Dakwah di Era Kecerdasan Buatan

Suara Muhammadiyah

9 September 2026

128
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Dakwah di Era Kecerdasan Buatan

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Timur

Dakwah selalu hidup dalam ruang dan waktu. Ketika masyarakat berubah, cara dakwah pun dituntut untuk beradaptasi. Rasulullah SAW berdakwah dengan memanfaatkan seluruh sarana komunikasi yang tersedia pada zamannya. Para sahabat kemudian membawa risalah Islam melintasi batas geografis dan budaya dengan memanfaatkan jaringan perdagangan, pendidikan, dan komunikasi yang berkembang pada masa itu. Para ulama pada generasi berikutnya menggunakan kitab, madrasah, mimbar, dan berbagai media pengetahuan sebagai sarana untuk menyebarluaskan ajaran Islam.

Hari ini, kita memasuki fase perubahan yang jauh lebih fundamental. Bukan sekadar perubahan media komunikasi, melainkan perubahan cara manusia memproduksi, mengolah, dan memperoleh pengetahuan. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan hadir sebagai salah satu kekuatan utama dalam perubahan tersebut.

AI kini bukan lagi sekadar teknologi eksperimental di laboratorium. Ia telah masuk ke ruang kelas, kantor, rumah, industri kreatif, media sosial, bahkan ke ruang-ruang keagamaan. Seseorang dapat bertanya tentang ayat Al-Qur'an, hadis, fikih, sejarah Islam, hingga persoalan kehidupan sehari-hari kepada chatbot dalam hitungan detik.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI akan masuk ke dunia dakwah, karena AI sudah berada di sana. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah dakwah kita siap memasuki era AI tanpa kehilangan ruh, otoritas, dan nilai-nilai kemanusiaannya?

Selama berabad-abad, manusia memperoleh pengetahuan agama melalui hubungan antara guru dan murid. Seorang santri datang kepada kiai, seorang jamaah bertanya kepada ustaz, seorang kader belajar kepada pembimbingnya. Di dalam hubungan tersebut terdapat transfer ilmu sekaligus transfer keteladanan.

Dakwah tidak hanya menyampaikan apa yang harus dipercayai, tetapi juga memperlihatkan bagaimana menjalani hidup. AI mengubah sebagian pola tersebut. Kini seseorang tidak perlu menunggu pengajian pekanan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan keagamaan. Cukup membuka gawai dan mengetikkan pertanyaan. Dalam hitungan detik, jawaban akan muncul dalam bahasa yang sistematis, sopan, bahkan terkadang terasa sangat meyakinkan.

Di sinilah tantangan pertama muncul. AI mampu menghasilkan jawaban, tetapi tidak otomatis memiliki otoritas keagamaan. Kemampuan AI menyusun kalimat tidak sama dengan kemampuan memahami kedalaman persoalan agama. AI bekerja berdasarkan pola dan informasi yang tersedia dalam data yang digunakan untuk membangun sistemnya. 

AI dapat menggabungkan berbagai pendapat ulama, tetapi belum tentu mampu memahami konteks sosial, maqashid al-syariah, kondisi psikologis seseorang, maupun konsekuensi moral dari suatu jawaban. Karena itu, kita harus membedakan antara kecerdasan komputasional dan hikmah.

Kecerdasan komputasional dapat membantu menemukan informasi. Hikmah diperlukan untuk menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan dengan benar. Dakwah membutuhkan keduanya, tetapi tidak boleh mempertukarkan keduanya.

Perkembangan AI generatif juga mengubah industri konten. Dahulu seorang mubaligh membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyiapkan materi ceramah, menulis artikel, membuat poster, atau menyunting video. Kini sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu oleh AI.

AI dapat membantu membuat kerangka khutbah, menyusun naskah ceramah, menerjemahkan tulisan, membuat ilustrasi, mengolah video, hingga merumuskan berbagai variasi pesan dakwah untuk kelompok sasaran yang berbeda.

Dari perspektif efisiensi, ini tentu merupakan peluang besar. Bayangkan seorang dai di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya digital. Dengan bantuan AI, ia dapat membuat materi dakwah yang lebih menarik. Organisasi Islam dapat memproduksi konten dalam berbagai bahasa. Materi pengajian dapat ditransformasikan menjadi artikel, podcast, infografis, video pendek, dan buku digital.

Dakwah menjadi lebih mudah diproduksi dan lebih luas didistribusikan. Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Dakwah jangan sampai direduksi menjadi persoalan produksi konten. Kita tidak boleh mengukur keberhasilan dakwah hanya dari jumlah views, likes, shares, atau jumlah pengikut.

Algoritma media sosial memiliki logikanya sendiri. Konten yang paling banyak menarik perhatian belum tentu konten yang paling memberikan pencerahan. Konten yang provokatif sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan konten yang lebih mendalam. Pernyataan yang kontroversial lebih mudah menjadi viral daripada penjelasan yang membutuhkan kesabaran untuk dipahami.

Jika dakwah terlalu tunduk pada logika algoritma, ada risiko dakwah kehilangan arah. Dakwah akhirnya tidak lagi bertanya, “Apa yang dibutuhkan umat?”, tetapi berubah menjadi, “Konten apa yang paling banyak ditonton?” Padahal dakwah memiliki misi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan kompetisi perhatian.

Perubahan teknologi sebenarnya membawa kita kepada perubahan lanskap otoritas. Pada masa lalu, mimbar masjid memiliki posisi penting sebagai pusat penyampaian pengetahuan agama. Kemudian televisi, radio, surat kabar, dan majalah memperluas ruang dakwah. Era internet kemudian melahirkan situs keislaman, YouTube, Instagram, TikTok, siniar (podcast), serta berbagai platform digital.

Kini kita memasuki tahap berikutnya, yaitu algoritma menjadi salah satu pintu utama menuju pengetahuan agama. Persoalannya, algoritma tidak bekerja berdasarkan prinsip kebenaran. Algoritma bekerja berdasarkan relevansi, perhatian, interaksi, preferensi pengguna, serta berbagai parameter yang dirancang oleh platform.

Konsekuensinya cukup serius. Seseorang yang terus-menerus mengonsumsi konten keagamaan yang keras akan semakin sering melihat konten serupa. Seseorang yang terbiasa dengan narasi keagamaan yang eksklusif dapat terjebak dalam ruang informasi yang memperkuat pandangannya sendiri.

Terjadilah apa yang dapat disebut fragmentasi otoritas keagamaan di ruang digital. Setiap orang merasa memiliki sumber kebenaran sendiri. Di satu sisi, demokratisasi pengetahuan merupakan sesuatu yang positif. Umat memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber ilmu. Namun, tanpa literasi digital dan literasi keagamaan yang memadai, kebebasan tersebut dapat berubah menjadi kebingungan.

Dalam situasi seperti ini, dakwah Muhammadiyah memiliki pekerjaan rumah yang besar. Muhammadiyah tidak cukup hanya hadir di media sosial. Muhammadiyah harus hadir dalam ekosistem pengetahuan digital.

Sejarah Muhammadiyah sesungguhnya memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara dakwah dan modernitas. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak memandang perubahan zaman sebagai sesuatu yang perlu ditakuti. Modernitas justru direspons dengan membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, media, serta berbagai amal usaha.

Semangat tersebut perlu diteruskan dalam menghadapi AI. AI tidak boleh diposisikan semata-mata sebagai ancaman bagi dakwah. Ia harus dibaca sebagai alat baru untuk memperluas manfaat dakwah. Namun, penggunaan teknologi tetap harus berada dalam kerangka nilai.

Muhammadiyah memiliki modal sosial dan kelembagaan yang sangat besar. Jaringan pendidikan, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, masjid, organisasi otonom, hingga komunitas kader dapat membentuk ekosistem dakwah berbasis AI.

Bayangkan apabila perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah mengembangkan pusat riset AI dan dakwah. Bayangkan apabila para ulama, akademisi, dai, programmer, dan ahli komunikasi bekerja sama membangun sistem pengetahuan digital Islam yang kredibel.

Kita membutuhkan bukan sekadar AI yang bisa berbicara tentang Islam, tetapi juga ekosistem AI yang dikembangkan berdasarkan etika dan epistemologi Islam.

Tantangan berikutnya adalah kualitas sumber daya manusia dalam dakwah. Dai masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan retorika. Ia perlu memahami literasi digital, algoritma, media sosial, keamanan digital, verifikasi informasi, dan bahkan dasar-dasar kecerdasan buatan.

Bukan berarti semua dai harus menjadi programmer. Tetapi dai harus memahami dunia tempat umatnya hidup. Seorang dai perlu mengetahui bagaimana konten dapat menjadi viral. Ia perlu memahami mengapa hoaks keagamaan mudah menyebar. Ia harus mampu membedakan sumber yang kredibel dan yang tidak kredibel. Ia perlu memahami risiko deepfake, manipulasi audiovisual, serta produksi konten sintetis.

Ada persoalan lain yang tidak boleh dianggap sepele, yaitu AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar benar tetapi sebenarnya keliru. Dalam teknologi AI generatif, fenomena ini sering disebut sebagai halusinasi. Sistem dapat menyusun jawaban dengan sangat meyakinkan, bahkan mencantumkan referensi atau kutipan yang ternyata tidak akurat.

Dalam persoalan umum, kesalahan seperti ini mungkin hanya menimbulkan kebingungan. Namun, dalam persoalan agama, dampaknya dapat jauh lebih serius. Kesalahan dalam mengutip ayat, hadis, pendapat ulama, atau fatwa dapat membentuk pemahaman keagamaan yang keliru.

Karena itu, AI tidak boleh menjadi mufti otomatis. AI dapat menjadi asisten riset. Ia dapat membantu mencari literatur, menyusun bahan kajian, menerjemahkan teks, bahkan membandingkan berbagai pendapat. Namun, keputusan keagamaan yang memiliki konsekuensi serius tetap membutuhkan verifikasi manusia yang memiliki kompetensi keilmuan.

Di sinilah konsep human-in-the-loop menjadi penting. Manusia tidak boleh dikeluarkan dari proses pengambilan keputusan hanya karena mesin dapat bekerja lebih cepat.

Meski memiliki berbagai risiko, AI juga membuka peluang yang luar biasa. Salah satunya adalah personalisasi dakwah. Selama ini satu materi dakwah sering disampaikan kepada audiens yang sangat beragam. Padahal kebutuhan seorang remaja berbeda dengan kebutuhan seorang pekerja. Persoalan keluarga berbeda dengan persoalan mahasiswa. Pertanyaan ekonomi berbeda dengan pertanyaan spiritual.

AI memungkinkan materi dakwah disesuaikan dengan kebutuhan kelompok yang lebih spesifik. Dakwah kepada generasi Z tentu membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda dari dakwah kepada generasi sebelumnya. Dakwah kepada masyarakat perkotaan mungkin berbeda dari masyarakat pedesaan. Dakwah kepada pelaku usaha membutuhkan pendekatan berbeda dengan dakwah kepada pekerja sosial.

Teknologi memungkinkan pesan yang sama diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, gaya, dan medium tanpa mengubah substansi nilai yang hendak disampaikan. Dengan demikian, AI dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan dakwah yang lebih inklusif, adaptif, dan kontekstual.

Tetapi personalisasi tidak boleh berarti manipulasi. Dakwah harus tetap menghormati kebebasan manusia. Teknologi tidak boleh digunakan untuk mengeksploitasi kelemahan psikologis seseorang demi membuatnya lebih mudah menerima pesan tertentu. Di sinilah etika Islam harus menjadi kompas.

Ada satu hal yang tidak dapat dilakukan AI dengan sempurna yaitu menjadi teladan dalam kehidupan. AI dapat menjelaskan makna kesabaran, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman manusia dalam menemani orang yang sedang berduka.

AI dapat menjelaskan pentingnya kepedulian sosial, tetapi tidak dapat menggantikan seorang kader yang turun langsung untuk membantu korban bencana. AI dapat menjelaskan konsep zakat, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman membangun pemberdayaan ekonomi bagi mustahik. AI dapat menghasilkan khutbah tentang keadilan sosial, tetapi perubahan sosial tetap membutuhkan manusia yang bersedia memperjuangkan keadilan. Karena itu, masa depan dakwah bukanlah AI yang menggantikan dai.

Masa depan dakwah adalah dai yang menggunakan AI untuk memperbesar dampak kemanusiaannya. Teknologi seharusnya membuat manusia semakin manusiawi, bukan semakin kehilangan kemanusiaannya.

Dakwah harus bergerak dari sekadar dakwah informatif menuju dakwah transformatif. Umat tidak hanya membutuhkan jawaban atas pertanyaan tentang apa yang benar, tetapi juga membutuhkan pendampingan untuk mewujudkan kebenaran tersebut dalam kehidupan.

Mungkin sudah waktunya kita memperkenalkan gagasan baru, yaitu Dakwah Intelligence. Dakwah Intelligence bukan sekadar penggunaan AI untuk membuat konten dakwah. Ia merupakan kemampuan organisasi dakwah untuk memanfaatkan data, teknologi, ilmu pengetahuan, dan kecerdasan buatan guna memahami kebutuhan umat serta merancang intervensi dakwah yang lebih efektif.

Misalnya, data dapat digunakan untuk mengetahui isu sosial yang sedang dihadapi oleh anak muda. AI dapat membantu memetakan tema yang paling banyak ditanyakan oleh umat. Teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan sistem pembelajaran agama yang interaktif.

Namun, semua itu harus berada dalam kerangka etika, privasi, keamanan data, dan kemaslahatan. Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor di bidang ini. Kekuatan Muhammadiyah tidak hanya terletak pada jumlah amal usaha, tetapi juga pada tradisi intelektual, pendidikan, riset, dan pengorganisasian masyarakat.

Jika seluruh kekuatan tersebut dipadukan dengan teknologi AI, dakwah Muhammadiyah dapat memasuki fase baru. Bukan hanya dakwah yang hadir di ruang digital, tetapi juga dakwah yang memahami bagaimana ruang digital bekerja.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Sehebat apa pun AI, ia tidak boleh menggantikan tujuan dakwah. Dakwah bertujuan mengajak manusia mendekat kepada Allah, membangun akhlak, menegakkan keadilan, menghadirkan kemaslahatan, dan memuliakan manusia.

Karena itu, ukuran keberhasilan dakwah di era AI bukan seberapa banyak konten yang dapat diproduksi, melainkan seberapa besar perubahan kebaikan yang dapat diwujudkan. Muhammadiyah sejak awal telah menunjukkan bahwa Islam tidak harus berhadapan dengan kemajuan zaman. Islam justru dapat menjadi kekuatan moral yang mengarahkan kemajuan tersebut agar memberikan kemaslahatan.

Kini tantangannya muncul dalam bentuk kecerdasan buatan. Maka pilihan kita bukan menolak AI atau menyerahkan dakwah kepada AI. Pilihan kita adalah menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri, memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasan moral, dan memasuki masa depan tanpa meninggalkan ruh dakwah.

Sebab pada akhirnya, mesin mungkin dapat menghasilkan kata-kata. Tetapi hanya manusia yang dapat menghidupkan makna. Dan di situlah masa depan dakwah sesungguhnya dipertaruhkan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Gerakan IMM dalam Lintasan Peradaban (2) Oleh: Hilma Fanniar Rohman, Dosen Perbankan Syariah, Unive....

Suara Muhammadiyah

10 May 2024

Wawasan

Anak Saleh (22) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Wawasan

Oleh: Khafid Sirotudin Ormas singkatan dari organisasi massa atau organisasi masyarakat. Sebagaiman....

Suara Muhammadiyah

10 November 2023

Wawasan

IMM: Membaca, Bukan Hanya Bicara Oleh: Fathan Faris Saputro (Penulis buku Luwesitas IMM) Di era di....

Suara Muhammadiyah

23 April 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Sebagai Muslim, kita tentu meng....

Suara Muhammadiyah

9 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah