Cahaya Kenabian dan Risalah Perempuan Berkemajuan: Memaknai Kembali Maulid Nabi di Abad Ke-21

Suara Muhammadiyah

25 August 2026

308
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Cahaya Kenabian dan Risalah Perempuan Berkemajuan: Memaknai Kembali Maulid Nabi di Abad Ke-21

 

Oleh: Prof. Ai Fatimah Nur Fuad, Ph.D., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, umat Islam di seluruh penjuru Nusantara gegap gempita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini hidup dalam berbagai ekspresi kultural, dari pembacaan barzanji di surau-surau desa hingga tablig akbar di pusat kota. Namun, sebagai seorang perempuan Muslim, pendidik, dan bagian dari gerakan perempuan Islam 'Aisyiyah, kita perlu merenungkan: di tengah ribuan selawat yang menggema, sejauh mana kita benar-benar menangkap pesan pembebasan yang dibawa oleh Sang Nabi, khususnya terkait harkat dan martabat perempuan?

 

Bagi kita, peringatan Maulid tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Membaca kembali sirah nabawiyah sejatinya adalah membaca sebuah manifesto keadilan sosial. Nabi Muhammad SAW lahir di tengah struktur masyarakat yang sangat patriarkis dan misoginis. Pada masa Jahiliyah, perempuan bukan sekadar warga kelas dua; bahkan lebih rendah dari itu, mereka dianggap sebagai properti, aib yang memalukan, hingga tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup menjadi hal yang lumrah.

 

Di tengah kegelapan peradaban itulah, Islam hadir membawa cahaya revolusi. Dan Sang Nabi adalah revolusioner sejati yang mendobrak keangkuhan sistem jahiliyah masyarakat tersebut.



Mendobrak Jahiliah, Meretas Kesetaraan

Langkah pertama dan utama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bukanlah sekadar mengajarkan ritual ibadah, melainkan mengembalikan fitrah kesejatian umat manusia. Al-Qur'an secara tegas melarang praktik pembunuhan bayi perempuan. Lebih jauh, Islam memberikan hak-hak revolusioner yang pada abad ke-7 belum pernah dibayangkan oleh peradaban mana pun: hak kepemilikan harta, hak waris, hak memilih pasangan, hingga hak untuk berpartisipasi dalam ruang publik.

 

Kita bisa melihat bagaimana Nabi memosisikan perempuan melalui perempuan-perempuan hebat di sekelilingnya. Siti Khadijah bukan sekadar istri; beliau adalah "investor" utama dakwah Islam, seorang saudagar tangguh yang mandiri secara finansial dan intelektual. Siti Aisyah, yang namanya diabadikan menjadi nama gerakan perempuan Muhammadiyah, adalah seorang cendekiawan, periwayat ribuan hadis, ahli hukum, dan rujukan politik umat pada masanya.

 

Di ruang domestik, Nabi Muhammad memberikan teladan yang meruntuhkan konstruksi maskulinitas beracun (toxic masculinity). Beliau tidak segan menjahit bajunya sendiri, menambal sepatunya, dan melayani keluarganya. Beliau mencontohkan bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab bersama, bukan kodrat mutlak perempuan yang membelenggu mereka dari kemajuan. Sabda beliau, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya," adalah fondasi utama dari relasi kesalingan (mubadalah) dalam keluarga Islam.



Aisyiyah dan Estafet Perjuangan Kenabian

Di Indonesia, semangat pembebasan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW menemukan resonansinya secara nyata melalui gerakan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Ketika KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) merintis 'Aisyiyah pada tahun 1917, mereka sedang mempraktikkan sunah Nabi dalam konteks modern.

 

Pada awal abad ke-20, perempuan Indonesia masih terpinggirkan, buta huruf, dan dikurung dalam dogma sumur, dapur, kasur. Namun, Nyai Walidah dengan keberanian profetiknya membawa perempuan keluar rumah untuk belajar, mengaji, berorganisasi, dan memimpin. Gerakan Sopo Tresno yang menjadi cikal bakal 'Aisyiyah adalah wujud nyata dari upaya meneruskan risalah kenabian: bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk menjadi khalifah fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi) yang menebar rahmat dan kasih sayang.

 

Di sisi lain, Teologi al-Ma'un yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan tidak hanya berbicara tentang menyantuni fakir miskin, tetapi juga tentang membela kaum yang dilemahkan secara struktural (mustadhafin), dan dalam banyak konteks, kaum mustadhafin itu adalah perempuan. Maka perjuangan mengangkat harkat dan martabat perempuan, tidak lain adalah implementasi teologi al-Ma’un yang sangat fundamental.

 

Menghadapi "Jahiliah Kontemporer" di Indonesia

Hari ini, lebih dari satu abad setelah 'Aisyiyah berdiri, dan 14 abad setelah Nabi wafat, apakah perjuangan keadilan gender di Indonesia sudah selesai? Sayangnya, belum. Kita masih berhadapan dengan apa yang saya sebut sebagai "Jahiliah Kontemporer."

 

Bentuknya tidak lagi berupa penguburan bayi perempuan secara fisik, melainkan penguburan masa depan mereka. Praktik perkawinan anak masih menempatkan Indonesia di urutan atas secara global. Angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan seksual, hingga angka kematian ibu (AKI) dan stunting masih menjadi “pekerjaan rumah” besar bangsa ini. Ironisnya, sebagian dari ketidakadilan ini sering kali masih dibungkus dan dilanggengkan dengan tafsir-tafsir keagamaan yang bias gender dan terfragmentasi.

 

Di sinilah letak urgensi kita memaknai Maulid Nabi. Gerakan perempuan Islam tidak boleh mundur. Melalui Risalah Perempuan Berkemajuan yang dikukuhkan pada Muktamar 'Aisyiyah ke-48 tahun 2022, kita diingatkan untuk terus mengarusutamakan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan kemajuan perempuan. Perempuan berhak atas pendidikan setinggi-tingginya, berhak atas kesehatan reproduksi yang prima, dan berhak berkiprah di ranah ekonomi maupun politik politik kebangsaan tanpa harus kehilangan identitas keislamannya. Dalam hal ini amat penting mengutip konsep “Islam Berkemajuan” yang dikukuhkan dalam Risalah Perempuan Berkemajuan sebagai berikut;

 

“Islam yang berkemajuan merupakan Islam yang menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik lakilaki maupun perempuan tanpa diksriminasi. Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemunkaran yang menghancurkan kehidupan”


Aksi Nyata sebagai Wujud Cinta

Maulid adalah satu ekspresi kecintaan Umat Islam terhadap panutannya, Sang Manusia Agung, Nabi Muhammad saw. Namun demikian, cinta kepada Sang Nabi tidak cukup dibuktikan dengan linangan air mata saat mendengar kasidah. Cinta itu harus diterjemahkan menjadi Amal Usaha dan aksi nyata, sebagaimana diteladankan secara nyata selama beliau masih hidup. Maka untuk mewujudkan dan membuktikan cinta kita sebagai umatnya kepada Nabi Muhammad, ada beberapa langkah konkrit yang perlu kita lakukan dalam upaya melepaskan perempuan dari berbagai fenomena “jahiliyah kontemporer”,

 

Pertama, kita harus terus memproduksi dan mensosialisasikan tafsir-tafsir keagamaan yang mencerahkan dan ramah perempuan. Mimbar-mimbar masjid dan majelis taklim harus menjadi ruang yang mengedukasi masyarakat tentang relasi suami-istri yang setara dan anti-kekerasan, meneladani bagaimana Nabi memuliakan keluarganya.

 

Kedua, kita harus hadir di ranah advokasi kebijakan publik. Mendukung perlindungan hukum bagi perempuan korban kekerasan (seperti pengawalan implementasi UU TPKS), menekan angka perkawinan anak, dan memastikan akses kesehatan reproduksi yang adil adalah bentuk dakwah struktural yang sangat esensial.

 

Ketiga, penguatan ekonomi dan pendidikan perempuan. Kemiskinan dan ketergantungan finansial sering kali menjadi akar dari subordinasi perempuan. Semangat kemandirian Khadijah dan kecerdasan Aisyah harus terus diinkubasi melalui sekolah-sekolah, universitas, rumah sakit, dan panti-panti asuhan yang dikelola oleh gerakan perempuan Islam.


Penutup

Peringatan Maulid Nabi adalah momentum perenungan (refleksi) sekaligus pembaruan (tajdid). Mari kita jadikan bulan kelahiran sosok manusia agung ini sebagai tonggak untuk memperbarui komitmen kita terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab.

 

Bagi gerakan perempuan berkemajuan, perjuangan kesetaraan gender di Indonesia bukanlah produk impor dari Barat. Ia adalah amanat risalah kenabian itu sendiri. Selama masih ada satu saja perempuan di pelosok Nusantara yang masa depannya terenggut oleh perkawinan paksa, atau tubuhnya terlukai oleh kekerasan atas nama relasi kuasa, maka tugas kita meneladani Sang Nabi belum usai.

 

Mari kita teruskan estafet perjuangan ini, merawat nyala api pembebasan yang telah dihidupkan oleh Nabi Muhammad SAW dan dirawat dengan penuh ketangguhan oleh Nyai Siti Walidah.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, MSc, PhD, IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-UII Yogyakarta, Sekretaris Majelis....

Suara Muhammadiyah

3 June 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (20) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Laki-....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024

Wawasan

Taurat dan Injil Dalam Al-Qur`an Oleh: Donny Syofyan: Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andala....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024

Wawasan

Merdeka untuk Berkemajuan Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta Agustu....

Suara Muhammadiyah

8 August 2026

Wawasan

Jelang Munas Satu Abad: Mengapa Majelis Tarjih Mundur? (4)  Oleh: Mu’arif Kelahiran Maj....

Suara Muhammadiyah

24 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah