JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Idul Fitri menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam, lebih-lebih di Indonesia.
Selain ada tradisi khas; mudik ke udik (kampung halaman), di saat yang sama, ada pemaknaan menarik di dalamnya.
Dalam ajaran Islam, secara fikih, kata Idul Fitri berarti kembali berbuka atau makan. Bahkan, tegas Abdul Mu’ti, pada 1 Syawalnya, diharamkan untuk menunaikan puasa.
“Karena selama berpuasa kita ini tidak boleh makan dan minum pada siang hari. Setelah Idul Fitri, kita kembali makan, menikmati makan dan minum seperti sebelum kita berpuasa,” jelas Mu’ti.
Dimaknai pula, Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah manusia. Dalam hadis Nabi dikatakan, “Setiap anak yang lahir, lahir dalam keadaan fitrah,” (HR Bukhari).
“Fitrah itu artinya bersih, suci, tidak berdosa; tidak memiliki kesalahan. Karena Islam tidak ada ajaran mengenai dosa warisan,” tegas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Pada bulan Ramadhan, sajian hadis dihidangkan; “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Berpuasa dan ibadah yang lainnya itu bagian dari kita membersihkan jiwa, membersihkan rohani dari segala dosa,” jelasnya, Kamis (19/3) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.
Selama Idul Fitri, umat Islam diperintahkan untuk mengagungkan asma Allah. Hal ini sebagaimana termaktub di Qs al-Baqarah ayat 185.
“Karena itu pada saat Idul Fitri, kita disunahkan untuk bertakbir atau takbiran istilahnya. Dan itu menjadi cara kita merayakan hari raya sesuai dengan tuntunan agama,” bebernya.
Selain itu, menunaikan shalat Id. Dalam kehidupan Nabi, shalat Idul Fitri ditunaikan di lapangan. Juga, ditunaikan di masjid kalau terdapat halangan; hujan, misalnya (HR Bukhari).
“Pada saat Idul Fitri ini karena merupakan hari bahagia maka semuanya itu dianjurkan untuk keluar,” ujar Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Tidak hanya itu, dianjurkan pula untuk berpakaian yang bagus. “Nabi itu selalu mengenakan pakaian yang indah karena itu (Idul Fitri) merupakan hari bahagia, hari bergembira,” sambungnya.
Juga, disunnahkan untuk makan terlebih dahulu. "Karena itu bagian dari syariat," ucapnya. Beberapa hal terbentang di atas niscaya ditunaikan oleh umat Islam sejagat.
Dengan demikian, Idul Fitri bukan tradisi, tetapi, "bagian dari syariat Allah yang kita tunaikan sesuai yang disunnahkan oleh Rasulullah,” tandasnya. (Cris)
