CILACAP, Suara Muhammadiyah - Musyawarah Kafilah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GK HW) STIE Muhammadiyah Cilacap, diadakan di aula kampus STIEMC pada Ahad (7/6/2026).
Musyawarah Kafilah Penuntun Sarbini Qobilah STIEMC dengan tema "Regenerasi Kepanduan Untuk Kepemimpinan Yang Berkualitas."
Ketua Umum GK HW STIEMC terpilih Wildan Ma'ruf Budiyono menyampaikan untuk langkah kedepannya, dilingkungan internal kampus STIEM Cilacap. Ingin mengubah paradigma bahwa HW bukan sekadar organisasi yang latihan baris-berbaris atau berkemah saja.
"Kami akan mengarahkan kader-kader HW untuk menjadi pelopor dalam kedisiplinan, pembentukan karakter mahasiswa yang berakhlak mulia serta aktif dalam mengawal isu-isu lingkungan di kampus," tandasnya.
HW diharapkan menjadi wadah yang melahirkan problem solver bagi dinamika mahasiswa hari ini. Mahasiswa memiliki kemampuan identifikasi masalah, menganalisis akar penyebab serta merumuskan dan mengeksekusi solusi efektif dan realistis.
"Tidak hanya di lingkungan kampus saja, mengingat Cilacap ini wilayah yang kaya potensi. Sekaligus memiliki tantangan lingkungan yang nyata. Ke depan, kami akan menggalakkan program kepanduan yang turun langsung ke akar rumput," urainya.
HW merencanakan aksi nyata seperti tanggap bencana, edukasi kepanduan ke sekolah-sekolah, khususnya qobilah di tingkat sekolah dasar atau menengah serta gerakan peduli lingkungan.
"Aksi konservasi atau penghijauan diwilayah pesisir pantai Cilacap. Pandu HW harus hadir di tengah masyarakat saat dibutuhkan," harapnya.
Pimpinan sidang musyawarah kafilah, Elsa Trianjani menyampaikan bakal calon ketua umum sejumlah 14 mahasiswa dan dipilih 9, kemudian pemilihan secara formatur untuk memilih Ketua dan yang lainnya menempati struktur organisasi seperti: sekretaris, bendahara dan bidang-bidang.
"Tata tertib sidang, penyampaian laporan pertanggungjawaban dan pemilihan ketua umum," katanya.
Wakil Ketua II STIEM Cilacap, Eri Kristanto mengucapkan selamat atas terselenggaranya musyawarah kafilah GK HW STIEM Cilacap. Untuk ketua HW yang baru diharapkan program kerja kedepan tidak boleh lagi sekadar bersifat rutinitas formalitas.
"HW harus mampu mengintegrasikan program-programnya dengan isu-isu lingkungan," jelasnya.
Isu-isu lingkungan seperti deforestasi, sampah dilingkungan pesisir pantai atau isu tentang kerawanan bencana serta tujuan pembangunan berkelanjutan.
"Program yang berdampak bagi masyarakat, khususnya dilingkungan kampus atau bahkan di wilayah Kabupaten Cilacap," harapnya.(Wasis)

