Guru Sebagai Fasilitator, Siswa Sebagai Inovator dalam Deep Learning

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

842
Seminar dan Sosialisasi Deep Learning dan TKA, Merawat Kecerdasan dan Karakter Bangsa di UMG (3/11).

Seminar dan Sosialisasi Deep Learning dan TKA, Merawat Kecerdasan dan Karakter Bangsa di UMG (3/11).

GRESIK, Suara Muhammadiyah - Pendidikan di Indonesia sedang mengalami tantangan besar. Bagaimana memastikan proses belajar tidak hanya berhenti pada pencapaian nilai, tapi benar-benar menumbuhkan kemampuan berpikir mendalam yang menggerakkan peserta didik untuk memahami, mengamalkan, serta merefleksikan pengetahuannya dalam kehidupan. Bersamaan dengan itu tes kemampuan akademik memiliki peran strategis untuk memetakan potensi dan mengukur capaian belajar secara adil dan objektif. 

Nur Fauziyah, Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) yang sekaligus sebagai pemateri mengatakan, relevansi Deep Learning sebagai kebutuhan pendekatan pembelajaran sekolah di era transformasi pendidikan sangat diperlukan. Pendidikan di era transformasi menurutnya bukan hanya sebagaimana siswa menghafal dan mempelajari fakta, tapi juga bagaimana guru mendorong siswa untuk berpikir aktif. 

“Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think,” jelas Fauziyah di acara Seminar dan Sosialisasi Deep Learning dan TKA, Merawat Kecerdasan dan Karakter Bangsa pada Senin, 3 November 2025. 

Sebelum sampai pada pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), yang perlu dilakukan oleh guru adalah bagaimana membentuk mindset abad 21. Bahwa pendidikan adalah proses untuk menanamkan keterampilan atau skill yang relevan. 

Di negara-negara dengan kemampuan PISA di atas rata-rata, model atau pendekatan pembelajaran yang digunakan kepada siswa bukan lagi model ceramah, tidak lagi menjelaskan tentang definisi, melainkan mengajak siawa untuk berpikir. Para guru hadir sebagai fasilitator yang menuntun siswa mencari solusi dari permasalahan yang diberikan. 

“Jadi, kalau di Jepang itu, kalau merancang pembelajaran itu tidak memikirkan materi apa yang akan diberikan kepada siswa. Tapi bagaimana menyajikan aktivitas-aktivitas dalam pembelajaran agar siswa bisa memahami sendiri proses belajarnya,”jelasnya kepada seluruh peserta yang terdiri dari guru dan kepala sekolah se Kabupaten Gresik. 

“Mari kita ubah mindset kita sedikit demi sedikit, bahwa kita ini mengajarkan keterampilan hidup, bukan hanya materinya,” tambahnya. 

Dalam pendekatan deep learning ini, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berkolaborasi menyelesaikan permasalahan yang telah disuguhkan. Untuk mendorong ke arah itu, Fauziyah menyampaikan rekomendasinya terkait pembelajaran mendalam di semua tingkatan sekolah. Di antaranya, pelatihan pembelajaran mendalam perlu diberikan kepada seluruh guru di seluruh wilayah Indonesia. Dilakukan secara berkelanjutan dengan pemateri profesional. (diko)

 

 

 

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Tim Ormawa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Farmasi Universitas....

Suara Muhammadiyah

27 August 2024

Berita

OGAN ILIR, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Ogan Ilir sukses menyeleng....

Suara Muhammadiyah

1 March 2026

Berita

MURUNG RAYA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu)....

Suara Muhammadiyah

16 July 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan Upacara Wisuda ....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Raska semestinya bergerak lincah untuk anak seusianya. Perkemban....

Suara Muhammadiyah

11 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah