SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Ibadah puasa (ash-shiyam) mengajarkan pentingnya berpikir positif. Dengan begitu, muncul keyakinan kalau ibadah ini bisa dirampungkan sampai akhir.
“Kita meyakini dengan pertolongan Allah kita bisa menyelesaikan ibadah puasa,” sebut Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di sinilah relevansi husnudzon billah. Yakni berbaik sangka kepada Allah. Jangan malah sebaliknya, Suudzon billah, berprasangka buruk kepada Allah.
“Berusahalah ketika kemudian usaha kita belum mendapatkan hasil, maka jangan sampai kita pada simpulan bahwa Allah tidak mengabulkan pada usaha yang kita lakukan,” tekan Saad.
Artinya, harus yakin kalau Allah itu pasti hadir memberikan pertolongan. Pasti mengabulkan seluruh doa-doa yang dipinta atas usaha yang dilakukan.
“Selama usaha itu tetap pada koridor yang sesuai dengan garis yang diberikan oleh Allah, pasti kalau tidak segera, dibelakang hari Insyaallah hasil itu akan nampak,” tegasnya.
Dengan demikian, tidak akan muncul skeptis, pesimis, atau bahkan putus asa dalam berusaha sedemikian rupa. Meski, keberhasilan tidak terjadi di awal waktu.
“Kita kadang-kadang memikirkan kalau berhasil pada waktu itu, hasilnya tidak begitu kita perlukan seperti kalau sekarang ini, baru hasil itu nampak, baru hasil itu kita peroleh,” jelasnya.
Di atas itu semuanya, kata Saad, segala yang menyangkut eksistensi kehidupan umat manusia, sepanjang beriman kepada Allah, niscaya hasil yang diperoleh bersifat baik.
“Apakah hasil itu segera nampak, ataukah besok atau bahkan nanti, itu semuanya baik. Maka ini juga bagian dari husnudzon billah,” terangnya, Kamis (5/3) di TvMu Channel dalam program Tausiyah Kiai Saad Ibrahim.
Soal hasil akhirnya, sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Manusia, hanya berjuang dan berusaha sesuai dengan petunjuk dan koridor yang telah ditetapkan.
“Dengan cara kita berparadigma seperti itu, kita akan berbuat, lalu berbuat, lalu berbuat. Dan tentu kepada Allah semuanya mengharapkan supaya usaha-usaha kita akhirnya mendapatkan kemanfaatan bagi hidup kita di dunia dan di akhirat,” bebernya.
Acapkali suatu noktah perbuatan kecil, sekonyong-konyong diberikan oleh Allah berupa hasil yang lebih besar. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Maka itu semuanya akan tergantung kepada Allah. Maka sekali lagi, kita tidak akan pernah melihat apakah yang dilakukan itu amal-amal besar atau amal-amal kecil,” tekannya.
Pada akhirnya, manusia hidup tidak lain tidak bukan untuk berbuat baik. “Sebisa kita, semampu kita. Insyaallah semuanya akan ada hasilnya,” pungkasnya, dengan memberikan penitiberatan selama semuanya itu dimaksudkan melaksanakan perintah Allah. (Cris)

