MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Program Studi Magister Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) menggelar kuliah pakar tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan, Selasa, 7 Juli 2026, di ruang Program Pascasarjana Unismuh Makassar. Kegiatan ini menghadirkan akademisi Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, Prof. Madya Dr. Norwaliza binti Abdul Wahab, untuk membahas peluang, risiko, dan dampak sosial penggunaan AI dalam pembelajaran.
Kuliah pakar tersebut mengangkat tema “AI dalam Pendidikan: Membuka Peluang atau Melebarkan Jurang Sosial?”. Forum ini diikuti dosen dan mahasiswa S2 Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar sebagai ruang refleksi akademik untuk melihat AI bukan hanya sebagai perangkat teknologi, tetapi juga sebagai isu sosial, etika, budaya, dan keadilan pendidikan.
Ketua Program Studi S2 Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar, Kaharuddin, M.Pd., Ph.D., bertindak sebagai moderator. Ia menjelaskan bahwa kuliah pakar ini diarahkan untuk memperkaya perspektif dosen dan mahasiswa dalam mengintegrasikan perkembangan teknologi ke dalam pembelajaran sosiologi.
Menurut Kaharuddin, kehadiran akademisi Malaysia menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik lintas negara. Ia menyampaikan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan budaya, bahasa, dan pengalaman sosial sehingga diskusi tentang AI dan pendidikan relevan dibicarakan bersama dalam konteks serumpun.
Dalam paparannya, Norwaliza mengatakan AI telah menjadi bagian dari kehidupan akademik sehari-hari. Menurut dia, AI dapat membantu dosen dan mahasiswa mencari informasi, merangkum bacaan, menerjemahkan teks, memperbaiki bahasa, hingga menyusun bahan presentasi.
Namun, Norwaliza mengingatkan bahwa AI tidak boleh menggantikan peran manusia dalam berpikir kritis. Ia menilai penggunaan AI tetap harus dikendalikan oleh dosen dan mahasiswa sebagai pengguna, bukan sebaliknya.
“Slide ini disediakan oleh AI. Cuma kita perlu pandu AI ini supaya dia lebih bijak macam kita, bukannya dia lebih bijak daripada kita,” kata Norwaliza dalam kuliah pakar tersebut.
Norwaliza juga menekankan pentingnya verifikasi informasi yang dihasilkan AI. Ia menceritakan pengalamannya ketika meminta AI mencarikan rujukan akademik tentang masyarakat orang asli di Malaysia, tetapi sebagian tautan dan rujukan yang diberikan ternyata tidak benar.
“Kalau prompt betul, betul lah dapatnya. Kalau prompt salah, salah lah dapatnya. Tapi yang penting sekali kita kena double check,” ujarnya.
Menurut Norwaliza, AI dapat membuka peluang belajar lebih luas, tetapi juga berpotensi memperbesar kesenjangan sosial. Ia menjelaskan bahwa peserta didik dari keluarga ekonomi atas memiliki perangkat, internet, dan akses AI berbayar yang lebih baik dibandingkan peserta didik dari keluarga ekonomi bawah.
Ia mencontohkan kategori sosial ekonomi di Malaysia yang dikenal dengan istilah T20, M40, dan B40. Anak dari kelompok T20, kata dia, cenderung memiliki fasilitas belajar lebih lengkap, sedangkan anak dari kelompok B40 sering menghadapi keterbatasan perangkat, akses internet, dan dukungan belajar.
“Kalau anak-anak T20, mereka ada everything. Mereka boleh belajar dengan alat yang lengkap, buku yang lengkap,” kata Norwaliza. “Dibandingkan dengan anak-anak B40, tentu mereka lebih kekurangan.”
Norwaliza mengatakan, dalam perspektif sosiologi pendidikan, dosen dan guru perlu memahami latar belakang sosial peserta didik sebelum menilai hasil belajar. Ia menilai kualitas tugas yang tampak rapi tidak selalu mencerminkan pemahaman mahasiswa, terutama jika mahasiswa terlalu bergantung pada AI.
Karena itu, ia menyarankan dosen tidak hanya menilai produk akhir berupa makalah atau slide. Dosen perlu menguji pemahaman mahasiswa melalui presentasi, tanya jawab, dan kemampuan menjelaskan konsep secara langsung.
“Saya tahu kamu menggunakan AI, it’s okay. Tetapi you must spend some time to read,” kata Norwaliza, menirukan pesan yang biasa ia sampaikan kepada mahasiswanya. “Bila you present, we expect you to be the expert in that topic.”
Ia menilai presentasi dapat menjadi alat untuk membedakan mahasiswa yang benar-benar memahami materi dengan mahasiswa yang hanya menyalin hasil AI. Menurut dia, mahasiswa harus mampu menjelaskan konsep yang digunakan, seperti sosiologi, stratifikasi sosial, dan mobilitas sosial.
“Kalau dia boleh jawab, maksudnya dia memang menggunakan AI dan memahami apa yang dia buat,” ujarnya. “Itu sebabnya saya suka sebelum hantar tugasan, bentang dulu di depan.”
Selain soal tugas individu, Norwaliza menyoroti perubahan pola kerja kelompok mahasiswa. Ia mengatakan, penggunaan AI dan komunikasi digital membuat sebagian mahasiswa hanya membagi tugas melalui aplikasi percakapan tanpa diskusi mendalam.
Menurut Norwaliza, pola tersebut dapat melemahkan kemampuan kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah. Padahal, keterampilan tersebut penting untuk menyiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial.
“Tiada interaksi dalam kumpulan,” katanya. “Bila tiada interaksi, nanti hasilnya tidak ada kesinambungan.”
Dalam sesi diskusi, salah seorang peserta forum, Hadisaputra, menyampaikan kekhawatiran bahwa mahasiswa mulai terlalu bergantung pada AI. Ia mengatakan, mahasiswa kini dapat membuat presentasi, pertanyaan, video, bahkan jawaban diskusi dengan bantuan AI.
Hadisaputra menyampaikan bahwa dirinya tidak menolak penggunaan AI dalam pembelajaran. Namun, ia menilai mahasiswa tetap perlu memiliki dasar membaca, kemampuan teoritik, dan keberanian menjawab secara spontan agar tidak kehilangan kemandirian berpikir.
“Kita tidak akan punya filter untuk memfilter produk AI kalau kita tidak memiliki piranti teoritik,” kata Hadisaputra. “Kemampuan berpikir kritis terbangun dari habituasi membaca.”
Menanggapi hal itu, Norwaliza mengatakan dosen tidak bisa sepenuhnya melarang mahasiswa menggunakan AI. Menurut dia, pelarangan total justru dapat membuat mahasiswa tertinggal dari perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Meski demikian, ia menegaskan perlunya etika, batasan, dan rubrik penilaian yang jelas. Dosen, kata dia, dapat menentukan sejauh mana AI boleh digunakan dalam tugas dan bagaimana mahasiswa harus mempertanggungjawabkan penggunaannya.
“Kita terpaksa membenarkan pelajar menggunakan AI, tetapi berdasarkan etika,” kata Norwaliza. “Boleh guna AI sebagai panduan saja, bukan menggunakan 100 persen hasil AI untuk tugasan.”
Diskusi juga menyinggung hubungan AI dengan budaya lokal. Norwaliza mengatakan, perkembangan teknologi tidak boleh membuat pendidikan tercerabut dari nilai dan identitas budaya masyarakat.
Ia menjelaskan, guru dan dosen dapat memasukkan unsur budaya lokal dalam pembelajaran tanpa harus menunggu kurikulum formal. Menurut dia, budaya perlu dihadirkan dalam ruang kelas agar peserta didik memahami akar sosialnya sekaligus mampu hidup dalam masyarakat yang beragam.
“Budaya sangat penting,” kata Norwaliza. “Kalau bukan kita yang menekankan budaya, siapa lagi?”
Norwaliza mencontohkan pengalamannya meneliti pendidikan masyarakat orang asli di Malaysia. Ia mendorong guru untuk mengaitkan pelajaran dengan budaya peserta didik agar identitas lokal tidak hilang di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Dalam konteks S2 Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar, pesan tersebut sejalan dengan arah penguatan kurikulum yang menempatkan budaya lokal sebagai basis pengembangan akademik. AI, menurut Norwaliza, dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi nilai sosial, komunikasi, dan kemampuan berpikir tetap harus menjadi inti pendidikan.
Menutup kuliah pakar, Norwaliza menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai pendukung pembelajaran. Ia mengingatkan bahwa kampus perlu memastikan inovasi teknologi berjalan seiring dengan keadilan sosial, etika akademik, dan penguatan karakter peserta didik.
“Gunakan AI untuk menyokong pemikiran, bukan menggantikan pemikiran,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi S2 Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar untuk menyusun pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap berpijak pada nilai sosial dan budaya lokal. Forum serupa juga diharapkan dapat memperkuat jejaring akademik Indonesia–Malaysia dalam merespons tantangan pendidikan di era AI.

