Guru PAUD ‘Aisyiyah Jawa Barat Didorong Terapkan Pembelajaran Mendalam Berbasis Digital

Suara Muhammadiyah

10 September 2026

196
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Guru PAUD ‘Aisyiyah Jawa Barat Didorong Terapkan Pembelajaran Mendalam Berbasis Digital

Dr. Nurul Fahimah: Koordinator Divisi PAUD Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat

BANDUNG — Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat mendorong guru memanfaatkan teknologi digital untuk menata data satuan pendidikan, menyederhanakan pekerjaan administratif, mendokumentasikan perkembangan anak, serta memperkuat komunikasi dengan orang tua.

Pemanfaatan teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah intensitas penggunaan gawai oleh anak. Sebaliknya, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu bagi guru dalam merancang, melaksanakan, mendokumentasikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Implementasi Pembelajaran Mendalam Berbasis Digital bagi Guru PAUD ‘Aisyiyah Jawa Barat yang diselenggarakan Divisi PAUD Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung.

Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi, yakni 1–2 September dan 3–4 September 2026. Kegiatan diikuti 120 guru dan kepala satuan PAUD dari 20 kabupaten dan kota. Saat ini, Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat membina 367 satuan PAUD dengan 1.592 guru dan tenaga kependidikan serta 12.822 peserta didik.

Menghubungkan Data, Pembelajaran, dan Asesmen

Pelatihan diarahkan untuk menata keterkaitan antara data satuan pendidikan, perencanaan pembelajaran, asesmen, dan laporan perkembangan anak. Selama ini, berbagai pekerjaan tersebut kerap dilakukan secara terpisah sehingga membutuhkan waktu dan berpotensi menimbulkan pengulangan pekerjaan.

Melalui pelatihan, peserta diajak menata data sekolah sejak awal, memetakan tujuan pembelajaran, merancang kegiatan berdasarkan kebutuhan anak, mencatat bukti perkembangan, hingga menyusun laporan berdasarkan data yang telah diverifikasi.

Peserta juga memperoleh penguatan konsep dan kebijakan serta mengikuti demonstrasi penggunaan SIMPAUD, yaitu platform digital berbasis situs web yang dirancang untuk membantu satuan PAUD ‘Aisyiyah mengelola berbagai kebutuhan secara lebih efektif dan efisien melalui digitalisasi.

Setelah memperoleh penjelasan, peserta mempraktikkan setiap tahapan menggunakan data satuan pendidikan masing-masing. Narasumber memberikan umpan balik terhadap hasil praktik sehingga peserta tidak hanya memahami cara menggunakan platform, tetapi juga memahami hubungan antara data, pembelajaran, asesmen, dan pelaporan.

Dengan demikian, digitalisasi tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi. Teknologi digunakan untuk menata alur kerja guru secara terpadu, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, asesmen, dokumentasi, hingga pelaporan.

Pembelajaran Mendalam Tetap Berbasis Bermain

Direktur Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal, Saiful Bari, S.Kom., M.Eng., membuka sesi pertama pelatihan. Dalam kegiatan tersebut, Pembelajaran Mendalam ditempatkan sebagai pendekatan yang berorientasi pada perkembangan anak secara utuh.

Pembelajaran Mendalam bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang mendorong terciptanya pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala BBGTK Provinsi Jawa Barat, Dr. Sugito Adiwarsito, M.Pd.Or., serta Prof. Dr. H. Ahmad Dahlan, M.Ag. Pada sesi kedua, kegiatan dihadiri Ketua Tim Kemitraan BBGTK Jawa Barat, Anggraeni Kusumadewi, S.Si., M.T., dan dibuka Ketua Tim Kerja Pembelajaran dan Penilaian Direktorat PAUD, Ditjen PAUD Dasmen, Dra. Mareta Wahyuni, M.Pd.

Peserta diajak memahami tiga pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan.

Pada jenjang PAUD, Pembelajaran Mendalam tetap berlangsung melalui aktivitas bermain. Pembelajaran berkesadaran ditunjukkan ketika anak fokus dan memahami aktivitas yang dilakukan. Pembelajaran bermakna hadir ketika kegiatan berkaitan dengan pengalaman nyata anak. Sementara itu, pembelajaran menggembirakan tercipta ketika anak merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk mencoba.

Misalnya, dalam kegiatan membuat jembatan dari balok, guru tidak langsung memberikan jawaban ketika jembatan roboh. Guru dapat mengajak anak mengamati penyebabnya, mendiskusikan kemungkinan solusi, kemudian mencoba kembali.

Aktivitas sederhana tersebut memberi ruang kepada anak untuk memecahkan masalah, menyusun strategi, berkomunikasi, bekerja sama, dan belajar menghadapi kegagalan.

Nilai Islam Hadir dalam Pengalaman Belajar

Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat, Dra. Hj. Ia Kurniati, M.Pd., menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi perlu tetap berpijak pada nilai Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Ke-‘Aisyiyahan.

Nilai agama tidak cukup dicantumkan dalam dokumen perencanaan pembelajaran. Nilai tersebut perlu hadir dalam pengalaman dan kebiasaan sehari-hari anak, seperti berdoa, berbagi, menunggu giliran, menyayangi teman, memilih makanan yang halal dan baik, serta menjaga tanaman dan lingkungan.

Dalam konteks tersebut, teknologi berfungsi membantu guru merencanakan dan mendokumentasikan proses pembelajaran. Namun, keteladanan dalam pembentukan karakter tetap berangkat dari interaksi langsung antara guru dan anak.

Pada hari pertama, peserta berlatih memeriksa dan menata profil satuan pendidikan, struktur organisasi, data guru, akun pengguna, hak akses, tahun ajaran, kurikulum, semester, kelas, serta data peserta didik.

Peserta juga menyiapkan kalender pendidikan, Capaian Pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, tujuan pembelajaran, indikator ketercapaian, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, muatan lokal, topik, serta subtopik.

Setiap data memiliki keterkaitan. Tahun ajaran dan semester menentukan periode kerja, data guru berkaitan dengan pengelolaan kelas dan akses pengguna, sedangkan data peserta didik menjadi dasar pencatatan perkembangan.

Kelengkapan dan ketepatan data menjadi bagian penting karena kesalahan pada tahap awal dapat memengaruhi proses perencanaan, asesmen, hingga pelaporan.

Pada malam hari, peserta mengikuti sesi permainan pukul 19.30–21.00 WIB. Permainan dirancang untuk melatih perhatian, komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, dan refleksi. Setelah kegiatan, peserta mendiskusikan tujuan belajar, bentuk dukungan guru, serta penerapannya dalam kegiatan pembukaan, inti, scaffolding, dan penutup.

Hari kedua diawali kegiatan capacity building pada pukul 05.30–07.00 WIB. Selanjutnya, peserta memetakan tujuan pembelajaran, memilih topik dan subtopik, menentukan waktu kegiatan, melaksanakan asesmen awal, menetapkan fokus pengamatan, serta menyiapkan media dan lingkungan bermain.

Asesmen awal digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang sudah muncul, kemampuan yang mulai berkembang, dan kemampuan yang masih memerlukan dukungan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi guru dalam menentukan kegiatan dan bentuk bantuan yang sesuai.

Asesmen bukan digunakan untuk membandingkan anak, melainkan untuk memahami kebutuhan setiap anak dalam proses belajar.

Sebagai contoh, pada topik tanaman sayur, guru dapat mengamati kemampuan anak membedakan bentuk, mengelompokkan sayuran, menyampaikan hasil pengamatan, bekerja sama, atau menunjukkan kepedulian terhadap tanaman.

Guru tidak harus menilai seluruh tujuan pembelajaran dalam satu kegiatan. Pengamatan dapat difokuskan pada kemampuan yang benar-benar muncul selama aktivitas berlangsung sehingga catatan perkembangan lebih autentik dan sesuai dengan pengalaman anak.

Pelatihan juga memperkenalkan kecerdasan artifisial atau AI sebagai alat bantu dalam menyusun draf perencanaan dan narasi laporan.

Agar hasil yang diperoleh relevan, guru perlu memasukkan informasi yang memadai, antara lain tujuan pembelajaran, topik, waktu, hasil asesmen awal, fokus pengamatan, serta kondisi kelas.

Namun, hasil yang diberikan AI tidak dapat langsung digunakan. Guru tetap perlu memeriksa kesesuaiannya dengan usia dan karakteristik anak, ketersediaan alat dan bahan, aspek keamanan, alokasi waktu, penggunaan bahasa, nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta kondisi nyata di satuan pendidikan.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi guru tetap menjadi pihak yang menentukan kebenaran, kesesuaian, dan kelayakan hasil yang digunakan dalam pembelajaran.

Peserta juga mempraktikkan asesmen menggunakan daftar cek, catatan anekdot, hasil karya, dan foto berseri.

Daftar cek digunakan untuk menandai kemampuan yang terlihat. Sementara itu, catatan anekdot memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai perilaku anak, misalnya ketika berbagi bahan, menunggu giliran, membantu teman, menyampaikan pendapat, atau mencoba strategi baru.

Hasil karya dapat memberikan informasi tentang proses dan produk kegiatan anak. Adapun foto berseri dapat menunjukkan rangkaian aktivitas secara lebih utuh.

Dalam kegiatan memasak, misalnya, dokumentasi dapat memperlihatkan saat anak mengenali bahan, menyiapkan alat, mencampur bahan, bekerja sama, hingga menceritakan hasil kegiatan.

Bukti-bukti tersebut menjadi dasar penyusunan laporan perkembangan. Dengan cara ini, laporan tidak hanya bersumber dari ingatan atau kesan umum guru, tetapi didukung oleh data yang diperoleh selama proses pembelajaran.

Data asesmen selanjutnya digunakan untuk menyusun laporan perkembangan dan rapor yang memuat capaian pembelajaran, kehadiran, pertumbuhan, kegiatan kokurikuler, muatan lokal, ekstrakurikuler, serta catatan guru.

Melalui akses digital yang disediakan sekolah, orang tua dapat memperoleh informasi mengenai kehadiran, galeri kegiatan, laporan perkembangan, rapor, dan profil anak melalui perangkat digital.

Keterhubungan tersebut membuka ruang komunikasi yang lebih baik antara satuan pendidikan dan keluarga. Orang tua tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi dapat memperoleh gambaran mengenai proses dan perkembangan anak selama mengikuti kegiatan di satuan PAUD.

Sebagai bagian dari kegiatan, peserta menyusun sejumlah produk, antara lain data satuan pendidikan dan peserta didik, pengorganisasian pembelajaran, perencanaan berbasis Pembelajaran Mendalam, asesmen, laporan perkembangan, portofolio digital, serta rencana tindak lanjut.

Produk tersebut dinilai berdasarkan ketepatan data, kesesuaian perencanaan, kemampuan menggunakan platform, kualitas bukti asesmen, dan keterbacaan laporan.

Setelah pelatihan, peserta diharapkan menerapkan hasil pembelajaran di satuan pendidikan masing-masing, menyosialisasikan pengetahuan kepada kepala satuan dan rekan guru, melaksanakan asesmen autentik, serta mendokumentasikan praktik pembelajaran.

Implementasi selanjutnya diperkuat melalui pendampingan, monitoring, dan pelaporan. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti ketika kegiatan di Bandung berakhir, tetapi berlanjut dalam praktik sehari-hari di satuan PAUD.

Keberhasilan pelatihan tidak semata-mata dilihat dari kehadiran peserta atau sertifikat yang diperoleh. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi dalam praktik pembelajaran: perencanaan menjadi lebih jelas, asesmen memiliki bukti yang kuat, teknologi membantu mengurangi pekerjaan berulang, dan anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. AI dapat membantu memberikan inspirasi dan menyusun draf, sedangkan platform digital dapat membantu menata data, dokumentasi, dan pelaporan. Keputusan pembelajaran tetap berada di tangan guru yang memahami kebutuhan anak, memilih pengalaman belajar, membaca respons anak, memberikan dukungan, serta menentukan langkah pembelajaran berikutnya.

Melalui pelatihan ini, Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat menegaskan arah digitalisasi yang tetap berpihak pada anak. Teknologi digunakan untuk membantu guru bekerja lebih tertata, sementara pengalaman bermain, interaksi, keteladanan, dan pendampingan tetap menjadi bagian utama pendidikan anak usia dini.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Iman dan Amal Shaleh dalam Konteks Keindonesiaan Oleh:  Suko Wahyudi, PRM Timuran Indonesia,....

Suara Muhammadiyah

10 December 2024

Wawasan

Memikul Amanah Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta  Al-Qur’an ti....

Suara Muhammadiyah

24 August 2026

Wawasan

Oleh: Hening Parlan Di antara denting lonceng gereja pada Minggu pagi, lantunan doa di wihara saat ....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Wawasan

Praktik Baik Universitas Muhammadiyah Kupang Bina Desa Berkemajuan Oleh: Uslan, Ph.D, Ketua Prodi S....

Suara Muhammadiyah

10 December 2023

Wawasan

Catatan Perjalanan Pulang di Akhir Tahun Oleh; Ahsan Jamet Hamidi Menjelang akhir tahun 2025, saya....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah