Enam Makna Tanah dalam Al-Qur'an, Dosen UM Bandung Ajak Umat Renungi Hakikat Manusia

Suara Muhammadiyah

3 July 2026

70
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Manusia berasal dari tanah. Kalimat sederhana ini sering kali hanya dipahami sebagai penjelasan tentang asal-usul penciptaan manusia. Padahal, Al-Qur'an menggunakan beragam istilah untuk menyebut "tanah", masing-masing memiliki makna yang berbeda dan menyimpan pesan mendalam tentang perjalanan hidup manusia.

Pesan itulah yang disampaikan dosen UM Bandung sekaligus Ketua DKM Masjid Raya Mujahidin PWM Jabar Ihsan Imaduddin dalam GSM Aisyiyah Jabar bertajuk "Menyelami Variasi Kata Tanah Sebagai Bahan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur'an" pada Selasa lalu.

Dalam kajian tersebut, Ihsan mengajak umat Islam memahami bahwa Al-Qur'an tidak sekadar menjelaskan proses biologis penciptaan manusia. Namun, menghadirkan pelajaran psikologis, sosial, spiritual, hingga ilmiah yang sangat relevan dengan kehidupan masa kini.

Dia pun mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Mu’minin ayat 12, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah."

“Penggunaan berbagai istilah tanah dalam Al-Qur'an bukanlah sekadar variasi bahasa. Setiap kata memiliki karakteristik tersendiri yang menggambarkan fase pembentukan manusia sekaligus perjalanan kehidupannya,” ujar Ihsan.

Istilah pertama adalah thin atau tanah liat (di antaranya QS Al-Isra: 61). Tanah yang masih lunak ini melambangkan masa pertumbuhan manusia yang masih mudah dibentuk. Sebagaimana tanah liat yang lentur, manusia sejak lahir membawa fitrah yang suci dan memiliki potensi besar untuk menerima nilai-nilai kebaikan apabila diarahkan dengan pendidikan yang benar.

Tahapan berikutnya adalah thin lazib atau tanah liat yang lengket (QS Ash-Shafat: 11). Makna ini menggambarkan pentingnya keterikatan antarmanusia melalui kasih sayang, persaudaraan, gotong royong, dan solidaritas sosial. Namun, di sisi lain, manusia juga diingatkan agar tidak terlalu "melekat" pada kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Selanjutnya terdapat istilah sulalah (QS Al-Mu’minin: 12) yang berarti sari pati atau esensi terbaik dari tanah. Ihsan menjelaskan, setiap manusia telah dianugerahi potensi terbaik oleh Allah SWT. Potensi tersebut harus dikembangkan melalui ilmu, amal, dan akhlak sehingga mampu memberikan manfaat bagi sesama.

Sementara itu, shalshal atau tanah kering (QS Ar-Rahman: 14) seperti tembikar menggambarkan fase kedewasaan seseorang. Pada tahap ini manusia dituntut memiliki prinsip hidup yang kuat dan kokoh. Namun keteguhan tersebut tidak boleh berubah menjadi sikap keras kepala yang menutup diri terhadap nasihat dan perubahan menuju kebaikan.

Adapun turab atau pasir (QS Ar-Rum: 20) mengingatkan manusia akan asal-usulnya yang sederhana. Seberapa tinggi jabatan, ilmu, ataupun harta yang dimiliki, semuanya bermula dari tanah dan kelak akan kembali menjadi tanah. Kesadaran inilah yang melahirkan sifat tawadhu' serta menjauhkan manusia dari kesombongan.

Makna yang tidak kalah mendalam terdapat pada istilah hama'in masnun (QS Al-Hijr: 26), yakni tanah hitam yang telah dibentuk. Menurut Ihsan, istilah ini dapat dimaknai sebagai proses pembentukan karakter manusia melalui berbagai pengalaman hidup, termasuk luka, kegagalan, dan trauma. Apabila dikelola dengan baik, setiap ujian justru menjadi sarana pendewasaan sehingga melahirkan pribadi yang lebih tangguh dan bijaksana.

“Manusia merupakan makhluk yang utuh dengan dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkaitan. Pemahaman terhadap asal-usul penciptaan manusia menjadi pengingat agar setiap individu senantiasa menjaga kelembutan hati, membangun hubungan sosial yang sehat, mengembangkan potensi diri, serta menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT,” tandas Ihsan.

Ihsan mengajak umat Islam menyadari bahwa kekayaan bahasa Al-Qur'an bukan sekadar keindahan sastra, melainkan menyimpan hikmah yang luar biasa bagi kehidupan. Enam variasi kata "tanah" menjadi gambaran perjalanan manusia.

Mulai dari fitrah yang lembut, proses membangun hubungan sosial, mengembangkan potensi, menempa kedewasaan, menjaga kerendahan hati, hingga mengolah berbagai ujian kehidupan menjadi kekuatan.

Dia menegaskan, semua itu merupakan pengingat bahwa memahami Al-Qur'an tidak cukup berhenti pada aspek tekstual semata. Namun, perlu menggali makna-makna mendalam yang mampu membentuk karakter manusia menjadi pribadi yang beriman, berilmu, rendah hati, serta senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.*(HMA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada pengajian hari ini Jum’at (08/03) di Masjid Islamic Cent....

Suara Muhammadiyah

9 March 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Condong Catur kembali menggelar kegiatan Tasmi’ J....

Suara Muhammadiyah

11 January 2025

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD....

Suara Muhammadiyah

9 October 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung concern pada solusi sampah....

Suara Muhammadiyah

23 September 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidi....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah