Duta Madrasah Muhammadiyah Brand Ambassador Pendidikan Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

21 July 2026

195
Santri Madrasah

Santri Madrasah

Duta Madrasah Muhammadiyah Brand Ambassador Pendidikan Berkemajuan

Oleh: Agus Sholeh, Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah

Mengapa sebuah organisasi membutuhkan duta? Kenapa semua negara juga mempunyai Duta Besar yang ditempatkan di luar negeri?. Jawabannya sederhana, yaitu karena manusia pada umumnya lebih mudah percaya kepada pengalaman yang berhasil daripada teori yang belum teruji. 

Dalam banyak hal, keteladanan selalu lebih kuat daripada sekadar penjelasan. Orang tidak hanya mendengar gagasan, cerita keberhasilan (success story), tetapi juga ingin melihat siapa yang berhasil mewujudkannya.

Prinsip inilah yang selama bertahun-tahun digunakan oleh dunia bisnis. Perusahaan-perusahaan besar rela menginvestasikan dana yang tidak sedikit untuk memilih Brand Ambassador, yaitu figur yang dipercaya mampu merepresentasikan nilai, kualitas, dan reputasi sebuah produk. Seorang Brand Ambassador bukan sekadar wajah dalam iklan. Ia menjadi simbol kepercayaan. Kehadirannya membuat masyarakat yakin bahwa produk yang diwakilinya layak dipercaya.

Dunia pemerintahan mengenal istilah yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama,yaitu Duta. Kita mengenal ada Duta Bahasa, Duta Literasi, Duta Pariwisata, Duta Baca, Duta Kerukunan, hingga berbagai duta di bidang sosial dan budaya. Mereka dipilih bukan semata karena popularitas, melainkan juga karena mampu menggerakkan masyarakat, menyebarkan gagasan, dan menjadi representasi sebuah gerakan.

Gagasan serupa pernah diperlihatkan Anies Baswedan ketika menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia tidak membatasi sumber inspirasi pendidikan hanya pada kalangan akademisi. Salah satu tokoh yang dihadirkannya di hadapan para pendidik adalah Susi Pudjiastuti. Banyak orang mengenalnya sebagai pengusaha sukses yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Pendidikan formalnya tidak tinggi, tetapi pengalaman hidup, keberanian mengambil keputusan, integritas, dan kepemimpinannya menjadi sumber pembelajaran yang autentik. Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, yaitu pendidikan juga belajar dari keteladanan dan pengalaman nyata.

Semangat itulah yang kini menemukan relevansinya dalam Program Duta Madrasah Muhammadiyah. Yang dibutuhkan bukan sekadar narasumber yang pandai berbicara atau konsultan yang menawarkan konsep, melainkan para pemimpin madrasah yang telah membuktikan bahwa mutu dapat dibangun melalui kerja keras, inovasi, kepemimpinan yang melayani, dan kemampuan menggerakkan seluruh warga sekolah. Pengalaman mereka menjadi "kurikulum hidup" yang dapat dipelajari oleh madrasah lain.

Kehadiran Duta Madrasah menjadi semakin penting ketika madrasah swasta menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di satu sisi, dukungan anggaran pemerintah terhadap madrasah swasta belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pengembangan mutu. Di sisi lain, harapan masyarakat terhadap kualitas pendidikan Islam justru terus meningkat. Orang tua tidak lagi hanya mencari sekolah yang mengajarkan agama, tetapi juga lembaga yang mampu melahirkan generasi yang religius, cerdas, adaptif terhadap teknologi, serta memiliki karakter yang kuat.

Dalam situasi seperti ini, mengandalkan bantuan dari luar saja tidak cukup. Muhammadiyah perlu mengoptimalkan modal sosial yang selama ini dimilikinya, yaitu jejaring ribuan amal usaha pendidikan dan pengalaman para kepala madrasah yang telah berhasil membangun lembaganya menjadi unggul. Praktik-praktik baik tersebut tidak boleh berhenti di satu tempat. Ia harus berpindah, menyebar, dan menjadi energi perubahan bagi madrasah lainnya. Inilah hakikat kehadiran Duta Madrasah.

Jika perusahaan memilih Brand Ambassador berdasarkan kredibilitas, daya pengaruh, dan rekam jejaknya, maka Muhammadiyah pun memilih Duta Madrasah dengan pertimbangan yang hampir serupa. Mereka bukan dipilih karena popularitas atau kemampuan retorika semata, tetapi karena telah membuktikan keberhasilannya memimpin madrasah Muhammadiyah. Mereka adalah wajah pendidikan Muhammadiyah yang menunjukkan bahwa madrasah Muhammadiyah mampu tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Peran tersebut menjadi semakin strategis ketika dunia pendidikan memasuki era baru. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong implementasi pendekatan Deep Learning yang menekankan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful. Pada saat yang sama, Kementerian Agama mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta yang menguatkan nilai kasih sayang, empati, penghormatan terhadap martabat manusia, dan spiritualitas.

Kedua kebijakan tersebut sesungguhnya saling melengkapi. Namun, bagi banyak madrasah swasta, implementasinya tidak selalu mudah. Mereka harus mengelola berbagai tuntutan administrasi dari dua ekosistem kebijakan yang berbeda dan  sering kali menyita energi yang seharusnya dapat difokuskan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tidak sedikit kepala madrasah yang merasa seolah memiliki "dua komandan" dengan agenda yang sama-sama harus dipenuhi.

Persoalan tersebut diperberat oleh posisi madrasah dalam tata kelola pendidikan nasional. Karena berada di bawah pembinaan Kementerian Agama, madrasah sering kali tidak menjadi prioritas dalam berbagai program pendidikan pemerintah daerah yang lebih banyak diarahkan kepada sekolah di bawah dinas pendidikan. Akibatnya, peluang memperoleh dukungan pembiayaan daerah, penguatan kapasitas guru, maupun berbagai program inovasi tidak selalu dapat dinikmati secara optimal.

Dalam kondisi seperti ini, Duta Madrasah tidak cukup hanya menjadi motivator. Mereka harus menjadi navigator perubahan. Pengalaman lapangan yang mereka miliki memungkinkan mereka mendampingi madrasah dalam menyusun strategi, menentukan prioritas, mengelola perubahan, sekaligus membangun jejaring kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Peran tersebut juga mencakup diplomasi kelembagaan. Harus diakui bahwa komunikasi sebagian madrasah Muhammadiyah dengan struktur Kementerian Agama masih perlu terus diperkuat. Semangat kemandirian yang menjadi karakter Muhammadiyah merupakan modal besar yang telah terbukti melahirkan ribuan amal usaha. Namun, pada era kolaborasi, kemandirian tidak berarti berjalan sendiri. Justru kekuatan organisasi akan semakin besar ketika mampu membangun kemitraan yang sehat dengan pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Karena itu Keputusan dan inisiasi Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Keputusan Nomor 625/SK/I.4/F/2026 yang menugaskan para Duta Madrasah Muhammadiyah untuk mendampingi pengembangan mutu madrasah Muhammadiyah merupakan langkah strategis dan taktis. Penugasan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan strategi percepatan transformasi melalui penyebaran praktik-praktik terbaik dari satu madrasah kepada madrasah lainnya.

Sesungguhnya, yang sedang dibangun Muhammadiyah bukan hanya sebuah program pendampingan. Yang sedang dibangun adalah budaya berbagi pengetahuan dan kepemimpinan. Dalam ilmu manajemen modern, organisasi yang mampu menyebarkan best practices akan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan organisasi yang membiarkan setiap unit belajar sendiri melalui proses coba-coba (trial and error). Duta Madrasah merupakan instrumen untuk mempercepat proses pembelajaran kolektif tersebut.

Pada akhirnya, Duta Madrasah bukan sedang "menjual" madrasah sebagaimana Brand Ambassador mempromosikan sebuah produk. Yang dibangun adalah kepercayaan masyarakat. Ketika satu demi satu madrasah Muhammadiyah menunjukkan kualitas pembelajaran yang baik, tata kelola yang profesional, dan lulusan yang berkarakter, maka sesungguhnya yang tumbuh adalah reputasi Persyarikatan di bidang pendidikan.

Jika dunia usaha membangun kepercayaan publik melalui Brand Ambassador, maka Muhammadiyah membangun kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan melalui Duta Madrasah. Dari sinilah akan lahir Madrasah Muhammadiyah Berkemajuan, yaitu lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman, unggul dalam mutu, kuat dalam jejaring, dan tetap kokoh berpijak pada teologi Al-Ma'un serta cita-cita besar Islam Berkemajuan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menundukkan Ego dengan Puasa Oleh: Fathan Fari Saputro Puasa tidak hanya soal menahan lapar dan ha....

Suara Muhammadiyah

14 March 2024

Wawasan

Membangun Kader Muhammadiyah yang Berintegritas Melalui Disiplin Pikiran: Urgensi dan Strategi Ole....

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

Wawasan

Mengenal Syariah Lebih Dekat Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas H....

Suara Muhammadiyah

20 November 2024

Wawasan

Antar Sekolah Muhammadiyah Mitra dalam Mencerdaskan Bangsa Bukan Kompetitor Oleh: Muhammad Zakki, S....

Suara Muhammadiyah

1 May 2026

Wawasan

Ramadhan dan Normalisasi Polarisasi Politik Akhmad Khairudin, M.B.A., Majelis Ekonomi PCM Turi Pem....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah