Dagang, Dakwah, Development

Publish

30 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
65
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Dagang, Dakwah, Development

Oleh: Khafid Sirotudin

Pada pengajian Ahad pagi, 25 Januari 2026, –setelah jamaah salat Subuh– di masjid Al-Huda kompleks PPSDM Kemendikdasmen Depok Jawa Barat, Prof. Abdul Mu’ti memberikan pencerahan bertema D3. Di depan 150-an jamaah peserta Rakernas II LP-UMKM, beliau menerangkan bagaimana pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, melakukan tiga aktivitas dalam satu kegiatan. Yakni berdagang, menyebarkan faham agama menurut Muhammadiyah, serta membangun jaringan (Dakwah, Dagang, Development).

Prof Mu’ti mengajak jamaah untuk meneladani sosok pendiri Muhammadiyah. Selain menjadi pegawai keraton, Kyai Dahlan juga menjadi pedagang batik. Meski termasuk kelompok orang elit, namun tidak elitis. Walaupun beliau seorang kyai tetapi tidak memperlihatkan diri sebagai “priyayi” (pejabat atau kerabat keraton). 

Pesannya kepada kader dan warga persyarikatan yang berkhidmat sebagai pengusaha dan pelaku UMKM: jangan banyak rapat, tapi harus banyak melakukan transaksi. Jangan hanya mempunyai “one single income” (satu sumber pendapatan). Selain mempunyai profesi utama mesti memiliki pekerjaan lainnya.

Saya menjadi teringat suwargi bapak kami, Damanhuri Syiroj, selain menjadi pedagang “putihan” (tekstil dan produk tekstil) di pasar tradisional, juga menjadi petani padi dan pedagang hasil bumi (kopi, cengkeh, buah-buahan). Pernah pula beternak ayam potong hingga 10.000 ekor, namun kandas. Dalam mendidik anak- anaknya, beliau berpesan agar putra-putrinya ketika dewasa memiliki sumber penghasilan harian, bulanan dan tahunan. Sebagai petani, selain menanami padi sawah juga menanam aneka sayuran pada “galengan” (pematang) diantaranya mentimun, kacang panjang, kenikir, daun singkong. 

Dengan gaya humoris “guyon maton”, Prof. Mu’ti menerangkan bahwa seorang pebisnis harus memiliki jiwa petarung (tidak mudah menyerah) dan berani mengambil resiko. “Orang salah saja berani promosi, mengapa orang saleh tidak berani promosi”, ungkapnya. Etos kerja UMKM harus unggul serta menjalankan usahanya dengan suka cita dan gembira. 

Lebih lanjut beliau mengungkapkan, bahwa menjadi kader dan warga Muhammadiyah itu “dijiwit dadi kulit, dicethot dadi otot (dicubit menjadi kulit, dicengkeram menjadi otot)”. Sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang mashur dari KH. Ahmad Dahlan. Makna filosofis ungkapan tersebut menggambarkan watak perjuangan yang tahan banting, tangguh dan tidak mudah menyerah. 

Prof Mu’ti juga menyampaikan seorang pebisnis harus kreatif, inovatif dan pandai membaca peluang agar usaha berkembang dan naik kelas. Sehingga di lingkungan persyarikatan akan semakin banyak kader dan warga pebisnis yang kaya dan mandiri, tetapi memiliki jiwa sosial yang tinggi (sociopreneurship). Sebab saat ini telah terjadi pergeseran sosial di masyarakat, dimana orang kaya lebih dihormati daripada orang pintar.

Ia menekankan betapa pentingnya pelaku bisnis mengembangkan jaringan seluas-luasnya. Betapapun KH. Dahlan telah memberikan teladan betapa luasnya pergaulan beliau dengan berbagai kalangan lintas suku, ras, agama, ideologi dan profesi. Beliau juga menyentil beberapa nama produk berlabel Mu yang saat ini telah beredar: ACMu, MieMu, LezatMu, ITMu.

Beliau juga menekankan pentingnya etos melayani bagi seorang pengusaha, dengan merespon marketplace “astronauts” yang sedang naik daun di kalangan netizen Genzi. Sambil bergurau, beliau melontarkan sebuah ide nama marketplace “Karepmu” (suka-suka kamu). Mengisaratkan Prof. Mu’ti memiliki literasi digital yang tinggi.

Pada bagian akhir pengajian, Prof. Mu’ti menguraikan surat Quraisy. Sebuah surat pendek Makiyyah yang menggambarkan kebiasaan suku Quraisy sebagai pedagang. Mereka biasa berdagang ke negeri Yaman tatkala musim dingin dan Syam ketika musim panas. Sebuah pesan kepada Nabi saw agar mengingatkan suku Quraisy untuk menyembah Allah Sang Pemilik Ka’bah yang telah banyak memberikan kenikmatan dan rejeki berupa keamanan, kemakmuran dan keselamatan.

Kota Makkah dikenal sebagai kota perdagangan, sedangkan Madinah lebih dikenal sebagai daerah pertanian. Beliau melontarkan pertanyaan: “Mengapa zakat pertanian lebih besar dari pada zakat perdagangan?”. Petani seharusnya lebih makmur ketimbang pedagang. Namun faktanya, nasib petani lebih merana daripada pedagang.

Beliau mengajak jamaah untuk berpikir dan bertindak agar pengusaha bisa mengembangkan gaya hidup syariah. Gaya hidup yang menyeimbangkan pesan surat Al-Maun dengan Quraisy. “Jangan sampai Al-Maun-nya terlalu banyak daripada Quraisy”, pintanya. Bagaimana teologi Al-Maun dipakai saat terjadi bencana, tetapi tidak boleh dipakai setelah tanggap darurat bencana selesai.

Sejalan dengan tema Milad “Muhammadiyah Memajukan Bangsa”, maka dalam konteks kemajuan ekonomi bagi suatu bangsa atau daerah, bukan terlihat dari banyaknya Mall yang dibangun namun dilihat pula dari banyaknya bakul bakso dan pelaku UMKM  yang berjualan. Sebuah pesan eksplisit tentang keadilan sosial ekonomi bagi segenap bangsa Indonesia.

Tak terasa pengajian Ahad pagi telah berlangsung satu jam, ketika Prof Mu’ti mengakhiri dengan pesan potongan surat Ash-Shaff ayat 13: “Nashrun minallahi wa fathun qarib wa basyiril mu’minin (pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman)”. Sambil mengantar beliau –dresscode sarung, baju koko dan peci hitam– hingga masuk mobil pribadi Honda CRV lawas, saya menangkap satu pesan “kesederhanaan” dari Sekum PP Muhammadiyah dan Mendikdasmen.

Kesederhanaan merupakan sikap dan gaya hidup yang harus dilatih agar terpatri ke dalam diri seorang pimpinan, kader dan warga persyarikatan. Tak terkecuali bagi pelaku dan pegiat UMKM di lingkungan Muhammadiyah. Selain sikap sederhana, kader dan warga persyarikatan dituntut mampu menghadirkan nilai-nilai utama (core value) berupa kejujuran dan kebenaran (sidiq), berintegritas dan bertanggung jawab (amanah), menyampaikan pesan kebaikan (tabligh), berilmu dan terampil (fathonah), serta bersikap adil (fairness, proporsional).  

Wallahu’alam

Pagersari, 26 Januari 2026


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pengendalian Nafsu Amarah Oleh: Mohammad Fakhrudin Pengendalian nafsu dalam arti seluas-luasnya da....

Suara Muhammadiyah

13 March 2024

Wawasan

Ketika Uang Tak Boleh Tidur: Pelajaran dari Purbaya dan Al-Qur’an Oleh: Rusydi Umar, Dosen FT....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Qurban Bentuk Pengorbanan, Kesetiaan dan Kasih Sayang Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I, Dosen Al ....

Suara Muhammadiyah

17 May 2025

Wawasan

Menggiring Jamaah Berbondong ke Masjid dengan Memperbaiki Manajemennya Oleh: Amidi, Dosen FEB Unive....

Suara Muhammadiyah

15 April 2024

Wawasan

Logika Profetik dalam Merespon Musibah Banjir Sumatera Oleh: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I (Sekretar....

Suara Muhammadiyah

12 December 2025