JAKARTA, Suara Muhmmadiyah - Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) menyelenggarakan Kuliah Umum Blok Anti-Aging bertema “Mental Health as an Anti Aging Secret” yang berlangsung di Ruang Teater I FKK UMJ, Rabu (01/07/2026). Kuliah umum ini menghadirkan praktisi neuro parenting skill, dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI., sebagai narasumber.
Ketua Program Studi Kedokteran FKK UMJ, dr. Tri Wahyuni, Sp.PK., menekankan bahwa konsep anti-aging tidak hanya berfokus pada perawatan fisik. Namun mencakup kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas hidup seseorang.
“Kesehatan yang sesungguhnya selalu diawali dari jiwa yang sehat. Karena itu, penting bagi kita memahami bagaimana jiwa membentuk pikiran sehingga mampu menjadi penunjang bagi kesehatan tubuh,” ujarnya.
Pada sesi kuliah umum, Aisah Dahlan menjelaskan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan cara kerja otak dalam mengatur emosi, perilaku, serta respons tubuh terhadap tekanan. Menurutnya, kondisi emosional yang tidak terkelola dapat memengaruhi fungsi otak dan mempercepat proses penuaan.
“Mental health bukan hanya persoalan perasaan, tetapi berkaitan langsung dengan cara otak bekerja. Ketika emosi tidak dikelola dengan baik, tubuh juga akan memberikan respons yang memengaruhi kesehatan secara keseluruhan,” jelasnya.
Aisah juga memaparkan konsep neuroplasticity, yaitu kemampuan otak membentuk koneksi baru sepanjang kehidupan. Ia menjelaskan bahwa setiap pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir akan membentuk jaringan neuron yang menentukan respons seseorang terhadap berbagai situasi. Selain itu, ia menguraikan peran prefrontal cortex, limbic system, dan brainstem (batang otak) dalam mengendalikan emosi, pengambilan keputusan, serta mekanisme bertahan hidup.
Lebih lanjut, Aisah menerangkan bahwa batang otak akan memunculkan respons fight, flight, dan freeze ketika seseorang menghadapi tekanan atau ancaman. Kondisi tersebut dapat menghambat fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam berpikir logis, mengingat informasi, dan mengambil keputusan.
“Saat batang otak dan otak emosi berada dalam kondisi tegang, fungsi prefrontal cortex dapat terblokir sementara sehingga seseorang sulit berpikir jernih. Cara paling sederhana untuk meredakannya adalah dengan menarik napas dalam sebagai bentuk manajemen stres dan emosi,” ungkapnya.
Aisah menjelaskan bahwa pola pikir dan cara seseorang mengelola emosi berpengaruh terhadap keseimbangan hormon dalam tubuh, yang pada akhirnya turut menentukan kualitas kesehatan dan proses healthy aging. Ia juga mengajak peserta mengenali karakter dasar atau temperament, seperti introvert, extrovert, dan ambivert, sebagai langkah awal memahami respons emosional diri.
“Ketika seseorang terbiasa menerima atau mengucapkan kata-kata negatif, hormon kortisol akan meningkat. Sebaliknya, jika kita mampu menjaga pikiran tetap positif dan mengelola emosi dengan baik, tubuh akan lebih mudah mempertahankan kondisi yang sehat,” tuturnya.
Kuliah umum ditutup dengan demonstrasi level emosi yang dipandu langsung oleh Aisah Dahlan. Melalui sesi tersebut, peserta diajak mengenali tingkatan emosi serta mempraktikkan teknik sederhana untuk mengelola stres sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan mendukung proses anti-aging.

