MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Keberadaan Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi persoalan sosial yang sering kali dijumpai di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Sebagian dari ATS memilih berhenti sekolah karena faktor ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, hingga rendahnya motivasi belajar. Situasi ini menjadi dorongan bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik II Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Tahun Ajaran 2025/2026 untuk menggelar kegiatan sosialisasi pemberdayaan Karang Taruna Dusun Windu Sajan sebagai upaya penanganan ATS di Desa Wonolelo.
Muhammad Fathan Masykur, Koordinator KKN di Desa Wonolelo, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada motivasi pentingnya pendidikan, tetapi juga mengarah pada penguatan keterampilan hidup (Life Skills) yang memanfaatkan potensi lokal. Hal ini disesuaikan dengan kondisi nyata di masyarakat desa yang mayoritas bekerja pada sektor pertanian dan peternakan. “Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan untuk memotivasi para warga, khususnya pemuda untuk tetap memiliki keterampilan walaupun adanya keterbatasan dalam menempuh pendidikan formal. Keterampilan yang memanfaatkan potensi lokal ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi para pemuda untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” jelasnya
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menekankan bahwa salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan adalah pangan, yang sebagian besar dihasilkan dari sektor pertanian. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk lebih memahami potensi komoditas yang sesuai dengan kondisi geografis yang ada. Pendekatan ini bertujuan agar pertanian tidak hanya menjadi aktivitas rutin, tetapi juga menjadi usaha yang lebih terstruktur dan produktif.
Salah satu terobosan dalam sektor pertanian yang diperkenalkan oleh mahasiswa adalah budidaya jahe emprit. Tanaman ini dikenal memiliki modal yang relatif kecil dan perawatan yang mudah, namun memiliki nilai jual yang lebih stabil dibandingkan dengan komoditas sayuran lainnya. Sehingga diharapkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat, khususnya ATS.
Pada sektor peternakan, mahasiswa memperkenalkan konsep silase sebagai sistem pengawetan pakan ternak. Silase menjadi solusi ketika cuaca menghambat aktivitas pencarian rumput atau ngarit, mengingat tingginya curah hujan yang terjadi pada bulan Oktober hingga Maret. Dengan mayoritas warga yang memelihara sapi, silase dinilai efektif sebagai cadangan pakan yang mudah dibuat dan juga murah, namun memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan ternak.
Kirno, Ketua Karang Taruna, menyambut baik kegiatan ini. Ia menilai sosialisasi ini mampu menggugah semangat pemuda desa untuk tetap optimis dan terus mengembangkan potensi diri. “Saya sebagai Ketua Karang Taruna Dusun Windu sajan merasa senang karena diberi kesempatan bisa ikut berdiskusi dengan Mbak dan Mas KKN UNIMMA. Karena menurut saya, kegiatan ini memberikan dampak positif, terutama untuk para pemuda yang masih merasa kurang motivasi. Sehingga dengan adanya kegiatan ini menjadi pengingat kami agar bisa menjadi generasi yang lebih baik ke depannya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wonolelo, Marpomo, berharap kegiatan KKN seperti ini dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya berbagi ilmu, pengalaman, dan kesempatan sebagai bekal bagi warga dalam menghadapi masa depan. “Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi motivasi dan pengalaman berharga bagi masyarakat, terutama generasi muda,” tuturnya.
Validasi Data
Selain itu, Mahasiswa KKN UNIMMA berhasil menuntaskan kegiatan sosialisasi sekaligus validasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Desa Pesidi, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Kegiatan yang dilaksanakan sejak 19 Januari 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan basis data pendidikan desa untuk mendukung perumusan program dan kebijakan yang lebih tepat sasaran, serta sebagai bentuk dukungan terhadap program Bupati Magelang yaitu Gerakan Magelang Gumregah Bungah.
Farah Afifah, mahasiswa KKN UNIMMA di Desa Pesidi mengatakan, pelaksanaan sosialisasi dan pendataan ATS merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu pemerintah desa memperoleh gambaran riil kondisi anak tidak sekolah di wilayahnya. “Pendataan kami lakukan secara langsung menggunakan metode door to door. Kami langsung ke rumah warga agar bisa memahami kondisi anak secara lebih menyeluruh, termasuk latar belakang mereka tidak melanjutkan sekolah. Metode ini dipilih untuk memastikan keakuratan data sekaligus memudahkan komunikasi dengan keluarga sasaran,” ujarnya.
Melalui proses tersebut, mahasiswa KKN UNIMMA menghimpun berbagai informasi dasar, mulai dari identitas anak, usia, jenis kelamin, dan riwayat pendidikan terakhir. Pendataan juga diarahkan untuk memetakan faktor penyebab anak tidak melanjutkan sekolah sebagai bahan pertimbangan penyusunan program tindak lanjut. Hasil sementara menunjukkan bahwa kendala ekonomi masih menjadi faktor dominan, disusul persoalan psikologis seperti pengalaman perundungan di lingkungan sekolah.
Temuan tersebut kemudian dipertegas oleh berbagai pengakuan keluarga dan ATS yang ditemui langsung selama proses pendataan.
Anwar, salah satu orang tua ATS, mengungkapkan keterbatasan yang dihadapinya. “Sebenarnya saya ingin anak saya lanjut sekolah, tapi kemampuan ekonomi terbatas. Bantuan dari pemerintah ada, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan,” tuturnya.
Selain faktor ekonomi, persoalan psikologis juga menjadi tantangan tersendiri. Seorang remaja berinisial FR mengaku masih mengalami trauma akibat pengalaman buruk saat bersekolah. “Waktu SD sering dibully dan pernah dipalak kakak kelas. Sampai sekarang masih takut kalau harus sekolah lagi,” katanya.
Adapun saat ini seluruh ATS di Desa Pesidi berhasil teridentifikasi dan tercatat dalam basis data awal. Hasil pendataan selanjutnya akan menjadi rujukan awal bagi pemerintah desa dalam merancang program tindak lanjut untuk mendorong anak kembali mengakses pendidikan. Melalui KKN Tematik ini, UNIMMA menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya pada penguatan sektor pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNIMMA berupaya memberikan kontribusi nyata dalam penanganan ATS dengan mengombinasikan motivasi pentingnya pendidikan dan penguatan keterampian di bidang pertanian dan peternakan. Diharapkan kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi yang lebih besar lagi sehingga dapat menciptakan masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

