SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Implementasi permusyawaratan di organisasi otonom, lebih-lebih Nasyiatul Aisyiyah, semestinya dijadikan ruang memancangkan komitmen dakwah di akar rumput. Demikian Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto mengemukakan.
"Yang namanya permusyawaratan di Muhammadiyah dan ortom-ortomnya bukan hanya sekedar kontestasi memilih siapa yang akan dijadikan pemimpin di masa yang akan datang, tetapi bagaimana memperkokoh komitmen Nasyiatul Aisyiyah melaksanakan dakwah Islam Amar Ma'ruf Nahi Mungkar," tegasnya.
Di samping itu, jauh lebih fundamental, ialah menjadi wahana untuk merekatkan kohesivitas dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
"Itu sangat penting sekali," tekannya, Kamis (6/8) saat membuka Tanwir ke-3 Nasyiatul Aisyiyah di Puri Nalendra Ballroom Hotel Lor In Syariah, Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah.
Karena bagi Agung, pertemanan, persahabatan, dan ukhuwah yang terjalin sejak di Nasyiatul 'Aisyiyah harus terus berlanjut. Ikatan itu tidak berhenti saat kader meninggalkan NA, melainkan terus terpelihara hingga bergabung di 'Aisyiyah, bahkan sampai memasuki masa tua.
"Karenanya ee forum musyawarah seperti ini kontestasi silakan jalan tetapi kontestasi jangan sampai merusak ukhuwah. Jangan sampai merusak kebersamaan," tegasnya.
Sekalipun demikian, Muktamar tetap menjadi ruang kontestasi. Namun, kontestasi yang dimaksud adalah fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan untuk memilih calon-calon terbaik.
"Tentu track record dan lain sebagainya harus dilihat," ujarnya, yang menggarisbawahi pentingnya komitmen utama yang dipegang yang berpokok pangkal pada Maklumat PP Muhammadiyah: hindari permusyawaratan di Muhammadiyah menjadi permusyawaratan ala partai politik.
"Di Muhammadiyah enggak boleh yang seperti itu. Cita-cita menghalalkan segala cara enggak boleh. Cara harus baik. Cita-cita baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik," terang Agung.
Sehingga karenanya, pelbagai macam hal yang muaranya mendestruksi Marwah Nasyiatul Aisyiyah, Agung wanti-wanti betul agar dapat dihindarkan.
"Itu harus dijauhkan sejauh mungkin dari kontestasi di Nasyiatul Aisyiyah, tetapi yang harus dikedepankan adalah hati nurani," bebernya, dengan tetap memperhatikan kompetensi dan track recordnya, apakah laik dijadikan pemimpin berikutnya atau tidak.
"Akan memilih siapa? Itu tergantung pada track recordnya, bagaimana kualitasnya, dan lain sebagainya yang diharapkan dapat akan membawa Nasyiatul Aisyiyah ke depan depan menjadi lebih baik," tutur Agung.
Seraya mengingatkan, dinamika kehidupan jauh semakin kompleks dan tidak mudah. Di sinilah Agung meminta kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah untuk saksama dalam berorganisasi dengan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah, kebersamaan, dan semangat fastabiqul khairat.
"Karena beban tanggung jawab Nasyatul Aisyiyah ke depan bukannya semakin ringan tetapi semakin berat," tandasnya. (Cris)

