan guru. Ukurannya antara lain pengabdian, kemampuan mengajar, prestasi siswa, dan keberhasilan meningkatkan mutu sekolah. Semua itu penting. Namun, ada bentuk perjuangan lain yang mungkin tidak tercatat dalam laporan kinerja: kesediaan seorang guru mendengarkan cerita muridnya dengan sungguh-sungguh.

Tidak semua guru merasa mudah membicarakan kesehatan reproduksi. Ada yang belum memiliki pengetahuan memadai, ada yang khawatir salah menyampaikan informasi, dan ada pula yang merasa canggung karena persoalan tersebut dianggap terlalu sensitif. Kekhawatiran itu manusiawi. Akan tetapi, ketidaknyamanan orang dewasa tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan kebutuhan belajar anak terabaikan.

Kesediaan mendengarkan membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan ketulusan. Guru harus mampu menjawab sesuai pengetahuan yang dimilikinya, menjaga privasi siswa, serta mengetahui kapan harus melibatkan guru BK, orang tua, atau tenaga profesional yang kompeten.

Guru tidak harus selalu mempunyai jawaban sempurna. Ada kalanya ia perlu berkata, “Pertanyaanmu penting. Mari kita cari jawaban yang benar.” Sikap semacam ini tidak mengurangi wibawa guru. Sebaliknya, kejujuran mengakui batas pengetahuan justru mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan pentingnya mencari informasi yang dapat dipercaya.

Di ruang BK, percakapan yang tampak sederhana dapat menjadi pengalaman yang berarti bagi seorang anak. Ia belajar bahwa dirinya layak didengarkan, bahwa pertanyaannya tidak otomatis membuatnya menjadi anak nakal, dan bahwa persoalan yang membingungkan dapat dibicarakan dengan cara yang baik.

Mendengarkan bukan berarti menyetujui semua keinginan atau membenarkan setiap perilaku. Guru tetap perlu memberikan batasan dan arahan moral. Bedanya, batasan itu disampaikan dengan penjelasan, bukan semata-mata ancaman; dengan pendampingan, bukan penghukuman yang membuat anak takut untuk terbuka.

Keberanian siswa dan ketulusan guru sesungguhnya saling bertemu. Yang satu berjuang mengatasi rasa malu untuk berbicara, sementara yang lain berjuang mengatasi rasa canggung, keterbatasan pengetahuan, dan prasangka untuk mendengarkan. Keduanya sedang belajar, dan keduanya sedang bergerak maju.

Menyelamatkan Generasi

Di sinilah pengalaman mengikuti TOT Kesehatan Reproduksi Remaja perlu melahirkan langkah yang lebih nyata. Pelatihan tidak boleh berhenti pada bertambahnya pengetahuan peserta atau tersimpannya sertifikat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh harus diteruskan kepada mereka yang paling membutuhkannya, yaitu para remaja di sekolah, madrasah, dan pesantren.

Nasyiatul Aisyiyah dan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah memiliki ruang strategis untuk membangun kolaborasi ini. Nasyiatul Aisyiyah dengan perhatian dan pengalamannya dalam pemberdayaan perempuan muda serta isu remaja, dan Majelis Dikdasmen PNF dengan jaringan pendidikan Muhammadiyah, dapat mempertemukan keahlian, program, dan jangkauan kerja. Para pendidik yang telah mengikuti TOT pun dapat menjadi penggerak awal edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan masing-masing.

Langkahnya tidak harus menunggu program besar. Kita dapat memulainya dengan memetakan kebutuhan sekolah dan madrasah, menyiapkan materi yang sesuai dengan usia dan perspektif Islam, melatih guru agar mampu berdialog secara santun, serta membangun mekanisme pendampingan yang menjaga privasi dan keselamatan siswa. Edukasi juga perlu melibatkan orang tua agar percakapan yang sehat tidak berhenti ketika anak meninggalkan gerbang sekolah.

Mengapa ikhtiar ini mendesak? Sebab, remaja hari ini tumbuh dalam lingkungan informasi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Teknologi digital membuka kesempatan belajar yang luas, tetapi juga membawa risiko paparan konten seksual yang tidak sesuai usia, informasi kesehatan yang keliru, eksploitasi, perundungan, dan berbagai pengaruh media yang membentuk persepsi secara tidak sehat. Tanpa pendampingan, anak dapat kesulitan membedakan informasi yang benar, opini yang bias, dan konten yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Kita tidak mungkin menutup seluruh akses informasi. Yang harus dilakukan ialah memperkuat kemampuan remaja untuk memilah informasi, memahami risiko, menjaga diri, menghormati orang lain, dan mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Di sinilah peran guru, keluarga, organisasi perempuan muda, dan lembaga pendidikan menjadi semakin penting.

Bagi Muhammadiyah, ikhtiar tersebut selaras dengan cita-cita menghadirkan pendidikan yang berkemajuan. Sekolah dan madrasah tidak cukup hanya mencetak anak yang berprestasi secara akademik. Kita juga ingin membentuk generasi yang sehat, percaya diri, mampu berpikir kritis, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, kolaborasi Nasyiatul Aisyiyah dan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah perlu diterjemahkan menjadi gerakan edukasi yang terencana dan berkelanjutan. Bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan pendampingan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh siswa, guru, dan orang tua.

Saya memandang ikhtiar ini sebagai bagian dari jihad Pendidikan, yaitu kesungguhan berjuang melindungi dan mempersiapkan generasi muda melalui ilmu, pendidikan, keteladanan, dan pendampingan. Jihad yang tidak berhenti pada seruan moral, tetapi hadir dalam kerja nyata untuk mencegah kerusakan, mengurangi risiko, dan membuka jalan bagi masa depan anak-anak kita.

Ini bukan semata-mata urusan satu organisasi atau satu mata pelajaran. Ini adalah panggilan bersama untuk menjaga masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia. Upaya membentengi generasi dari dekadensi moral tidak cukup dengan memperbanyak larangan. Kita harus menghadirkan pengetahuan yang benar, lingkungan yang sehat, teladan yang baik, dan orang dewasa yang dapat dipercaya.

Pendidikan yang bermutu tidak hanya terlihat dari nilai ujian, banyaknya prestasi, atau megahnya gedung sekolah. Mutu Pendidikan juga tercermin dari hal-hal yang lebih sederhana, seperti apakah seorang anak berani menyampaikan kebingungannya, apakah guru bersedia mendengarkan tanpa mempermalukannya, dan apakah sekolah mampu memberikan jawaban serta pendampingan yang bertanggung jawab.

Ketika seorang siswa berkata, “Bu, saya mau bertanya, tetapi malu,” sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu pendidikan. Keberanian untuk bertanya adalah sebuah kemajuan. Dan kesediaan dan ketulusan guru untuk membuka pintu dialog dengan siswa adalah sebuah perjuangan.

Dari percakapan sederhana antara seorang siswa dan gurunya ini telah membukan pintu jihad pendidikan. Tugas kita adalah memastikan bahwa pintu yang telah terbuka tersebut adalah pintu yang aman untuk lalu lalang siapapun dan tidak kembali tertutup.

“Bu, terima kasih, saya tenang sekarang. Lanjut sekolahnya.”