Duka Ramadan: Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei
Oleh: Hening Parlan, EcoBhinneka Muhammadiyah
Ramadan selalu datang membawa dua wajah: cahaya dan kehilangan. Di bulan ketika manusia dilatih melepaskan keterikatan dunia, kabar wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menghadirkan jeda sunyi dalam kesadaran umat. Seorang ulama, pemikir, dan pemimpin yang melintasi berbagai fase sejarah perjuangan kini telah berpulang.
Inna lillāhi wa inna ilayhi rāji‘ūn.
Kematian seorang tokoh tidak hanya menutup riwayat hidup, tetapi juga membuka ruang perenungan. Ramadan sendiri adalah madrasah kesadaran — tempat manusia belajar melihat hidup bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana ia dijalani. Dalam perspektif ini, kehidupan Khamenei dapat dibaca bukan semata sebagai perjalanan kekuasaan, melainkan sebagai kisah tentang sikap.
Ia lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, dalam keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Jawad Khamenei, dikenal sebagai pendidik agama yang membentuk fondasi intelektual putranya sejak dini. Lingkungan rumahnya dipenuhi tradisi Al-Qur’an, bahasa Arab, dan disiplin keilmuan Islam. Masa mudanya dihabiskan di ḥawzah Mashhad sebelum melanjutkan studi ke Qom, pusat penting pemikiran Syiah modern.
Di Qom, ia belajar dari sejumlah ulama besar, termasuk Imam Khomeini, Ayatollah Borujerdi, dan Allameh Tabataba’i. Pendidikan ini tidak hanya membentuk kapasitas keilmuannya dalam fikih dan usul, tetapi juga memperluas minatnya pada filsafat Islam, tafsir Al-Qur’an, dan wacana kebangkitan Islam modern. Pemikiran tokoh-tokoh seperti Sayyid Qutb dan Muhammad Iqbal turut memberi warna pada pandangannya tentang hubungan antara iman, masyarakat, dan tanggung jawab sejarah.
Sejak awal, Khamenei tidak memandang ilmu sebagai ruang kontemplasi semata. Ia melihatnya sebagai dasar tanggung jawab sosial. Ketika gelombang kritik terhadap rezim Shah mulai tumbuh di kalangan ulama, ia tidak memilih posisi aman. Ia aktif menyebarkan gagasan perubahan dan menyampaikan pesan-pesan gurunya. Keterlibatan ini membuatnya beberapa kali ditangkap dan dipenjara.
Dari sini terlihat arah hidup yang ia pilih: ilmu harus berdiri di sisi keadilan.
Pada 27 Juni 1981, hidupnya nyaris berakhir. Saat menyampaikan ceramah di Masjid Abuzar, Teheran, sebuah bom yang disembunyikan dalam alat perekam meledak di dekat podium. Ledakan tersebut melukai tubuhnya secara serius dan menyebabkan kerusakan permanen pada tangan kanannya. Namun luka tidak menghentikannya. Ia tetap melanjutkan pengabdian di tengah situasi negara yang sedang menghadapi perang Iran–Irak dan konsolidasi pascarevolusi.
Pada tahun yang sama, ia terpilih sebagai Presiden Iran. Dalam konteks perang dan ketegangan politik, kepemimpinannya berada dalam situasi penuh tekanan. Luka fisik yang ia bawa menjadi simbol bahwa keteguhan tidak selalu lahir dari kekuatan tubuh, tetapi dari kedalaman keyakinan.
Titik balik terbesar datang pada Juni 1989 setelah wafatnya Imam Khomeini. Republik Islam Iran menghadapi momen transisi yang menentukan. Majelis Ahli Kepemimpinan memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Ia sempat menyatakan keraguan atas kelayakannya, namun akhirnya menerima amanah tersebut sebagai tanggung jawab sejarah. Sejak saat itu, ia memegang posisi walī al-faqīh selama lebih dari tiga dekade.
Di balik peran politiknya, ia tetap dikenal sebagai intelektual. Ia menerjemahkan karya Sayyid Qutb, mengkaji Muhammad Iqbal, dan menulis tentang tauhid sebagai fondasi masyarakat. Baginya, tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi energi moral yang membentuk keadilan sosial dan tanggung jawab umat dalam sejarah.
Kini perjalanan panjang itu telah selesai. Seorang murid revolusi, penyintas luka, presiden di masa perang, dan pemimpin selama puluhan tahun telah kembali kepada Rabb-nya. Ramadan mengingatkan bahwa setiap kepemimpinan, pengaruh, dan sejarah pada akhirnya bermuara pada kepulangan.
Yang tersisa bukanlah kekuasaan, melainkan sikap.
Waktu akan meluruhkan jabatan, sejarah akan menanggalkan gelar, dan generasi baru mungkin tidak lagi mengenal nama-nama masa lalu. Namun sikap tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam jejak: dalam keberanian untuk berdiri di tengah tekanan, dalam kesediaan memikul amanah, dan dalam kesabaran menjalani luka tanpa kehilangan arah.
Kehidupan para pemimpin sering dibaca melalui keputusan-keputusan besar. Namun pada akhirnya, yang dinilai bukan luasnya pengaruh, melainkan kedalaman niat.
Ramadan menjadi pengingat paling lembut tentang hal itu — bahwa dunia hanyalah tempat singgah dan kepemimpinan hanyalah titipan. Kepulangan adalah kepastian.
Ketika seseorang telah kembali, yang patut diwarisi bukanlah kekuasaannya, tetapi keteguhannya. Bukan strateginya, melainkan kesetiaannya pada nilai.
Ya Allah, Terimalah Ayatullah Ali Khamenei yang telah kembali.
Ampuni langkahnya, ringankan hisabnya, dan terangilah kuburnya.
Inna lillāhi wa inna ilayhi rāji‘ūn.

