YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah landskap sosial dan politik yang terus berubah, ditambah dengan menguatnya era digital, niscaya mentransformasi paradigma publik terhadap denyut nadi gerakan mahasiswa.
Demikian diungkap Deni Asy’ari. Gerakan mahasiswa sekarang berada pada posisi yang dilematis. “Antara terus menjadi gerakan intelektual di menara gading atau melakukan transformasi gerakan baru,” tuturnya.
Berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun 1966 (peristiwa orde lama), tahun 1974 (Malari), tahun 1978 (NKK/BKK) dan tahun 1998 (Orde Baru), disebutnya, masih mendapatkan ruang kepercayaan dan dukungan sosial yang tinggi dari masyarakat.
Mencermati transformasi tersebut, maka gerakan dan aktivis mahasiswa perlu melakukan adaptasi dan perubahan terhadap karakter dan wajah gerakannya.
" Sudah saatnya aktis mahasiswa membangun gerakanya dengan wajah baru yang dikenal dengan Activispreneur", tutur Deni dalam paparannya saat pelantikan PC IMM Sleman di Aula Kantor DPD RI DIY, Kusumanegara, Yogyakarta, (1/2).
Direktur Utama Suara Muhammadiyah tersebut menyebut, Activispreneur adalah mereka yang hadir dalam gerakan sosial dengan fondasi ekonomi yang kuat, pemikiran yang matang, serta tujuan perjuangan yang tidak lagi dicemari oleh kepentingan pribadi.
“Mereka bukan aktivis yang menjadikan organisasi sebagai “tangga” menuju jabatan, bukan pula yang sekadar bersuara lantang namun rapuh secara ekonomi,” jelasnya, tegas.

Kendati pada tesmak yang lain, penekanan Activispreneur menjangkarkan pada aktivis yang menghidupi idealisme melalui kemandirian. Pun demikian didukung oleh basis nilainya, terletak pada pokok pangkal intelektualitas, moralitas, relegiusitas dan kemandirian serta inovasi.
“Sehingga seorang activispreneur bukan orang yang hanya bisa bersuara lantang, tapi tidak memiliki kemandirian ekonomi,” terangnya.
Pada saat yang sama, Deni menambahkan, sering sekali terjadi di ruang publik, idealisme seorang aktivis gerakan terhenti (stagnan) bukan karena hilangnya idealime, akan tetapi karena berhadapan dengan realitas kehidupan yang nyata, lebih-lebih sangkutpautnya terkait ekonomi.
“Bahkan tidak jarang para mantan aktivis yang menjadi beban dan masalah sosial baru ketimbang menjadi problem solver,” ujarnya.
Hal ini menurut Wakil Sekretaris 1 Majelis, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, karena ketidakmampuan aktivis beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi secara menggurita.
Di situlah Deni mengajak para kader IMM untuk mulai menjadikan pengkaderan dan gerakannya untuk melahirkan aktivisprenenur tersebut. Karena menurutnya, membangun mentalitas enterprneneur tidak bisa ujug-ujug. Tetapi butuh ekosistem dan sircle yang mendukung tumbuhkembangnya mindset interpreneneur.
"Ciptakan sircle dan ekosistem baru dilingkungan organisasi yang berbasis pada budaya inovatif, budaya berani, budaya kolaborasi, budaya memecahkan masalah. Semuanya ini, bagian dari proses untuk membangun sircle tersebut," tandas Deni. (Cris)

