Bukan Sekadar Konsolidasi Spiritual, tapi Perjuangan Membangun Kekuatan Jamaah

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
429
Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan 1447 H sudah berada di penghujung. Pada momen ini, amat laik merefleksikan sejauh mana implementasi sudah diletakkan sesuai koridornya atau justru bergeser dari esensinya.

Ramadhan, diletakkan basis dasarnya oleh Deni Asy'ari sebagai bulan jihad (Syahrul al-Jihad). Yakni bulan perjuangan segalanya.

Perjuangan di sini diobyektivikasikan dengan perjuangan menahan lapar dan dahaga, berikut hawa nafsu.

Secara universal, kata Deni, cabang pemaknaan perjuangan ini meniscayakan perjuangan membangun kesabaran, perjuangan membangun amal, dan perjuangan membangun solidaritas.

"Disebut sebagai Syahrul Jihad karena kita tahu bahwa banyak momen-momen jihad, momen-momen perjuangan di zaman Rasulullah yang itu terjadi pada bulan Ramadhan," jelasnya.

Tersebut di antaranya Perang Badar tahun 2 Hijriah, Perang Khandaq tahun 5 Hijriah. Lalu, Fathul Makkah tahun 8 Hijriah dan Perang Tabuk tahun 9 Hijriah.

"Jadi wajar kemudian Ramadan disebut sebagai Syahrul Jihad, bulannya berperang," tutur Deni, Selasa (17/3) saat Kajian I'tikaf Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Piyungan di Musala Darussalam Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul.

Namun demikian, konteks perjuangan ini tidak selalu ekuivalen dengan peperangan. Lebih komprehensif, sebagaimana disebut tadi, perjuangan membangun solidaritas jamaah atau solidaritas sosial.

"Karena pada bulan Ramadan ini momen yang disebut untuk membangun kekuatan jemaah ini sangat potensial," ujar Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah itu.

Maka, di sinilah relevansi konteks Syahrul Al-Jihad yang dinisbahkan dalam kerangka bulan Ramadhan. Bukan hanya konsolidasi spiritualitas, saat yang sama, mengerucut pada membangun kekuatan jemaah.

"Ramadhan yang kita jalankan ini sangat disayangkan kalau hanya lepas pada aspek ritualitas semata tetapi tidak mengambil makna yang disebut Syahrul Jihad," beber Wakil Sekretaris 1 Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Konklusi Deni, Syahrul Jihad sebagai bagian integral daripada ibadah. Dan momen ini menjadi sangat tepat untuk menguatkan bangunan ekonomi berbasis jamaah.

"Kita harus jadikan Ramadhan sebagai kekuatan kita membangun ekonomi, membangun kemandirian umat," tegas Deni.

Bahkan Deni sampai menyebut, hal demikianlah itu menjadi citra darinkarakter Islam sebenarnya.

"Bahkan karakter Muhammadiyah sebenarnya," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Ahmad Nausrau, alumni Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah (....

Suara Muhammadiyah

16 May 2025

Berita

METRO, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (UM) Metro kembali menunjukkan kiprahnya ....

Suara Muhammadiyah

14 April 2026

Berita

BANGKALAN, Suara Muhammadiyah - Lima siswa terbaik Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Desa Bu....

Suara Muhammadiyah

1 November 2024

Berita

Ramadhan sebagai Sekolah Karakter: Lulus atau Sekadar Lewat? Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Gur....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Ribuan pendekar dan kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari b....

Suara Muhammadiyah

11 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah