KUDUS, Suara Muhammadiyah - Materi bangun ruang yang selama ini banyak dipelajari melalui gambar di buku mulai dikenalkan dengan cara berbeda di SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus. Para guru di sekolah tersebut mendapat pelatihan membuat media pembelajaran berbasis augmented reality (AR) yang memungkinkan objek tiga dimensi ditampilkan melalui perangkat digital.
Pelatihan pertama digelar pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus. Kegiatan ini menjadi tahap awal program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) untuk mengembangkan Ethno-BIAR, atau Buku Interaktif Berbasis Augmented Reality dengan pendekatan etnomatematika. Program tersebut masih akan berlanjut.
Tim PKM UMKU menjadwalkan pelatihan dan pendampingan berikutnya pada 8 dan 15 Agustus 2026. Melalui media Ethno-BIAR, materi bangun ruang nantinya tidak hanya disajikan dalam bentuk tulisan dan gambar. Ketika buku digunakan bersama perangkat digital, objek tiga dimensi dapat ditampilkan sehingga siswa bisa mengamati bentuk bangun ruang secara lebih konkret.
Ketua Tim PKM UMKU, Fida Maisa Hana, mengatakan pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan bahan ajar matematika yang inovatif, interaktif, sekaligus dekat dengan kehidupan siswa. “Melalui media Ethno-BIAR, materi bangun ruang tidak hanya disajikan dalam bentuk teks dan gambar, tetapi juga diperkaya dengan objek tiga dimensi berbasis Augmented Reality yang dapat diamati melalui perangkat digital,” kata Fida saat ditemui Sabtu (1/8/2026).
Guru Dikenalkan dengan Etnomatematika
Tidak hanya teknologi AR, guru juga dikenalkan dengan pendekatan etnomatematika. Konsep matematika dikaitkan dengan budaya dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa. Dalam pengembangan Ethno-BIAR, guru nantinya diarahkan menentukan materi bangun ruang, memilih objek budaya yang relevan, kemudian menyusun konten yang akan dimasukkan ke dalam buku interaktif.
Dengan pendekatan tersebut, konsep bangun ruang yang bersifat abstrak diharapkan dapat dipahami melalui objek yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa. Namun, penerapan teknologi tersebut bukan tanpa kendala.
Fida menyebut perbedaan kemampuan digital antar-guru menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan media Ethno-BIAR. Terutama ketika guru harus membuat objek tiga dimensi dan mengoperasikan teknologi AR.
“Kendala utama dalam implementasi media Ethno-BIAR adalah perbedaan kemampuan digital antar-guru, terutama dalam mengembangkan objek tiga dimensi dan mengoperasikan teknologi Augmented Reality,” ujarnya.
Sekolah Akui Masih Ada Keterbatasan Perangkat
Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus, Rosiana, M.Pd., menilai pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan media pembelajaran. Menurutnya, pemanfaatan AR cukup relevan untuk membantu siswa memahami materi, khususnya bangun ruang.
“Setelah mengikuti pelatihan pembuatan media Ethno-BIAR, kami merasa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru dalam mengembangkan media pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality,” kata Rosiana saat ditemui Sabtu (1/8/2026).
Sekolah, lanjut dia, siap menerapkan Ethno-BIAR secara bertahap dan mendorong guru memanfaatkannya sebagai salah satu alternatif media pembelajaran. Meski demikian, Rosiana mengakui masih ada sejumlah kendala yang perlu disiapkan sebelum teknologi tersebut diterapkan secara optimal.
Di antaranya keterbatasan perangkat yang dimiliki siswa maupun sekolah, kesiapan dan kemampuan guru dalam menggunakan teknologi, serta kebutuhan pendampingan lanjutan.
Pelatihan Berlanjut 8 dan 15 Agustus
Pelatihan pada 1 Agustus bukan menjadi tahap akhir program. Tim PKM UMKU masih akan memberikan pendampingan kepada para guru pada 8 dan 15 Agustus 2026. Tahapan berikutnya mencakup penyusunan konten, pengembangan objek AR, penyempurnaan desain buku interaktif, uji coba media hingga evaluasi produk.
Fida mengatakan pendampingan tersebut diperlukan agar media yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi teknologi, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan guru dan karakteristik siswa sekolah dasar.
Bagi guru, program ini ditargetkan meningkatkan kemampuan dalam merancang dan mengembangkan media pembelajaran matematika. Guru juga diharapkan mampu memilih objek budaya lokal, menyusun konten, serta mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi.
Sementara bagi siswa, Ethno-BIAR diharapkan dapat menghadirkan pembelajaran bangun ruang yang lebih konkret dan menarik. Objek tiga dimensi berbasis AR memungkinkan siswa mengamati bentuk bangun ruang melalui perangkat digital. Program PKM tersebut mendapat dukungan Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Tim PKM UMKU terdiri atas Fida Maisa Hana, M.Kom., Dhina Cahya Rohim, M.Pd., dan Ade Ima Afifa Himayati, M.Sc. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Komputer dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Pengembangan Ethno-BIAR menjadi bagian dari upaya mempertemukan teknologi, konteks budaya lokal, dan pembelajaran matematika di sekolah dasar. Namun, penerapannya masih membutuhkan kesiapan guru, ketersediaan perangkat, serta pendampingan agar teknologi tersebut benar-benar dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.

