Bukan Paguyuban, tapi Gerakan Islam; Ini Alasan Kiai Dahlan Mendirikan Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

8 September 2026

32
Dr KH Tafsir, MAg

Dr KH Tafsir, MAg

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah yang dirintis Kiai Dahlan di Yogyakarta tahun 1912, kini telah berusia lebih dari 1 abad. Kini, yang menjadi pertanyaan kemudian, “Mengapa Muhammadiyah harus berdiri?” 

Demikian pertanyaan Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Selasa (8/9) saat Masa Ta'aruf Universitas Muhammadiyah Semarang Tahun 2026 di Gedung Serba Guna.

Menurut Tafsir, sekira 1900-an, kehidupan bangsa Indonesia berada dalam kepungan terjajah. “Karena terjajah, maka bangsa Indonesia dalam kondisi bodoh, miskin, terbelakang,” bebernya.

Atas pembeberan itu, ada semangat yang membalut jiwa dan alam pikiran Kiai Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Pertama, semangat dakwah.

“Muhammadiyah didirikan karena semangat dakwah, mengajak orang berbuat baik, mencegah orang berbuat keburukan,” ujarnya.

Penekanan Tafsir di situ berpokok pangkal dari sosok Kiai Dahlan sendiri, sebagai seorang pejuang Islam, di samping pejuang bangsa Indonesia.

“Indonesia mayoritas muslim, tapi bodoh, miskin, dan terbelakang,” bebernya menyingkap kondisi pada saat itu.

Di situlah upaya demikian rupa terus dilakukan Kiai Dahlan untuk memberantas penyakit kronis yang menjangkiti kehidupan umat Islam, khususnya bangsa Indonesia secara keseluruhan.

“Islam yang membangun semangat kemajuan disebarkan di Indonesia, mengajak orang berbuat baik, mengajak orang menganut agama Islam,” tuturnya, menukil Qs ali-Imran ayat 104. “Itu salah satu landasan latarbelakang berdirinya Muhammadiyah,” tambahnya.

Kedua, semangat berkemajuan. Dengan latarbelakang terbentang tadi, maka pendirian Muhammadiyah dimaksudkan untuk berdirikari dari keterjajahan tersebut.

“Untuk bisa itu, harus membangun semangat kemajuan di tengah-tengah masyarakat, bangsa Indonesia, dan juga umat Islam,” terangnya.

Semangat itu lahir karena kondisi bangsa Indonesia pada kala itu sangat keterbelakang dan keterjajahan. Bahkan, sebut Tafsir, situasi demikian tidak terjadi di Indonesia semata.

“Seluruh negeri dengan mayoritas muslim, itu menjadi negara-negara yang terjajah oleh Eropa, yang kemudian menjadi miskin, bodoh, dan keterbelakang,” ulasnya.

Di situlah kesadaran kolektif Kiai Dahlan muncul. “Umat Islam harus dimajukan,” tegas Tafsir. Termasuk, di dalamnya adalah mencakup terbebas dari belenggu keterjajahan. 

“Umat Islam harus terbebas dari kebodohan. Umat Islam harus terbebas dari kemiskinan. Umat Islam harus terbabas dari keterbelakangan,” imbuhnya.

Untuk bisa membangun bangsa dan umat yang maju, mesti diperkuat landasan fundamentalnya, yakni pendidikan dan kesehatan. “Ini harus baik,” ucapnya. Inilah dua variabel yang terus diperkuat oleh Muhammadiyah.

“Karena sadar untuk membangun masyarakat yang maju harus dibangun, pendidikan dan kesehatan. Tanpa itu hampir dipastikan tidak mungkin,” tegasnya.

Selain itu, bidang sosial juga diperkuat. Dari situ, lahirlah panti asuhan. “Di seluruh Indonesia bertebaran panti asuhan Muhammadiyah,” urainya.

Bahkan, di saat pemerintah Indonesia belum mendirikan panti asuhan, tapi Muhamamdiyah lebih dulu mendirikan panti asuhan.

“Karena apa? Muhammadiyah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Dan sebagian yang mendirikan negeri ini adalah tokoh Muhammadiyah. Tidak mungkin negara Indonesia terpisah dari Muhammadiyah,” tegasnya, menambahkan semangat berikutnya, tolong menolong dan kemanusiaan yang bersifat universal.

“Itulah kenapa Muhammadiyah berdiri,” terangnya.

Sebuah Gerakan, Bukan Paguyuban

Dan setelah Muhammadiyah berdiri, kata Tafsir, dirumuskan identitas Muhammadiyah. “Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah,” ulasnya menukil Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Tujuan apa? “Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” imbuhnya. 

Di situlah ditekankan Tafsir, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. “Muhammadiyah adalah gerakan, bukan sekadar paguyuban. Tidak sekadar organisasi, tapi gerakan,” terangnya.

Dengan dinisbahkan sebagai gerakan, Muhammadiyah terus bergerak secara berkelanjutan dalam implementasi dakwah di akar rumput. Bukan sekadar gerakan, tapi dilandasi dengan nilai-nilai Islam.

“Tidak pasif. Dengan segala kemampuannya, Muhammadiyah melakukan dalam bentuk gerakan pemikiran maupun gerakan masyarakat,” jelasnya.

Dan sampai saat ini, Muhammadiyah tidak patah arang dalam berdakwah di tengah masyarakat. Dakwah yang memberikan manfaat dan dampak secara nyata. Dan itu, benar-benar dirasakan secara niscaya sampai sekarang. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah — Sebanyak 262 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Mu....

Suara Muhammadiyah

9 May 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menyelenggarakan Apel Milad ke - 63 ....

Suara Muhammadiyah

19 July 2024

Berita

Menjadi Mukmin yang Kuat, Berakhlak, dan Berkemajuan SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah – Pondok P....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – RS Islam Jakarta Cempaka Putih merayakan milad ke-53 pada Selasa....

Suara Muhammadiyah

25 June 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaik....

Suara Muhammadiyah

10 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah