SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mulyorejo menggelar Kajian Warga Muhammadiyah di Masjid Salman Al Farisi, Surabaya, Ahad (14/6), dengan menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin.
Dalam kajian bertema “Hijrah: Konsistensi dalam Ketaatan” tersebut, Arifin menegaskan, hijrah harus dimaknai sebagai perubahan perilaku menuju kebaikan yang dilakukan secara konsisten dan memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Arifin mengatakan hijrah bukan hanya peristiwa sejarah pada masa Rasulullah SAW, melainkan proses setiap muslim untuk terus memperbaiki diri melalui perubahan sikap, kebiasaan, dan kontribusi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
“Hijrah adalah keberanian untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah. Perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Ia menjelaskan, praktik hijrah dapat diwujudkan melalui kebiasaan seperti salat tepat waktu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memperbaiki pergaulan, serta memanfaatkan waktu secara lebih produktif.
Menurut Arifin, tantangan terbesar dalam berhijrah bukan memulai perubahan, melainkan menjaga konsistensi agar kebiasaan baik menjadi bagian dari karakter seseorang.
“Kita sering ingin berubah secara instan, padahal hijrah adalah proses. Ketika seseorang mulai membiasakan diri datang ke masjid, mengurangi kebiasaan yang tidak bermanfaat, atau lebih peduli kepada sesama, maka sesungguhnya ia sedang menjalani proses hijrah,” katanya.
Arifin juga mengaitkan makna hijrah dengan kerja-kerja dakwah yang dilakukan para dai LDK Muhammadiyah di berbagai komunitas marginal, kawasan terpencil, dan kelompok masyarakat yang selama ini kurang tersentuh pembinaan keagamaan.
"Apa yang dilakukan para dai di komunitas-komunitas marginal maupun pedalaman menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar template atau simbol, melainkan kerja nyata untuk mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik,” tegasnya.
Menurutnya, hijrah tidak cukup dipahami sebagai perubahan penampilan atau simbol semata, tetapi harus tercermin dalam perilaku yang menghadirkan manfaat dan perubahan sosial.
"Para dai LDK harus menunjukkan makna hijrah melalui pendampingan masyarakat, penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa semangat hijrah perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap persoalan umat dan keberanian hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan pendampingan.

