SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Manusia mesti bijak dalam memilih teman. Lebih-lebih, di tengah dekadensi moral yang mewabah di peradaban manusia abad modern.
“Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik,” demikian Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menekankan.
Parameter akhlak yang baik, tersebut di Qs ali-Imran ayat 134—memuat pula representasi orang bertakwa—orang yang menahan amarahnya hatta memancing kemarahan dan perseteruan.
Menggarisbawahi konteks ini, Agus menyebut, implikasinya begitu rupa. “Marah ini ternyata dampaknya luar biasa,” bebernya, Selasa (31/3) saat Halal Bi Halal dan Pelepasan Calon Jamaah Haji Keluarga Besar Universitas Islam Indonesia 1447 H di Auditorium KH Ahmad Kahar Muzakir.
Dari sudut pandang kesehatan, misalnya, tak pelak marah menjadi pangkal dari turunnya sistem imun dalam tubuh. “Ini terpengaruh pada orang marah,” kata Agus, menyebut derivasi penyakitnya antara lain berhubungan dengan penyakit jantung koroner.
“Kalau ingin sakit jantung, sering-sering saja marah,” ucapnya, seloroh dengan partikel penyakit lainnya yang muncul, stroke. “Ini penyakit terberat,” imbuhnya lagi.
Kenapa begitu? “Karena stroke ini menjadi penyebab kematian,” sambung Agus. Yang ini telah menyeruak di banyak rumah sakit.
Bahkan, di sejumlah negara, banyak negara, ditemukan kalau penduduknya mengalami kematian mendadak. “Dan penyakit dengan sequelae (kondisi, gejala) kelemahan tertinggi,” urainya.
Fakta penelitian membuktikan, kalau penyakit stroke sangat berkorelasi dengan konteks kemarahan. Temuan di lapangan pun benar-benar kredibel, dan tak terbantahkan lagi.
“Ada yang menyebut 2/3 dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena stroke sebelumnya mengalami emosi negatif,” terang Agus.
Secara spesifik, stroke bentuknya ada dua tipe. Pertama, stroke iskemik; ketika pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak mengalami penyempitan atau tersumbat, seringkali oleh bekuan darah.
“Biasanya orangnya tidak nyeri kepala, tetap sadar, tidak mengancam kehidupan, tidak prognosis kematiannya rendah, tapi tingkat kesembuhannya lebih lambat,” jelasnya.
Kedua, stroke hemoragik; ketika pembuluh darah di otak pecah atau bocor, menyebabkan darah menumpuk dan menekan jaringan otak di sekitarnya.
“Biasanya nyeri kepala hebat sampai penurunan kesadaran. Mengancam kematian karena prognosis kematiannya tinggi,” urainya.
Sedemikian rupa bunga rampai dampak yang ditimbulkan dari perangai marah. Dan umat Islam, pasca-puasa, niscaya telah terkendali jiwanya dari letupan amarah.
“Mari berusaha tidak mudah marah agar hikmah pergaulan silaturahminya dapat dan juga kita tidak yang lain (penyakit yang ditimbulkan akibat marah),” pungkas Agus. (Cris)
