Esensi Puasa Adalah Progresivitas Takwa, Bukan Sekadar Status

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
129
Prof Dr Syafiq A Mughni, MA

Prof Dr Syafiq A Mughni, MA

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A Mughni, menekankan bahwa keberhasilan ibadah di bulan suci Ramadhan tidak diukur dari pengakuan seseorang telah menjadi bertakwa atau belum.

Menurutnya, yang paling utama bagi seorang Muslim adalah usaha untuk terus memperbaiki diri dan menunjukkan progres dalam kualitas ketakwaan.

"Kita tidak penting bertanya apakah kita sudah menjadi orang yang bertakwa atau belum, karena itu hak Allah untuk menilai. Yang jauh lebih penting bagi kita adalah berusaha memperbaiki dan meningkatkan takwa tersebut," ujarnya, Rabu (4/3) dalam agenda Buka Bersama Karyawan Majelis Takwa Telkomsel (MTT) Regional 1 Sumatra di Kota Medan.

Beliau memberikan analogi sederhana mengenai penilaian amal. Syafiq menyebut bahwa nilai yang terus meningkat jauh lebih baik daripada nilai tinggi yang berhenti di tempat.

"Kalau kemarin mungkin nilainya masih 6, sekarang menjadi 7 atau 8. Itu lebih penting daripada kemarin 9 tapi stagnan, tidak ada progres. Allah akan memberikan pahala dari apa yang diusahakan," tambahnya.

Empat Dimensi Kesehatan dari Ibadah Puasa

Selain sebagai sarana transformasi spiritual, Syafiq Mughni juga menjabarkan berbagai hikmah puasa yang mencakup empat aspek kesehatan utama:

Pertama, kesehatan Spiritual. Menurutnya, puasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. “Sebagai makhluk yang berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, manusia diharapkan tidak pernah merasa jauh dari Allah SWT,” katanya.

Kedua, kesehatan Emosional. Ramadan menjadi momentum latihan mengelola emosi, terutama amarah. Syafiq menekankan pentingnya menjadi pribadi yang wal kadziminal ghaidh (menahan amarah) dan wal 'afina 'anin nas (memaafkan manusia).

"Mengendalikan dan mengelola marah secara proporsional itu penting. Semakin cepat amarah itu hilang, maka semakin baik bagi kedekatan spiritual kita," jelasnya.

Ketiga, Kesehatan Fisik. Puasa seharusnya menjadi momentum pengaturan pola makan atau diet. Namun, Syafiq memberikan catatan kritis bagi fenomena konsumerisme di bulan Ramadhan.

Ia menyayangkan jika ada umat yang justru tidak terkendali dalam belanja sehingga meningkatkan volume sampah.

Kesehatan Sosial: Dimensi ini diwujudkan melalui penguatan empati terhadap kaum fuqara dan masakin. Syafiq mengapresiasi aksi-aksi sosial, seperti pemberian santunan, sebagai bentuk nyata dari kesehatan sosial yang dilatih selama bulan suci.

Menutup pesannya, Syafiq mengajak seluruh umat untuk menjadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik dalam meningkatkan kepedulian sosial dan pengendalian diri, sehingga tujuan utama puasa dapat tercapai secara menyeluruh. (Nadri/Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Gelar Leadership Training and Organization KUDUS, Suara Muhammadiyah - Sebagai upaya meningkatkan k....

Suara Muhammadiyah

22 December 2025

Berita

PETAILING JAYA, Suara Muhammadiyah - Universitas Ahmad Dahlan Go Internasional dengan melakukan kegi....

Suara Muhammadiyah

9 October 2023

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Pada Sabtu, 26 Oktober 2024, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan....

Suara Muhammadiyah

28 October 2024

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah — Upaya penguatan pendidikan keislaman bagi generasi muda teru....

Suara Muhammadiyah

14 February 2026

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Tim Kegiatan Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah