Haedar Nashir: Kebangsaan Kehendak Hidup Bersama dalam Konstitusi

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

217
Istimewa

Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, MSi, menegaskan pentingnya memadukan dimensi spiritual keagamaan dengan komitmen kebangsaan dalam merawat Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam Orasi Kebangsaan bertajuk "Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan" saat menerima penghargaan Wartawan Utama Khusus di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8).

Dalam orasinya, Haedar mengutip pemikiran Prof. Mukti Ali bahwa agama berfungsi memberikan makna dan arah dalam kehidupan. Haedar menekankan bahwa Islam lahir dengan tradisi Iqra, sebuah literasi profetik yang melahirkan peradaban.

Lebih lanjut, Haedar menjelaskan empat fungsi utama agama dalam kehidupan berbangsa: sebagai motivasi yang melipatgandakan semangat pengabdian, pusat sublimasi untuk menjaga nilai-nilai luhur dan etika, faktor kreasi yang mendorong inovasi (sebagaimana tajdid Kyai Dahlan), serta kekuatan liberasi atau pembebasan dari berbagai belenggu penjajahan dan ketidakadilan.

“Kita jangan merasa paling suci dalam beragama. Tuhanlah yang paling tahu siapa yang bertakwa,” ujar Haedar mengingatkan agar nilai agama digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk merasa paling benar sendiri.

Terkait aspek kebangsaan, Haedar merujuk pada pemikiran Ernest Renan bahwa bangsa dibentuk oleh kehendak hidup bersama. Kehendak ini telah dikodifikasikan dalam Pancasila dan UUD 1945 sebagai arah menuju negara yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai praktik bernegara saat ini. Haedar menyoroti pentingnya Sila Keempat Pancasila, khususnya nilai hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan. Ia mengingatkan agar para pembuat kebijakan (DPR dan Pemerintah) senantiasa membuka ruang dialog bagi ormas, akademisi, dan tokoh masyarakat sebelum mengambil keputusan besar.

“Dengarkan suara kebenaran dari ormas dan kampus yang masih jernih tanpa terkontaminasi sikap partisan politik. Jangan sampai ketika sudah rusuh baru ingin mendengar,” tegasnya.

Selain itu, Haedar menekankan bahwa tujuan akhir dari integrasi agama dan kebangsaan adalah terwujudnya keadilan sosial. Ia mengimbau agar kekuatan ekonomi dan politik (oligarki) tidak hanya berbagi di pinggiran, tetapi memberikan ruang di tengah agar rakyat merasakan kesejahteraan yang nyata.

Dalam konteks ini, pers harus hadir sebagai pilar keempat yang menyuarakan kebenaran dan titik tumpu (snowball) informasi yang valid di tengah hegemoni kepentingan ekonomi dan politik. Baginya, memadukan rasionalitas duniawi dengan dimensi spiritual adalah tugas kekhalifahan manusia untuk menjaga peradaban bangsa agar tetap berada di jalur yang benar. (Riz)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah - Gedung K.H. Ageng Gribig dan Gedung Administrasi RSU PKU Muhammadiyah J....

Suara Muhammadiyah

16 August 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Paguyuban Sepakbola Usia (PSU) U-40 wilayah DIY dan Jawa Tengah se....

Suara Muhammadiyah

30 January 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Sapen terus mengembangkan relasi dan kolaboras....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan jamaah menghadiri pengajian rutin bulanan Muhammadiyah Ca....

Suara Muhammadiyah

23 July 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Masih dalam suasana semarak Milad yang ke-60 tahun, Ikatan Mahasisw....

Suara Muhammadiyah

27 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah