Bulan Sya’ban: Menyimpan Sebuah Peristiwa Penting dalam Kehidupan Umat Islam
Oleh: Rumini Zulfikar (GusZul), Penasihat PRM Troketon, Pesan, Klaten
“Dalam hidup, setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun ada momen-momen (peristiwa) yang terjadi, baik itu suka maupun duka, dalam kehidupan umat manusia.”
Tidak terasa, saat ini kita sudah memasuki bulan Sya’ban, yang diapit oleh bulan yang dimuliakan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Sya’ban merupakan sebuah bulan dalam kalender hijriah. Orang Jawa menyebutnya Bulan Ruwah.
Mengapa disebut Bulan Ruwah? Karena orang Jawa mengadopsi dari Negeri Syam (Zaman), di mana pada bulan Sya’ban banyak masyarakat di negeri Syam melakukan tradisi atau kebiasaan menziarahi para leluhur. Tradisi tersebut disebut bulan Arwah. Di Jawa kemudian dikenal sebagai Bulan Ruwah.
Pada bulan Ruwah itulah, tradisi yang dilakukan oleh warga masyarakat (sebagian umat Islam) antara lain mengadakan bersih desa atau nyadran dengan membersihkan makam para leluhur dan anggota keluarga yang telah meninggal. Orang desa atau kampung menyebutnya nyekar. Selain itu, ada pula acara yang berkembang beberapa dekade lalu, yakni warga masyarakat mengadakan sedekah dengan kenduri di sekitar makam sebagai bentuk mendoakan para leluhur serta anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Jika dilihat secara perspektif kirim doa, tradisi ini memiliki makna spiritual. Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, pada bulan tersebut juga bisa terdapat peristiwa kelahiran seseorang. Ambil contoh bagi penulis, bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan kelahiran, tepatnya tanggal 21 Sya’ban 1399 H. Sehingga momen tersebut menjadi penanda atas sebuah peristiwa yang dialami oleh seseorang, baik secara personal maupun dalam lingkup umum.
Akan tetapi, di balik itu semua, bulan Sya’ban sejatinya menjadi saksi dari perjalanan hidup seorang manusia agung, pilihan Allah SWT, yang mendapatkan kemuliaan, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Dari beberapa sumber literasi disebutkan adanya beberapa peristiwa penting, di antaranya perubahan arah kiblat, perintah untuk memperbanyak shalawat, perintah menjalankan puasa Ramadhan, penyerahan amanah, serta pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Hafsah dan Siti Juwairiyah. Oleh karena itulah, bulan Sya’ban memberikan pelajaran atau ibrah dalam kehidupan umat manusia.
Dari sekian peristiwa tersebut, salah satu peristiwa yang menjadi tujuan atau penanda dalam membangun interaksi dengan Tuhan adalah perubahan arah kiblat dalam ibadah shalat. Inti sari shalat merupakan bentuk penghambaan seorang hamba kepada Allah SWT sebagai Sang Pemilik, agar semakin mengenal-Nya dengan lebih dekat melalui penjiwaan dan penghayatan yang sungguh-sungguh, baik dari aspek batiniah (hati dan pikiran) maupun jasmaniah (tindakan) dalam kehidupan sehari-hari.
Relevansi Arah Kiblat dalam Kehidupan Umat di Era Modern
Jika dalam shalat seseorang memiliki arah kiblat yang jelas, maka ia telah memiliki titik tujuan. Begitu pula dalam kehidupan, jika memiliki arah yang jelas, maka manusia tidak akan tersesat. Sebuah pelajaran yang diberikan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah sebagaimana di bawah ini sangat gamblang. Jika ditarik dalam kehidupan duniawi, maka ayat tersebut sangat relevan, bahwa manusia memiliki dua pilihan: menggunakan arah kiblat sebagai kompas kehidupan dengan rahmat dan ilmu-Nya, sehingga mampu memahami dan menghayati hakikat hidup; atau sebaliknya, hidup tanpa arah yang jelas, baik secara spiritual maupun moral.
Oleh karena itulah, di bulan Sya’ban ini mari kita merenungi ayat-ayat qauniyah Allah sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah berikut ini:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٤٤
qad narā taqalluba waj-hika fis-samā’, fa lanuwalliyannaka qiblatan tardlāhā fa walli waj-haka syathral-masjidil-ḥarām, wa ḥaitsu mā kuntum fa wallū wujūhakum syathrah, wa innalladzīna ūtul-kitāba laya‘lamūna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa mallāhu bighāfilin ‘ammā ya‘malūn.
“Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
Tadabbur Ayat
Ayat di atas sangat jelas memberikan informasi kepada umat manusia tentang perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu:
Pertama, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di benak pikiran dan laku Nabi yang memohon kepada Allah akan sebuah arah kiblat untuk beribadah kepada-Nya (ḥablum minallāh).
Kedua, karena ibadah merupakan urusan privat antara hamba dengan Tuhannya agar tersambung langsung dalam getaran tauhid, maka Allah memerintahkan Nabi untuk menghadap ke Masjidilharam, setelah sebelumnya menghadap Masjidil Aqsa.
Ketiga, bahwa orang-orang yang diberi kitab mengetahui kebenaran tersebut sebagai ketetapan dari Tuhan mereka.
Keempat, bahwa Allah SWT tidak pernah lengah terhadap apa yang dikerjakan oleh setiap makhluk ciptaan-Nya.
Oleh karena itu, momentum bulan Sya’ban yang berada di antara bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT hendaknya kita jadikan sebagai sarana memperbaiki diri dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan kawah candradimuka bagi umat beriman agar senantiasa menjadi insan yang terjaga ketakwaannya. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan berkah dari Allah SWT.

