KEPULAUAN SERIBU, Suara Muhammadiyah — Kelompok Karang Taruna Pulau Tidung, Jakarta, mendapatkan pendampingan pembuatan sabun organik berbahan baku air laut dan daun mangrove melalui kegiatan Workshop Pembuatan Sabun Organik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang mendorong pemanfaatan potensi lingkungan lokal menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.
Workshop berlangsung di Homestay Algamas, Jalan Pantai Selatan RT 001/RW 01, Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Jakarta. Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Riset dan Pengembangan (Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tahun anggaran 2026.
Kegiatan dipimpin Ranti An Nisaa, M.Pd., dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), bersama Andri Hutari, M.Sc., dosen Pendidikan Biologi, dan Dr. Dewi Pudji Rahayu, S.E., M.Si., dosen Perpajakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA.
Workshop menggunakan metode praktik langsung. Peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahan dan peralatan yang digunakan, kemudian mendapatkan penjelasan mengenai fungsi setiap bahan, komposisi, tahapan pembuatan, serta aspek kebersihan dan keamanan selama proses produksi.
Pada sesi praktik, peserta mengikuti secara langsung tahapan pembuatan sabun, mulai dari persiapan dan pengolahan daun mangrove, pencampuran bahan sesuai komposisi, pengadukan, hingga pencetakan. Tim pendamping memberikan arahan pada setiap tahapan agar peserta memahami proses pembuatan secara menyeluruh.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Anggota Karang Taruna aktif mengikuti praktik, berdiskusi, dan mengajukan pertanyaan mengenai bahan maupun proses produksi.
Ketua Karang Taruna Pulau Tidung, Ana Askuri, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan pembuatan sabun berbahan mangrove memberikan pengetahuan baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Pelatihan pembuatan sabun mangrove ini benar-benar pengetahuan baru buat kita. Semoga menjadi nilai tambah, terutama ekonomi, karena bisa dipasarkan kepada wisatawan yang ada di Pulau Tidung,” ujar Ana.
Selain memberikan keterampilan produksi, workshop tersebut juga memperkenalkan potensi daun mangrove sebagai bahan baku produk olahan. Peserta diajak memahami bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan produk inovatif, dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem mangrove dan pemanfaatan sumber daya secara bijak.
Ketua tim pengabdian, Ranti An Nisaa, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pemberian materi, tetapi juga membangun keterampilan praktis yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
“Melalui workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pembuatan sabun. Harapannya, keterampilan ini dapat dikembangkan secara mandiri oleh kelompok Karang Taruna dan diteruskan kepada masyarakat sekitar,” kata Ranti.
Ke depan, produk sabun organik tersebut berpeluang dikembangkan menjadi produk kreatif khas Pulau Tidung. Pengembangan dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas produk, desain kemasan, pemberian merek, hingga strategi pemasaran yang menyasar wisatawan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Karang Taruna Pulau Tidung untuk mengembangkan keterampilan dan kreativitas berbasis potensi lokal. Pemanfaatan sumber daya lingkungan secara bijak sekaligus dapat membuka peluang usaha dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan ekosistem mangrove.(Tim /Hendra Apriyadi)

