Fondasi Keluarga Sakinah: Memilih Pasangan Hidup untuk Mendidik Anak

Suara Muhammadiyah

27 August 2026

66
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Fondasi Keluarga Sakinah: Memilih Pasangan Hidup untuk Mendidik Anak

Oleh: Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, LPP PCM Lowokwaru

Dalam wacana parenting Islam, proses mendidik anak (tarbiyatul aulad) sering kali baru dianggap dimulai saat seorang bayi terlahir ke dunia. Prasangka ini membuat banyak orang tua baru sibuk berburu literatur pengasuhan, psikologi perkembangan, hingga metode stimulasi anak ketika buah hati sudah berada di pelukan. Padahal, jika kita menelaah kedalaman ajaran Islam, madrasah pertama bagi seorang anak tidak dibangun saat ia lahir, melainkan puluhan tahun sebelumnya: tepat ketika seorang pria dan wanita menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup mereka. Memilih pasangan adalah langkah konkret, paling mendasar, dan paling menentukan dalam mencetak generasi penerus yang salih dan salihah.

Islam memandang pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam ikatan cinta keperdataan, melainkan sebuah perjanjian yang sangat kokoh (mitsaqan ghalizha). Dalam kurikulum pendidikan Islam, kualitas pasangan hidup akan menentukan atmosfer spiritual, emosional, dan intelektual di mana calon anak akan bertumbuh. Sepasang suami istri adalah arsitek utama yang akan merancang iklim tumbuh tewasnya buah hati. Oleh karena itu, kekeliruan dalam memilih pasangan hidup secara tidak langsung telah meletakkan fondasi yang rapuh bagi proses pendidikan anak di masa depan.

Rasulullah SAW telah memberikan garis panduan yang sangat jelas dan futuristik dalam memilih pasangan. Dalam sebuah hadis yang sangat populer riwayat Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأرْبَعٍ: لِمالِها ولِحَسَبِها وجَمالِها ولِدِينِها، فاظْفَرْ بذاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَداكَ

"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama (memahami dan mengamalkan agama), niscaya engkau akan beruntung." (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Hadis di atas tidak hanya berlaku bagi laki-laki dalam memilih istri, tetapi juga menjadi kaidah bagi wanita dalam memilih suami. Mengutamakan faktor ketaatan agama (diin) dan akhlak adalah investasi jangka panjang untuk pendidikan anak. Seorang pasangan yang memiliki pemahaman agama yang baik akan paham hak dan kewajibannya, tahu cara menyikapi pasangan dengan lembut, serta memiliki kesadaran penuh bahwa anak adalah amanah titipan Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Ketika seorang suami memilih istri yang salihah, ia sebenarnya sedang memilihkan sosok Madrasatul Ula (sekolah pertama) yang berkualitas untuk anak-anaknya. Sebaliknya, ketika seorang wanita memilih suami yang bertakwa dan berakhlak mulia, ia sedang memilih sosok Rai (pemimpin dan pelindung) yang akan menafkahi dengan rezeki halal serta memimpin keluarganya menuju surga. Hal ini selaras dengan pilar dasar keluarga sakinah yang termaktub dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِك لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)

Ketenangan (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) yang tercipta antara suami dan istri merupakan syarat mutlak bagi kesehatan mental anak. Anak yang tumbuh di dalam rumah tangga yang penuh perselisihan, kekerasan, atau ketiadaan rasa saling menghargai akan mengalami trauma emosional yang menghambat perkembangan karakternya. Sebaliknya, anak yang menyaksikan kedua orang tuanya saling mengasihi, bekerja sama dalam kebaikan, dan saling menasihati dalam kebenaran akan menyerap nilai-nilai kebaikan tersebut secara alami melalui proses keteladanan (uswatun hasanah).

Diriwayatkan dalam literatur klasik Islam, seorang ayah pernah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA untuk mengadukan perilaku anaknya yang durhaka. Umar kemudian memanggil anak tersebut dan bertanya mengapa ia melukai hati ayahnya. Anak itu justru bertanya balik, "Wahai Amirul Mukminin, apakah seorang anak memiliki hak atas ayahnya?" Umar menjawab, "Ya, ada tiga hak anak: ayahnya memilihkan ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkan Al-Qur'an kepadanya." Anak itu lantas berkata, "Demi Allah, ayahku tidak melakukan satu pun dari ketiga hal itu. Ia memilih ibuku dari golongan yang tidak berakhlak, memberiku nama yang buruk, dan tidak pernah mengajarkanku satu huruf pun dari Al-Qur'an." Mendengar hal itu, Umar berpaling kepada sang ayah dan berkata, "Engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu."

Kisah legendaris di atas menjadi penegas betapa krusialnya fase pemilihan pasangan. Anak memiliki hak implisit untuk dilahirkan dari orang tua yang siap secara mental, spiritual, dan moral. Keputusan masa muda kita dalam memilih kriteria pasangan hidup akan berbuah manis atau pahit puluhan tahun setelahnya.

Membangun keluarga sakinah dan mencetak generasi yang tangguh memerlukan visi pendidikan yang jauh ke depan. Dalam Al-Qur'an Surah At-Tahrim ayat 6, Allah SWT memerintahkan:

يٰآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Perintah menjaga diri dan keluarga dari api neraka mustahil dapat dijalankan sendirian tanpa kerja sama tim (teamwork) yang solid antara suami dan istri. Pasangan yang sevisi akan saling bahu-membahu dalam mengarahkan anak-anaknya. Ketika suami lelah bekerja mencari nafkah halal, istri hadir menguatkan dan mendidik anak di rumah. Ketika istri merasa lesu dalam mengasuh, suami hadir memberikan empati, bantuan fisik, dan dorongan spiritual.

Kesimpulannya, parenting bukanlah proses intuitif yang baru dimulai saat tangis bayi pecah di ruang bersalin. Parenting adalah perjalanan spiritual panjang yang gerbang utamanya dibuka saat kita memohon petunjuk Allah melalui istikharah dalam menentukan pasangan hidup. Dengan memilih pasangan yang memiliki fondasi agama yang kokoh, berakhlak mulia, dan memiliki kesamaan visi rabbani, kita telah mengamankan langkah pertama yang paling krusial untuk melahirkan generasi penguat peradaban Islam yang menyejukkan pandangan mata (qurrata a'yun).


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dakwah Tak Hanya di Mimbar, Muhammadiyah Bantul Serukan Rutin Jalan Sehat Penulis : Yudha Kurniawan....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko, LPCRPM PP Muhammadiyah, Bidang Pemberdayaan Ekonomi, Seni dan Budaya....

Suara Muhammadiyah

6 September 2024

Wawasan

Semangat Baru Pendidikan Era Prof Mu'ti: Apa yang Sebaiknya Disiapkan AUMDIK/ AUADIK ? Oleh: Achmad....

Suara Muhammadiyah

26 December 2024

Wawasan

Nubuwah Era Digital dan Aplikasinya dalam Pembelajaran Oleh: Dr. Samson Fajar, M.Sos.I. Era digita....

Suara Muhammadiyah

28 September 2023

Wawasan

Masih Tuluskah Kita Ber-Muhammadiyah? Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hida....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah