KUDUS, Suara Muhammadiyah - Pesantren Muhammadiyah Kudus kembali menghadirkan ruang kreativitas bagi para santri melalui kegiatan Malam Inagurasi yang digelar pada Kamis, 3 September 2026. Bertempat di Halaman Kampus II Pesantren Muhammadiyah Kudus, kegiatan berlangsung dalam suasana meriah dengan mengangkat tema “Samanvaya Nusantara: Manunggal dalam Ragam Budaya.”
Tema tersebut menjadi representasi semangat kebersamaan yang dibangun di tengah keberagaman kehidupan pesantren. Melalui Malam Inagurasi, para santri diberikan kesempatan untuk menampilkan kemampuan, kreativitas, dan potensi mereka dalam berbagai bentuk penampilan.
Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai sebuah agenda hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan santri. Panggung Malam Inagurasi menjadi sarana untuk melatih keberanian tampil di hadapan banyak orang, membangun rasa percaya diri, mengembangkan kreativitas, sekaligus belajar bekerja sama dalam sebuah kegiatan.
Ketua Panitia Malam Inagurasi, Ghazy Asraf Oemar, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki sejumlah tujuan penting bagi perkembangan santri. Salah satunya adalah memberikan ruang yang lebih luas bagi santri untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Ia berharap Malam Inagurasi dapat menjadi wadah bagi para santri untuk mengekspresikan bakat dan kreativitas secara positif. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan kebersamaan seluruh keluarga besar Pesantren Muhammadiyah Kudus.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap santri dapat memiliki ruang untuk menampilkan bakat, kreativitas, dan potensi yang mereka miliki. Kami juga berharap kegiatan ini dapat mempererat ukhuwah, meningkatkan kepercayaan diri, serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan para santri,” tutur Ghazy.
Menurutnya, kesempatan untuk tampil dan terlibat secara langsung dalam sebuah kegiatan dapat menjadi pengalaman berharga bagi santri. Tidak hanya bagi mereka yang berada di atas panggung, tetapi juga bagi seluruh santri yang terlibat dalam persiapan, kepanitiaan, maupun proses di balik terselenggaranya acara.
Malam Inagurasi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap berbagai karya dan prestasi yang telah dihasilkan oleh para santri. Dengan adanya ruang apresiasi tersebut, santri diharapkan semakin termotivasi untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki.
Apresiasi atas terselenggaranya kegiatan disampaikan oleh Mudir Pesantren Muhammadiyah Kudus, Ustadz Oemar Teguh Sabda Laksana. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghargaan kepada panitia dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan Malam Inagurasi.
Menurutnya, kegiatan yang memberikan ruang bagi santri untuk berkarya dan berekspresi memiliki nilai positif dalam proses pendidikan di pesantren. Santri tidak hanya mendapatkan pembelajaran melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui berbagai pengalaman yang membentuk keberanian, tanggung jawab, kreativitas, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Momen tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memperkenalkan logo resmi Milad ke-25 Pesantren Muhammadiyah Kudus. Pengenalan logo menjadi salah satu bagian penting dalam acara karena Pesantren Muhammadiyah Kudus tengah memasuki momentum perjalanan menuju usia 25 tahun.
Perkenalan logo tersebut menjadi simbol perjalanan dan keberlanjutan perjuangan pesantren dalam menjalankan amanah pendidikan, pembinaan, serta pengkaderan generasi muda. Momentum seperempat abad tersebut diharapkan menjadi pengingat atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus menjadi dorongan untuk terus melakukan perbaikan dan pengembangan di masa mendatang.
Sementara itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kudus, Bapak Noor Muslikhan, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Dalam pesannya, beliau menyampaikan sebuah cerita yang berkaitan dengan perang sebagai bahan refleksi bagi para santri.
Kisah tersebut kemudian diarahkan pada nilai perjuangan dan pentingnya memiliki semangat dalam menghadapi berbagai tantangan. Pesan perjuangan menjadi relevan dengan kehidupan santri yang juga membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, keberanian, serta kesungguhan dalam menjalani proses pendidikan dan pembentukan karakter.
Para santri diajak untuk tidak hanya menikmati kemeriahan kegiatan, tetapi juga mengambil nilai yang terkandung di dalamnya. Semangat kebersamaan dan perjuangan perlu terus dijaga agar para santri mampu tumbuh menjadi generasi yang memiliki ketangguhan dan tanggung jawab.
Setelah menyampaikan sambutan, Bapak Noor Muslikhan kemudian melakukan prosesi simbolis pembukaan Malam Inagurasi. Prosesi tersebut menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian kegiatan Malam Inagurasi Pesantren Muhammadiyah Kudus.
Tema “Samanvaya Nusantara: Manunggal dalam Ragam Budaya” menjadi pesan utama yang mewarnai pelaksanaan kegiatan. Kata Samanvaya menggambarkan semangat menyatukan berbagai unsur dalam sebuah harmoni. Sementara itu, keberagaman budaya yang menjadi bagian dari identitas Nusantara menjadi gambaran bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika disatukan dalam semangat persaudaraan.
Kehidupan pesantren sendiri merupakan ruang perjumpaan bagi santri dengan berbagai karakter, kemampuan, dan latar belakang. Perbedaan tersebut bukan menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan, tetapi justru menjadi bagian dari proses pembelajaran kehidupan.

