BANTUL, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan 1447 H sudah berada di penghujung. Pada momen ini, amat laik merefleksikan sejauh mana implementasi sudah diletakkan sesuai koridornya atau justru bergeser dari esensinya.
Ramadhan, diletakkan basis dasarnya oleh Deni Asy'ari sebagai bulan jihad (Syahrul al-Jihad). Yakni bulan perjuangan segalanya.
Perjuangan di sini diobyektivikasikan dengan perjuangan menahan lapar dan dahaga, berikut hawa nafsu.
Secara universal, kata Deni, cabang pemaknaan perjuangan ini meniscayakan perjuangan membangun kesabaran, perjuangan membangun amal, dan perjuangan membangun solidaritas.
"Disebut sebagai Syahrul Jihad karena kita tahu bahwa banyak momen-momen jihad, momen-momen perjuangan di zaman Rasulullah yang itu terjadi pada bulan Ramadhan," jelasnya.

Tersebut di antaranya Perang Badar tahun 2 Hijriah, Perang Khandaq tahun 5 Hijriah. Lalu, Fathul Makkah tahun 8 Hijriah dan Perang Tabuk tahun 9 Hijriah.
"Jadi wajar kemudian Ramadan disebut sebagai Syahrul Jihad, bulannya berperang," tutur Deni, Selasa (17/3) saat Kajian I'tikaf Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Piyungan di Musala Darussalam Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul.
Namun demikian, konteks perjuangan ini tidak selalu ekuivalen dengan peperangan. Lebih komprehensif, sebagaimana disebut tadi, perjuangan membangun solidaritas jamaah atau solidaritas sosial.
"Karena pada bulan Ramadan ini momen yang disebut untuk membangun kekuatan jemaah ini sangat potensial," ujar Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah itu.
Maka, di sinilah relevansi konteks Syahrul Al-Jihad yang dinisbahkan dalam kerangka bulan Ramadhan. Bukan hanya konsolidasi spiritualitas, saat yang sama, mengerucut pada membangun kekuatan jemaah.
"Ramadhan yang kita jalankan ini sangat disayangkan kalau hanya lepas pada aspek ritualitas semata tetapi tidak mengambil makna yang disebut Syahrul Jihad," beber Wakil Sekretaris 1 Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Konklusi Deni, Syahrul Jihad sebagai bagian integral daripada ibadah. Dan momen ini menjadi sangat tepat untuk menguatkan bangunan ekonomi berbasis jamaah.
"Kita harus jadikan Ramadhan sebagai kekuatan kita membangun ekonomi, membangun kemandirian umat," tegas Deni.
Bahkan Deni sampai menyebut, hal demikianlah itu menjadi citra darinkarakter Islam sebenarnya.
"Bahkan karakter Muhammadiyah sebenarnya," tandasnya. (Cris)
