YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa tradisi menulis dan membaca merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Hal itu disampaikannya dalam Peluncuran Buku karya Arif Jamali Muis berjudul Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan, sebuah diskusi pendidikan dan literasi yang menghadirkan sejumlah tokoh akademisi dan pemerhati pendidikan.
Menurut Haedar, kegiatan menulis buku merupakan salah satu tradisi terbaik yang perlu terus dirawat di tengah masyarakat. Ia menyebut menulis sebagai proses merawat nalar dan pikiran yang sangat bernilai.
“Menulis buku merupakan proses merawat nalar dan pikiran yang sangat mahal. Menjadi penulis sesungguhnya adalah pekerjaan yang mulia,” ujarnya di Amphitarium Fakultas Kedokteran UAD (6/6).
Haedar menjelaskan bahwa eksistensi seseorang sangat bergantung pada kualitas berpikirnya. Karena itu, budaya membaca harus terus ditumbuhkan sebagai pintu masuk bagi lahirnya masyarakat yang berilmu dan berkemajuan.
“Puncak tertinggi membaca bukan sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi membangun peradaban,” tegasnya.
Ia mencontohkan berbagai peradaban besar dunia, mulai dari peradaban Yunani, peradaban Islam, hingga Tiongkok, yang tumbuh dan berkembang karena kuatnya tradisi literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Haedar juga menyinggung kejayaan para ilmuwan Muslim pada masa lalu yang mampu menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus. Menurutnya, hal tersebut menjadi pertanyaan penting bagi dunia pendidikan saat ini.
“Para ilmuwan Muslim dahulu menulis banyak buku dan menguasai berbagai bidang ilmu yang saling melintas. Kurikulum seperti apa yang dijalankan pada masa itu sehingga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar?” tanyanya.
Lebih lanjut, Haedar menekankan bahwa posisi seseorang akan menentukan peran yang dijalankannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Karena itu, reformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek administratif, melainkan harus menyentuh substansi pendidikan itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa hakikat pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga membangun ekosistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Dalam kesempatan yang sama, akademisi Muhammadiyah, Biyanto, turut menjelaskan pentingnya pembaruan pendidikan yang berorientasi pada penguatan kualitas manusia dan pembangunan bangsa.
Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Diyah Puspitarini, menyoroti tantangan pendidikan Indonesia yang saat ini dihadapkan pada tiga generasi dengan karakteristik yang sangat berbeda.
Menurut Diyah, pendidikan transformatif harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan setiap generasi. Karena itu, sistem pendidikan perlu dirancang secara fleksibel tanpa kehilangan tujuan utamanya dalam membentuk manusia yang berkarakter.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak.
“Mari kita ciptakan ruang yang aman bagi anak agar mereka dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal,” ajaknya.
Para pembicara sepakat bahwa upaya menghadirkan tajdid atau pembaruan pendidikan nasional membutuhkan otoritas, komitmen, serta keberanian untuk melakukan perubahan secara substansial. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan menghadapi tantangan masa depan. (diko)

